Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts

Adab Penuntut Ilmu Terhadap Dirinya




Adab penuntut ilmu terhadap dirinya terbagi menjadi 10 Bagian :

1. Hendaknya penuntut ilmu mensucikan hatinya dari setiap sesuatu yang memiliki unsur menipu, kotor, penuh rasa dendam, aqidah yang buruk dan akhlak yang buruk.

   Hal itu dilakukan supaya ia pantas untuk menerima ilmu, menghafalkannya, meninjau kedalaman maknanya, dan memahami makna yang tersirat.

Karna sesungguhnya ilmu sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama adalah : {Sholat tersembunyi, ibadah hati, kedekatan batin (kepada Allah)} 

Sebagaimana sholat yang merupakan ibadah anggota badan tidak akan sah kecuali dengan bersuci dari hadats, begitu juga  dengan ilmu yang merupakan ibadah hati tidak akan sah kecuali dengan bersuci dari keburukan sifat, dan kejelekan akhlak. 

2. Niat yang baik dalam menuntut ilmu. 

   Termasuk niat yang baik dalam menuntut ilmu adalah bertujuan dengan ilmu tersebut agar dapat melihat wajah Allah ﷻ, mengamalkannya, menghidupkan syariat, menerangi hatinya, melembutkan batin nya, dekat dengan Allah ﷻ pada hari pertemuan dengan-Nya, dan berlapang dada atas apa yang telah dijanjikan berupa keridhoan Allah ﷻ dan keutamaan yang besar kepada ahli ilmu. 

3. Bergegas untuk mencapai ilmu di Masa muda dan di sisa-sisa umurnya. 

   Para Salaf mengatakan : 
العلم لا يعطيك بعضه حتىٰ تعطيه كلك

"Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum engkau menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. 

4. Hendaknya merasa qonaah dengan makanan seadanya. 

   Karena dengan bersabar atas sempitnya hidup engkau akan mendapatkan luasnya ilmu. 

Imam Syafi'i رحمه الله mengatakan :
لا يطلب احد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذل النفس وضيق العيش وخدمة العلماء أفلح. 

"Bukanlah seseorang yang menuntut ilmu ini dengan kekayaan dan kemuliaan diri kemudian dia berhasil, akan tetapi seseorang yang menuntut ilmu dengan kesempitan hidup dan kehinaan diri lah yang kemudian akan berhasil."

5. Membagi waktu siang dan malam nya. 

   Waktu yang paling Bagus untuk menghafal adalah waktu sahur, membahas kitab di waktu pagi, menulis di tengah hari, mutholaah dan murojaah di malam hari. 

6. Sebab pertolongan terbesar dalam memahami ilmu dan tidak bosan dalam menuntut ilmu adalah dengan memakan makanan yang halal secukupnya saja. 

   Tidak pernah terlihat sosok para penguasa dan para ulama' di puji dikarenakan banyak makan, akan tetapi banyaknya makan hanya akan di puji untuk binatang yang tidak berakal bahkan yang pekerjaannya selalu dipantau. 

Rasulullah ﷺ bersabda : 
ما ملأ ابن آدم وعاء شرا من بطن،  بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه. رواه الترمذي

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.”

7. Mengambil sifat wara' dalam setiap urusannya. 

   Memastikan kehalalan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan seluruh apa yang dibutuhkan dirinya maupun keluarga yang dinafkahi nya ; agar dapat menyinari hatinya, diterima ilmu nya disisi Allah, mendapatkan cahaya ilmu, dan ilmu yang bermanfaat. 

8. Jangan memakan makanan yang menyebabkan kebodohan

   Seyogyanya penuntut ilmu memakan makanan yang dijadikan Allah sebagai sebab berkualitas nya fikiran. Seperti susu, kismis, minuman manis, dll. 

Dan jauhilah hal-hal yang membuat lupa, seperti memakan makanan sisa tikus, berkutu, dan sebagainya dari apa yang telah di teliti oleh ahli kesehatan. 

9. Menyedikitkan tidur selama tidak berbahaya bagi badan dan fikirannya. 

   Jangan menambah waktu tidur siang dan malam nya melebihi 8 jam, yang mana ini sepertiga waktu, dan jika memungkinkan untuk sedikit tidur maka lakukanlah. 

Tidak mengapa seorang penuntut ilmu mengistirahatkan badannya jika takut bosan dalam menuntut ilmu. 

