Biografi Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat



Biografi Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Biografi Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
AlQuranPedia.Org - Beliau adalah Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullah. Beliau adalah di antara da'i senior salafi di Indonesia. Ceramah beliau dari dulu tidak pernah berubah, tegas dan kaya akan ilmu. Materi yang dibahas tidak terlepas dari aqidah dan manhaj. Perjuangan dakwah beliau sangatlah menyahat hati, beliau diejek, dihina, dicaci dan diusir, akan tetapi beliau tidak pernah membalasnya. Kesemua itu sudah menjadi santapan sehari-hari beliau. Kalau berbicara ilmu maka beliau lautan ilmu, tidak ada yang meragukannya baik itu dari da’i salafi maupun murid-muridnya. Beliau sangat produktif dalam menulis, itu dibuktikan dengan banyaknya karya tulis beliau yang bermanfaat, sarat dengan ilmu dan hujjah. Beliau juga ahli di bidang hadits, maka tidak heran banyak karya beliau berkaitan dengan ilmu hadits. Bukan hanya itu, terkadang beliau menilai sendiri derajat suatu hadits, contohnya beliau mengatakan, “saya katakan hadits ini shahih karena begini karena begitu”, tentu saja itu semua berdasarkan kaidah-kaidah ilmu hadits yang beliau pelajari. Maka tidak salah kalau kita mengatakan beliau "pakar hadits" Indonesia.

Beliau bersama Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas adalah pengibar bendera salafi di Indonesia. Hampir semua asatidz salafi belajar kepada mereka berdua. Semua ustadz salafi sangat menghormati mereka berdua, sebagai sahabat, guru, seorang ayah dan penasehat yang baik. Kecuali ada sebagian ustadz yang mengaku sebagai "dai salafi" yang "kurang ajar" terhadap Ustadz Yazid dan Ustadz Abdul Hakim. Mereka menghina dan mencela kedua ustadz ini, padahal dahulu mereka belajar kepada Ustadz Yazid dan Ustadz Abdul Hakim. Semoga Allah beri mereka hidayah.


Salah satu murid beliau, Ustadz Abu Salma Al-Atsary hafidzhahullah, beliau menceritakan, "Guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat senantiasa menasihatkan kami apabila ada perbedaan untuk melakukan:
1. Munashohah (saling menasehati)
2. Munaqosyah (berdiskusi)
3. Mubahatsah (saling membahas dengan ilmu)
Dan beliau mengingatkan kami untuk
1. Tidak mudah mentahdzir
2. Tidak mudah menghukumi (menvonis)
3. Dan tidak saling bermusuhan."

Ustadz Abdul Hakim pernah belajar kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin saat beliau ke Arab Saudi. Beliau pernah menceritakan pengalaman beliau duduk di majelis Syaikh 'Utsaimin sekitar tahun 1998. Ketika itu Syaikh memberikan ceramah tentang akidah, lalu Syaikh mengeraskan suaranya mengatakan "Ainallaaah (Di mana Allah)?". Lantas semua yang hadir di majelis menjawab "Fis samaa' (di atas langit)". Ini menunjukkan fokus Syaikh dalam mendakwahkan tauhid. Diceritakan pula bahwa Ustadz Abdul Hakim pernah bertanya langsung kepada Syaikh 'Utsaimin mengenai turun ketika hendak sujud, apakah tangan atau lutut terlebih dahulu, karena Ustadz Abdul Hakim berpendapat tangan lebih dahulu dan Syaikh berpendapat lutut dahulu, "kenapa Syaikh berpendapat lutut dahulu, bagaimana dengan pendapat Syaikh Al-Albani (yang mengatakan tangan dahulu)?". Kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Lantas Syaikh 'Utsaimin menjawab, "Saya harap kebenaran bersamaku". Lihatlah itu akhlak ulama, menghormati ulama lain jika ada perbedaan di ranah ijtihad, tidak mencela dan tidak merendahkannya. Akhirnya Ustadz Abdul Hakim pun yakin dengan keterangan Syaikh 'Utsaimin dan merajihkan pendapat lutut dahulu.

