Upah Mengajar Agama

Upah Mengajar Agama
Upah Mengajar Agama
Mengajar agama di sebuah lembaga, dengan akad ijarah yang jelas, dengan upah/gaji yang jelas, ini boleh hukumnya menurut jumhur ulama mutaakhkhirin. Dan "mengharap" upah dari akad ijarah seperti ini tak masalah, tak tercela, kecuali bagi yang mengikuti pendapat bahwa ujrah dalam mengajar agama haram secara mutlak.

Ini beda halnya dengan mengisi ceramah, tabligh akbar atau semisalnya yang tidak menggunakan akad ijarah. Pada kondisi ini, prinsip awalnya adalah kewajiban dakwah dan ta'awun 'alal birri wat taqwa, tanpa mengharapkan imbalan, karena memang tidak diakadkan di awal. Pada kondisi ini, menjadikan imbalan atau amplop atau transfer sebagai "target utama", merupakan cela, apalagi jika disertai kejengkelan karena isi amplop tak sesuai harapan.

Ini satu hal.

(Baca Juga : Gara-Gara Lisan Kita!)

Hal lain, kadang sebagian pihak keliru prioritas. Untuk pengisi tabligh akbar atau ceramah tematik (kadang tanpa tema yang jelas), hanya karena namanya sudah tenar dan besar, diberi amplop besar bahkan kadang jor-joran dalam promosi yang tentu juga makan biaya besar. Padahal, hasil dari kegiatan-kegiatan tersebut dalam peningkatan ilmu dan kualitas keislaman tidak terlalu besar.

Sebaliknya, pengisi kajian rutin, baik baca Al-Qur'an, fiqih, bahasa Arab, dll, yang beberapa kali pertemuan sepekan, dengan target yang jelas, dan hasil yang relatif jauh lebih signifikan, hanya "dihargai seadanya". Kadang ditambah dengan nasehat "mengajar agama itu harus ikhlas".

Padahal, seandainya memang kurang dana, maka prioritas gaji atau tunjangan harusnya diberikan ke pengajar kajian rutin tersebut. Sedangkan pengisi tabligh atau ceramah itu, cukup diberi ucapan terima kasih saja.

~ Muhammad Abduh Negara ~

(Baca Juga : Ikuti Sains Atau Al-Quran?)

Tulisan Al-Ustadz Muhammad Abduh Negara hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=2292037231123790&id=100009526051964


EmoticonEmoticon