10. Hendaknya tinggalkanlah pergaulan, khususnya bagi yang banyak main nya dan sedikit berfikirnya. 

   Pergaulan yang buruk dapat menghabiskan umurnya dengan hal-hal yang unfaedah, menghabiskan harta, bahkan bisa memalingkannya dari agama. 

Seyogyanya seorang penuntut ilmu tidak bergaul kecuali bersama orang yang kita bisa memberi manfaat kepada nya, dan orang yang bisa kita ambil manfaat darinya.

Demikianlah sedikit penjelasan 10 ADAB PENUNTUT ILMU TERHADAP DIRINYA  yang Semoga bermanfaat dan dapat memahami serta mengamalkan point-point adab di atas, Allahumma aamiin. 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya lah sempurna segala kebaikan, serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad ﷺ

📚Dinukil dari kitab Tadzkirotussaami' wal Mutakallim, Bab Adab Penuntut Ilmu. 

✒️Al Quran Pedia

Kota Binjai,  24 Sofar 1442 H

Ketakutan Ulama Salaf Terhadap Godaan Wanita


Oleh Ustadz Almanazil Billah, Lc hafizhahullah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Imam Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,

لأن أوتمن على بيت مال أحب إلي من أن أوتمن على امرأة

“Aku diberi amanah untuk menjaga Baitul Mal lebih aku sukai daripada aku diberi amanah untuk menjaga seorang wanita.” (Siyar A’lamin Nubala 5/ 77)

Al-Imam ‘Atha rahimahullah berkata,

لو ائتمنت على بيت مال لكنت أمينا ولا آمن نفسي على أمة شوهاء. قلت أي الإمام الذهبي صدق رحمه الله

“Seandainya aku diberi amanah untuk menjaga Baitul Mal tentu aku bisa dipercaya, tapi aku tidak percaya terhadap diriku untuk bisa amanah dalam menjaga seorang budak wanita yang buruk mukanya.”

Al-IImam Adz-Dzahabi mengomentari, “Sungguh benar yang dikatakan beliau, semoga Allah merahmati beliau.” (Siyar A’lamin Nubala 5/87-88)

Al-Imam Adz-Dzahabi juga menyebutkan: Dari Sufyan bin Uyainah, dari Ali bin Zaid, dari Said bin Al Musayyab, beliau berkata,

ما أيِسَ الشيطان مِنْ شيء إلا أتاه مِن قِبَل النساء.
ثم قال لنا سعيد وهو ابن أربع وثمانين سنة وقد ذهبت إحدى عينيه وهو يعشو بالأخرى ما شيء أخوف عندي من النساء

“Tidaklah setan putus asa dari sesuatu kecuali dia akan mendatanginya dari arah wanita.”

Kemudian Said pernah berkata kepada kami, dalam keadan beliau sudah berumur 84 tahun, dan salah satu matanya buta dan yang satunya lagi sudah rabun,

“Tidak ada satu pun yang lebih aku takuti daripada godaan wanita.” (Siyar A’lamin Nubala 4/237)

Al-Imam Adz-Dzahabi juga menyebutkan: Dari Sallam bin Miskin, telah mengatakan kepada kami Imran bin Abdullah Al-Khuzai, beliau berkata berkata, Said bin Al Musayyab berkata,

ما خِفْتُ على نفسي شيئاً مخافةَ النساء ،قالوا: يا أبا محمد! إن مثلك لا يُريدُ النساء ،ولا تُريدُهُ النساء ، فقال: هو ما أقول لكم. وكان شيخاً كبيراً أعمش

“Aku tidak merasa takut terhadap apa pun pada diriku seperti takutnya aku terhadap godaan wanita.”

Mereka bertanya, “Wahai Abu Muhammad, orang seperti Anda memang sudah tidak menginginkan wanita dan wanita pun tidak ada yang mau dengan Anda.”

Beliau berkata, “Inilah yang aku maksudkan di hadapan kalian.”