Beliau pernah mengatakan di majelis hadits Shahih Bukhari yang beliau pimpin yang maknanya adalah bahwa beliau hanyalah lulusan S1 yaitu SD karena “S”nya cuma satu. Beliau tidak lanjut SMP. Beliau memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah formalnya dan memilih untuk fokus belajar agama. Keluasan ilmu dan pemahamannya menunjukkan bahwa pendidikan formal tidaklah menjamin luasnya ilmu seseorang, Ustadz Abdul Hakim adalah salah satu buktinya. Bahkan, betapa banyak mereka yang professor, doktor, gelar banyak, S1, S2, tetapi akidahnya rusak, manhajnya bengkok dan pemahamannya menyimpang. Kita tidak mengatakan kuliah pendidikan formal itu tidak penting, namun penulis menekankan bahwa pendidikan formal tidak menjamin segalanya, sehingga kita tidak boleh menjamin orang-orang yang bergelar banyak sebagai orang yang selamat akidah dan manhajnya, dan kita juga tidak boleh mengecap orang-orang yang tidak bergelar sebagai orang yang ilmunya sedikit. Itu semua dilihat dari bagaimana akidahnya, manhajnya, ilmunya dan pemahamannya.

Guru-guru awal Al-Ustadz Abdul Hakim yakni Kiyai Abdullah Syafi'i di suatu pesantren di Jakarta. Namun ayah Ustadz tidak mengizinkan beliau  untuk berasrama di pesantren tersebut. Menurut ayah beliau, Al-Ustadz pulang hari saja agar bisa mengurus keperluan lain dengan lebih baik. Seingga belajarlah beliau di sana selama beberapa lama. Kemudian dikarenakan suatu hal maka beliau tidak melanjutkannya lagi. Beliaupun pindah tempat belajar ke tempat lain di Jakarta, yang mana sekarang ini tempat tersebut telah menjadi Masjid Istiqlal. Kala itu Masjid Istiqlal belum dibangun. Beliau bersyukur tidak melanjutkan belajar di tempat yang awal karena kalau dilanjutkan mungkin beliau akan berpaham kuburiyyun dan pemahaman sesat lainnya sebagaimana yang dianut kebanyakan masyarakat nusantara.

Beliau belajar banyak ilmu di tempat baru ini, khususnya ilmu Al-Quran dan qiroah. Di antara guru beliau adalah salah seorang pakar Tafsir Al-Quran yaitu Al-Ustadz Muhammad bin Idris. Ustadz Abdul Hakim sempat ditawarkan untuk menjadi qari namun beliau menolak. Beliau mengatakan yang maknanya kurang lebih, "ajarkan saja saya Al-Quran". Begitu tawadhunya beliau hafidzhahullah. Beliau juga belajar ilmu qiroah Al-Quran di tempat yang baru ini sehingga kadang kala kita menjumpai di tulisan beliau menyinggung masalah qiroah.

Kisah-kisah ini sekaligus membantah ucapan sebagian orang jahil -semoga Allah memberi mereka hidayah- yang mengatakan Al-Ustadz Abdul Hakim belajar otodidak dan tidak mempunyai guru. Wallahi ini adalah fitnah yang keji dan kelak di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban.


Ketertarikan Awal Dengan Ilmu Hadits
Adapun ketertarikan awal Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat terhadap hadits diawali dengan kitab Shahih Muslim yang diberikan ibunda beliau rahimahallah. Itu sekaligus menjadi kitab pertama yang beliau miliki. Dari situlah muncul kecintaan beliau terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Diceritakan bahwa beliau banyak menghabiskan waktu di perpustakaan LIPIA. Beliau banyak menghabiskan waktu dengan belajar kitab ulama, mencatat faidah-faidah dan menilai derajat suatu hadits. Meja-meja beliau dipenuhi dengan kitab ulama yang bermanfaat. Alangkah berkahnya waktu dan umur beliau yang diisi dengan ilmu, ilmu dan ilmu.

Kedekatan dengan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Diceritakan pula bahwa di perpustakan LIPIA inilah yang menjadi tempat pertemuan awal beliau dengan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Semenjak saat itu dan sampai sekarang ini pertemanan mereka terjalin begitu eratnya, mereka selalu bersama, baik dalam dakwah dan keteguhan di atas manhaj salaf. Mereka pernah sama-sama berdiskusi dengan beberapa kiyai Aswaja yang diadakan di Jakarta untuk membahas masalah manhaj dan dakwah salafiyyah. Ketika itu mereka berdua hafidzhahumallah masih sangat muda. Bahkan Ustadz Abdul Hakim baru-baru ini menemani Ustadz Yazid ketika Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Bogor, tempat di mana Ustadz Yazid sering mengadakan kajian, diusik oleh sebagian orang yang tidak menyukai dakwah sunnah, yang mana itu berakibat pelaporan ke badan hukum dan terjadi diskusi di sana, maka ketika itu Ustadz Abdul Hakim menemani teman karibnya tersebut. Ustadz Abdul Hakim duduk bersebelahan dengan Ustadz Yazid. Mereka bersama dalam kondisi susah, senang, suka dan duka. Semoga Allah menjaga dua guru kita.