Yaitu beliau masih takut godaan wanita padahal beliau seorang kakek yang sudah tua yang rabun pandangannya.” (Siyar A’lamin Nubala’ 4/241)

Dari Sahabat Anas bin Malik, semoga Allah meridhainya, beliau berkata,

إذا مرت بك مرأة فغمض عينيك حتى تجاوزك

“Jika ada seorang wanita yang berlalu di hadapanmu maka pejamkanlah matamu hingga dia berlalu pergi.” (Al-Wara’ libni Abi Dunya: 72)

Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridhainya, beliau berkata,

من تضييع الأمانة النظر في الحجرات و الدور

“Di antara bentuk menyia-nyiakan amanah adalah melihat-lihat ke kamar-kamar dan rumah rumah (orang lain).” (Al-Wara, Ibnu Abid Dunya: 71)

Dari Salman Al-Farisi, semoga Allah meridhainya, beliau berkata,

لأن أموت ثم أنشر ثم أموت ثم أنشر ثم أموت ثم أنشر أحب إلي من أن أرى عورة مسلم أو يراها مني

“Aku mati kemudian dibangkitkan kemudian mati lagi dan dibangkitkan kemudian mati lagi dan dibangkitkan itu lebih aku sukai daripada aku melihat auratnya seorang muslim atau dia melihat auratku.” (Az-Zuhd li Ahmad: 192)

Dari Humaid bin Hilal, beliau berkata,

كان منا رجل يقال له الأسود بن كلثوم و كان إذا مشى لا يجاوز بصره قدمه و كان يمر وفي الجدر يومئذ قِصرٌ و هناك نسوة ولعل إحداهن تكون واضعة يعني ثوبها أو خمارها فإذا رأينه راعهن ثم يقلن كلا إنه أسود بن كلثوم

“Dulu ada di antara kami ada seorang pria yang bernama Al-Aswad bin Kultsum. Jika berjalan, pandangannya tidak melewati kakinya (tidak mengumbar pandangan). Suatu ketika dia berjalan melintasi dinding-dinding yang tidak terlalu tinggi saat itu. Dan di sana ada banyak wanita. Dan ada salah seorang dari mereka yang sedang tidak mengenakan bajunya atau cadarnya. Ketika para wanita melihatnya maka membuat mereka merasa ketakutan. Kemudian mereka berteriak, “Oh, tidaaak. Itu Aswad bin Kultsum (padahal ia selalu menundukkan pandangan, apalagi terhadap yang tidak menjaga pandangannya).” (Az-Zuhd li Ahmad: 256)

Hatim rahimahullah berkata,

الشهوة ثلاث شهوات : شهوة في الأكل ، و شهوة في الكلام ، و شهوة في النظر ، فاحفظ الأكل بالثقة ، و اللسان بالصدق ، و النظر بالعبرة

“Syahwat itu ada tiga: Syahwat dalam makanan, syahwat dalam pembicaraan dan syahwat dalam pandangan. Jagalah syahwat makanan dengan amanah, syahwat lisan dengan jujur dan syahwat pandangan dengan mengambil pelajaran.” (Syu’abul Iman lil Baihaqi 5/5712)

Ada yang bertanya kepada sebagian mereka (ulama Salaf),

أين نطلبك في الآخرة؟ قال : في زمرة الناظرين إلى الله قيل له كيف علمت ذلك ؟ قال بغضي طرفي له عن كل محرم ، و باجتنابي فيه كل منكر و مأثم

“Di manakah kami nanti mencarimu di akhirat? Dia menjawab, “Di barisan orang-orang yang melihat wajah Allah.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana Anda bisa mengetahui hal itu ?” Dia menjawab, “Dengan lantaran aku menundukkan pandanganku dari setiap perkara yg diharamkan dan lantaran aku menjauhi setiap kemungkaran dan dosa.” (Lathaiful Ma’arif: 299)

Dari Waki’ rahimahullah, beliau berkata,

خرجنا مع سفيان الثوري في يوم عيد فقال إن أول ما نبدأ به في يومنا غض ابصارنا

“Kami keluar bersama Sufyan Ats-Tsauri di Hari Raya, maka beliau berkata: Sungguh, pertama yang akan kita lakukan di hari kita ini adalah menundukkan pandangan.” (Al-Wara’ libni Abid Dunya: 66)

Dari Abu Hakim rahimahullah, beliau berkata,

خرج حسان بن أبي سنان يوم العيد فلما رجع قالت له امرأته : كم من امرأة حسنة قد نظرت اليوم إليها؟ فلما أكثرت عليه قال : و يحك ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت حتى رجعت إليك

“Hasan bin Abi Sinan keluar di hari Raya, maka tatkala beliau kembali berkatalah istrinya: Berapa banyak wanita cantik yang kamu lihat hari ini?