Guru-Guru Beliau
1. Al-Faqih Al-'Allamah Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah
2. Muhammad bin Idris rahimahullah, Pakar tafsir Al-Quran
3. Dan lain-lain

Murid-Murid Beliau
Hampir semua asatidz salafi belajar kepada beliau, di antaranya adalah:
Ustadz Abu Abdil Aziz Muhtarom
Ustadz Abu Qotadah
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri
Ustadz Abu Salma Muhammad bin Burhan Al-Atsary
Ustadz Hartono Ahmad Jaiz
Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi
Ustadz Syafiq Riza Basalamah
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin
Dan lain-lain

Karya-Karya Beliau
Berikut adalah di antara buku dan karya Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat:
1. Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi
2. Hadits-Hadits Dha'if & Maudhu' (1) Hadits 1-250
3. Hadits-Hadits Dha'if & Maudhu (2) Hadits 251-500
4. Al-Masaa'il (Masalah-Masalah Agama) Jilid 1-12
5. Sekali lagi, Haramkah Isbal?
6. Risalah Bid'ah
7. Syarah Aqidah Salaf
8. Al-Islam (Kemudahan & Kesempurnaannya)
9. Iqtishaadiyyah Islamiyyah (Ekonomi Islam)
10. Menanti Buah Hati & Hadiah Untuk yang Dinanti
11. Kitab Zuhud & Riqaaq
12. Hukum Tahlilan
13. Politik Islam Siyasyah Syar'iyyah
14. Sifat Sholawat & Salam Kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
15. Bahayanya Menggunakan dan Mengamalkan Hadits-Hadits Dha'if & Maudhu'
16. Sifat Khutbah Jum'at
17. Surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kepada Sulthan dalam Perang Mongol
18. Kembali Kepada Islam
19. Tiga Hukum Perempuan Haidh & Junub
20. Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin
21. Mencintai Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
22. Alam Jin Menurut Al-Quran dan Sunnah
23. Dampak Maksiat dan Dosa
24. Kisah Ashaabul Kahfi
25. Islam Agama yang Mudah
26. Tafsir Al-Kawaakib
27. Kewajiban Menuntut Ilmu Syar'i
28. Untukmu Anak-Anak Muslimin
29. Firqoh-Firqoh Sesat di Dalam Islam
30. Peristiwa Karbala
31. Fiqih Para Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Dalam Memahami Al-Quran & As-Sunnah
32. Wasiat Emas & Aqidah Syaikh Abdul Qadir Jaelani
33. Perzinaan Ala Agama Syi'ah
34. Rahmatan Lil Alamin
35. Zindiq (Munafiq) Madrasah Orientalis Atau Yahudi Gaya Baru
36. Hadits Arbain 40 Hadits Pilihan Tentang Prinsip dan Manhaj Dalam Beragama

Tulisan dikutip dari berbagai sumber

Itulah sedikit biografi tentang Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullah. Semoga Allah menjaga beliau dan semua ustadz-ustadz kita, melindungi mereka, merahmati mereka dan membalas semua kebaikan mereka. Semoga tulisan ini menambah wawasan kita.


Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 2 Dzulhijjah 1439 Hijriyah/14 Agustus 2018 Masehi.

6 comments:

  1. Assalamu'alaykum...saya tertarik dengan beliau ustadz abdul hakim...apaakah beliau punya pesantren atau rutin memberi kajian? Dimanakah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh

      Beliau memiliki kajian rutin setiap sabtu pagi, Kitab Fathul Bari, Syarah Shahih Al-Bukhari karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani

      Tempatnya di Masjid Al-Mubarak, Jln. Kebahagiaan no.7 A, Taman Sari, Krukut, Jakarta Barat. Tepatnya di belakang Kantor Redaksi Pos Kota Gajah Mada

      Adapun waktunya adalah pukul 08.30 sd. selesai

      Delete
  2. beliau pernah menjadi guru SMA / mengajar di SMA di manggarai Jakarta selatan. namun karena tidak memiliki ijazah formal, bilau tidak bisa melanjutkan mengajar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah. Jazaakallah khairan infonya mas. Srmoga Allah jaga beliau

      Delete
  3. Afwan akh terkait ketika sujud lutut dahulu, ustadz Abdul Hakim merajihkan lutut dahulu?


    Yang ana tau ustadz Abdul Hakim berpendapat bahwa tangan dahulu. Afwan koreksi bila salah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Na'am. Tetapi saya pernah melihat penjelasan pada Kitab Al-Masaa-il Jilid 10 hal.311-315 (Masalah ke 360) karangan Ustadz Abdul Hakim Abdat. Beliau merajihkan lutut dahulu. Allahu a'lam kalau sudah ada perubahan lagi.

      Delete


EmoticonEmoticon