Tatkala istrinya telah mendesaknya maka ia berkata: Ada apa kamu ini, sungguh aku tidak melihat apa pun kecuali ke arah jari jempolku, sejak aku keluar sampai kembali kepadamu.” (Al-Wara’ libni Abid Dunya: 68)

Dari Al-‘Alaa bin Ziyad rahimahullah, beliau berkata,

لا تتبع بصرك رداء المرأة فإن النظر يجعل شهوة في القلب

“Jangan kamu lihat busana wanita, karena sungguh pandangan akan memunculkan syahwat di hati.” (Az-Zuhd li Ahmad: 311)

Dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, beliau berkata,

كثرة النظر إلى الباطل تذهب بمعرفة الحق من القلب

“Banyak melihat kebatilan, akan menghilangkan ilmu tentang kebenaran dari hati.” (Hilyatul Auliya 2/8)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم



Source : sofyanruray.info

✍🏻 Al Quran Pedia

Pentingnya Meluruskan Niat


Bismillahirrahmanirrahim.. 

   Imam An Nawawi رحمه الله berkata dalam kitab nya Arba'in nawawiyyah :

Pada Hadits pertama :

عن ابي حفص عمربن الخطاب -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: «إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، او امرأة ينكحها، فهجرته إلى ماهاجر إليه»

   Dari Abi Hafsh Umar Bin Khattab -رضي الله عنه- beliau berkata : "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda" : «Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapat sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahi nya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju.»

✒️ (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits : Abu abdillah Muhammad bin ismail bin ibrohim bin mughiroh bin bardizbah al bukhori dan Abu Husain muslim bin hajaj bin muslim al qusyairi an naisaburi dalam dua kitab shahih mereka yang merupakan dua kitab yang paling shahih).

Hadits ini merupakan hadits yang sangat Agung. 

   Imam Syafi'i رحمه الله berkata mengenai hadits ini : "Hadits ini sebanding dengan sepertiga ilmu, dan masuk kedalam 70 bab tentang Fiqih".

   Imam Ahmad رحمه الله juga berkata mengenai hadits ini : "tidak ada satupun hadits Nabi ﷺ yang lebih lengkap, kaya, dan banyak faidah nya daripada hadits ini."

   Imam Ibnu Daqiq 'abd رحمه الله menyebutkan sebab keagungan hadits ini : "Sesungguhnya keberuntungan seorang hamba ada pada hati, lisan, dan anggota badannya, dan niat merupakan bagian dari ketiganya."

   Makna sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapat sesuai apa yang ia niatkan."

⇨ Artinya sah atau tidak sah nya suatu amalan tergantung pada niat nya, maka barangsiapa yang berniat baik maka ganjaran dan pahalanya dari Allah ﷻ, dan barangsiapa yang berniat buruk maka tidak ada baginya ganjaran dan pahala, maka barangsiapa yang berniat sesuatu pasti tidak akan mendapat ganjaran dari selain yang ia niatkan."       

   Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan contoh dari niat : "Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya."

⇨ Artinya barangsiapa yang hijrah nya mengharapkan wajah Allah ﷻ, dan ingin mengikuti (ittiba') Rasulullah ﷺ, maka hijrahnya itu mendapat pahala dan balasan, begitupula dengan seluruh amalan, siapa saja yang beramal diniatkan karena Allah ta'ala maka dia akan di balas pahala. Dan siapa saja yang beramal diniatkan karena dunia, kedudukan, popularitas, sum'ah, maka dia sedikitpun tidak akan dibalas pahala. 

   Dan Sabda Rasulullah ﷺ : "Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahi nya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju."

⇨ Artinya siapa saja yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan, atau seorang wanita yang ingin dinikahi nya maka hijrahnya itu untuk apa yang ia tuju tanpa adanya balasan dan pahala dari Allah ta'ala. Begitupula dengan seluruh amalan, siapa saja yang beramal, baik itu amal ketaatan maupun amalan mubah, jika diniatkan kepada selain Allah ta'ala maka amalan tersebut tidak akan di balas pahala. 

📎Kita ambil faidah dari hadits ini :

   Faidah dari hadits ini merupakan asal diterima nya amalan, yaitu ikhlas, karena Allah ta'ala tidak akan menerima amalan seorang hamba tanpa disertai dengan niat yang lurus. 

   Sebagai contoh, siapa saja yang beramal yakni amalan yang tidak diniatkan untuk mendapat pahala dan ganjaran dari Allah, maka amalannya tidak akan di balas pahala. 

   Begitupula siapa saja yang beramal baik itu amal ketaatan atau yang lainnya, jika diniatkan untuk selain Allah, maka amalannya juga tidak akan di balas pahala. 

   seharusnya supaya seorang hamba ingin mendapat balasan pahala dari apa yang ia amalkan, hendaknya amalan tersebut ia niatkan untuk mengharapkan wajah Allah ﷻ dan mengharapkan balasan pahala dari Allah ta'ala. Dan siapa saja yang beramal yakni urusan dunia nya akan tetapi dia niatkan urusannya tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, maka urusan dunia nya dibalas pahala oleh Allah ﷻ.

Sebagai contoh :
📌berbicara, Tatkala engkau berbicara, jika pembicaraan mu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, seperti untuk menyenangkan kedua orang tuamu, atau untuk menyenangkan salah satu orang muslimin, maka pembicaraanmu itu dihitung pahala. 

   Begitupula amalan duniawi, seperti berdagang, buruh, dll,  jika diniatkan untuk untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdagang agar beruntung, atau agar bisa menafkahi keluarga dari yang halal, maka itu  dihitung pahala. 

   Begitupula saat  menjenguk orang sakit, jika engkau menjenguk orang sakit berharap agar mendapatkan pahala dari Allah, maka itu dihitung pahala. 

   Adapun jika engkau tidak meniatkan segala amalan duniawi mu agar mendapatkan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah, maka amalan duniawi mu itu tidak dihitung pahala. 

   Engkau akan takjub saat membaca kisah keikhlasan para salaf berikut ini :

   Hasan bin abi sinan رحمه الله, istrinya berkata tentangnya : "terkala beliau datang dan masuk ke kamarnya, beliau merangkulku, seperti seorang wanita yang merangkul bayinya, dan ketika dia tau bahwa aku telah tertidur, diapun pelan-pelan pergi untuk sholat."

   Lihatlah keikhlasannya, beliau menunggu istrinya tidur terlebih dahulu kemudian sholat sendirian, sholatnya seperti orang yang banyak dosanya, beliau tidak ingin orang-orang mengetahui dirinya sedang sholat kecuali Allah ﷻ.

   Dan Amru bin Qais رحمه الله yang senantiasa berpuasa selama 20 tahun berturut turut tanpa diketahui keluarganya, beliau mengambil makanannya, lalu pergi ke toko untuk menyedekahkan makanannya, sehingga beliau berpuasa, dan keluarga nya tidak mengetahui itu.

Dan Muhammad bin wasi' رحمه الله : beliau pernah menangis selama 20 tahun, dan istri yang bersamanya tidak pernah mengetahui itu. 

Imam Syafi'i رحمه الله berkata : "aku telah menyuruh orang-orang yang belajar ilmu dariku, agar tidak menisbatkan namaku pada ilmu tersebut satu huruf pun."

Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata : "amal perbuatan tanpa keikhlasan, dan tanpa meneladani Rasulullah ﷺ seperti musafir yang mengisi kantong nya dengan pasir yang banyak sehingga hanya memberatkannya dan tidak bermanfaat baginya." artinya dia banyak beramal namun amalannya tidak dibalas pahala. 

Ya'kub al makfuf رحمه الله berkata : "Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekan nya."

Semoga kita termasuk kedalam orang orang yang ikhlas dari generasi salaf terdahulu. 

Kita cukupkan sampai disini, Segala Puji bagi Allah yang dengan nikmatnyalah sempurna segala kebaikan. 

Sumber : 📚Kitab Syarah Arba'in Nawawiyah

✍🏻 Al-Quran Pedia 

(Diselesaikan pada hari selasa 5 Sofar 1442 H / 22 September 2020 M) 

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dan Ulama Ahlussunnah

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi

AlQuranPedia.Org - Beliau adalah Abul Harits Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi. Beliau lahir di Kota Zarqa, negeri Yordania, 29 Jumadi Ats-Tsani 1380 Hijriyah (1960 Masehi). Beliau adalah ahli hadits, pentahqiq, pentakhrij hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berasal dari Yordania. Beliau termasuk murid yang paling dekat dengan Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah. Beliau menemani Syaikh Al-Albani lebih dari 25 tahun. Banyak sekali sanjungan dan pujian yang diberikan Syaikh Al-Albani kepada Syaikh Ali Hasan Al-Halabi. Keduanya memiliki kedekatan yang sangat sekali. Sampai-Sampai disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab Marzuq Al-Banna, "Syaikh Al-Albani adalah Ibnu Taimiyyah zaman ini, dan muridnya Syaikh Ali Hasan adalah Ibnul Qayyim zaman ini."

Pada tulisan kali ini kita akan sedikit berbagi mengenai dokumentasi dari Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ali Hasan Al-Halabi bersama para ulama lainnya. Simak di bawah ini.

 Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr

 Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Para Ulama Lainnya
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Para Ulama Lainnya

 Dari Kiri : Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dan Syaikh Akram Ziyadah
Dari Kiri : Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dan Syaikh Akram Ziyadah

 Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh Ali Adam Al-Itsyubi (Ethiopia)
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh Ali Adam Al-Itsyubi (Ethiopia)

 Dari Kiri : Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri, dan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Dari Kiri : Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Syaikh Sa'ad bin Nashir Asy-Syatsri, dan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Shalih Alu Syaikh
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Shalih Alu Syaikh

 Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dengan Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily

 Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbad Al-Badr (Ahli Hadits Madinah)
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama Syaikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbad Al-Badr (Ahli Hadits Madinah)

Itulah dokumentasi ataupun foto-foto dari Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabi bersama para ulama lainnya. Semoga Allah menjaga beliau dan seluruh para ulama ahlussunnah di mana saja mereka berada. Semoga Allah jaga mereka dari makar dan fitnah yang berusaha menyerang mereka.

Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 9 Dzulqa'idah 1441 Hijriyah/30 Juni 2020 Masehi.

Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan

Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan
Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan

AlQuranPedia.Org – Matan-matan ilmiyyah merupakan bagian daripada ilmu yang telah diwariskan oleh para ulama kita sejak dahulu. Mutun atau matan-matan ilmiyyah ini bisa berupa matan kitab aqidah, kitab fiqih, kitab hadits bahkan kitab lughoh. Kita melihat bahwa menghafal matan adalah tradisi dari para ulama kita, menghafalnya mengokohkan pondasi ilmu kita dan meremehkannya adalah peremehan terhadap ilmu. Dengan menghafal, kita akan lebih mudah memahami kitab-kitab ulama, kalam ulama dan untaian-untaian hikmah dari para ahli ilmu. Sehingga dengan itu kita pun dapat mengamalkan ilmu secara maksimal.


Pertanyaan diajukan kepada Faqihuz Zaman, Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah : Penuntut ilmu pemula mungkin mengalami kesulitan untuk menghafal, maka apa nasihat Anda mengenai itu?

Jawaban : Na’am, menurutku penuntut ilmu pemula hendaknya antusias menghafal matan karena sebagaimana aku katakan masa muda tidak akan lupa (mudah untuk menghafal). Menghafal matan adalah ilmu. Dan jangan perhatikan ucapan orang yang berkata, “Ilmu adalah pemahaman”. Ini kekeliruan! Karena tidaklah Allah memberi kita manfaat melainkan dengan apa yang pernah kita hafal di masa muda sehingga kita bisa menyebutkan ungkapan-ungkapan yang dulu pernah kita hafal. Oleh karena itu engau akan dapati orang-orang yang hanya bersandar dengan pemahaman, tidak memiliki ilmu. Sungguh terjadi, karena mereka tidak bersandar pada apapun. (selesai dari rekaman tanya jawab beliau).

Nasehat yang sangat agung ini hendaknya diperhatikan oleh kita kaum muslimin. Jangan sampai kita terperdaya dengan ucapan sebagian orang yang mengatakan “tidak penting menghafal, yang penting faham”. Hendaknya kita mengatakan “menghafal itu penting, dan pemahaman juga penting”. Dengan menghafal ilmu itu akan lebih membekas, lebih kekal dan lebih mudah difahami. Dan sekali lagi ini merupakan kebiasaannya para ulama kita, dari sejak dahulu hingga sekarang. Kita lihat bagaimana kokohnya ilmu mereka disertai hafalan yang luar biasa. Kita lihat ada Imam Bukhari yang hafal ratusan ribu hadits, ada Imam Ahmad yang hafal satu juta hadits, ada Imam Syafi’i yang hafal Muwatho’ Imam Malik sedari kecil. Untuk zaman sekarang ada Syaikh Dr. Amir Bahjat (beliau keturunan dari Syaikh Ahmad Al-Minangkabawi), kemudian ada Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi dan banyak lagi ulama-ulama lainnya. Mereka semua memiliki perhatian dalam menghafal ilmu, baik itu Al-Quran, Hadits maupun matan-matan ilmiyyah.

Tetapi ada baiknya untuk memprioritaskan menghafal Al-Quran terlebih dahulu, karena inilah metode para ulama kita yang diwariskan kepada hingga sekarang. Dan ini pulalah yang dinasehatkan oleh para ulama kita. Hampir-hampir tidak ada ulama yang tidak hafal Al-Quran 30 juz. Karena Al-Quran adalah sumber utama ilmu, di mana tidak ada yang dapat menyainginya dari perkataan siapapun.


Al-Imam Ibnu Jama’ah rahimahullaah mengatakan, “Hendaklah (penuntut ilmu) memulai dengan Kitabullaahil `Aziiz, menghafalkannya dengan mutqin (betul-betul matang), bersungguh-sungguh memahami tafsirnya, dan semua ilmunya (ilmu Al-Quran). Karena,  Al-Quran adalah pokok ilmu, induknya, dan yang paling penting”. (Kitab Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim hal. 167-168)

Setelah menghafal Al-Quran, memutqinkannya, benar-benar menguasainya, lalu silahkan menghafal hadits-hadits ataupun matan-matan ilmiyyah dari karangan para ulama kita. Semoga Allah menganugerahkan kita semangat untuk menghafal ilmu, terutama dalam menghafal Al-Quran dan kitab-kitab para ulama. Semoga bahasan sederhana ini bermanfaat.

Diselesaikan pada 26 Syawwal 1441 Hijriyah/18 Juni 2020 Masehi.

Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir

Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir
Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir

AlQuranPedia.Org – Penulis pernah mendapat ceramah dari seorang ustadz hafidzhahullah bahwa beliau mengatakan penamaan Jamaah Tahdzir itu tidak diperbolehkan dengan beberapa sebab yang beliau utarakan. Perlu diketahui Jamaah Tahdzir adalah penamaan yang diberikan kepada mereka yang ghuluw terhadap tahdzir, di mana tahdzir-tahdzir mereka banyak sekali tidak dibangun di atas hujjah yang kuat dan ilmiyyah. Kalau pun mereka mempunyai hujjah maka hujjah tersebut lemah dan dapat dijawab secara ilmiyyah. Tahdzir yang mereka dengung-dengungkan pun banyak mengenai permasalahan khilaf ulama. Misalnya dalam perkara foto, video, suatu yayasan, seorang ulama dan perkara lainnya. Padahal ini ranah khilaf.

Betul ada ulama yang keras dengan keharaman foto seperti Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Muhammad Al-Imam, banyak masyaikh Yaman serta masyaikh lainnya hafidzhahumullah. Tetapi ada pula ulama yang berpendapat bolehnya foto dengan menjelaskan bahwa tashwir berbeda dengan foto. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khutslan hafidzhahullah.


Sama halnya dengan dakwah melalui video ataupun sejenisnya. Ada sebagian ulama yang memilih berdakwah tidak dengan video seperti Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair dan lainnya. Bahkan seperti Syaikh Rabi’ cukup keras dalam masalah ini. Tetapi sebagian ulama bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit berdakwah dengan video seperti Syaikh Shalih As-Suhaimy, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily, Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, dan lainnya. Bahkan meskipun Syaikh Shalih Al-Fauzan didapati fatwa tidak memperbolehkan dakwah melalui video akan tetapi didapati banyak kita jumpai video ceramah beliau baik di internet, youtube atau lainnya. Dan itu bukan hanya video siaran langsung saja, tetapi ada yang seperti video rekaman di suatu studio dan direncanakan, dan beliau insya Allah sadar akan hal ini.

Kita melihat meskipun mereka para ulama berbeda pendapat, tetapi tidak pernah kita dapati di antara mereka saling mencela, melabeli dengan laqob-laqob yang buruk, bahkan sampai mentahdzir dan mengeluarkannya dari ahlussunnah. Ini berbeda dengan mereka “Jamaah Tahdzir” yang mana mereka tidak segan-segan mentahdzir dan mentabdi’ bagi yang tidak sependapat dengan mereka, padahal banyak di antaranya dikarenakan perkara khilafiyyah. Siapakah yang mereka ikuti? Ulama mana yang mereka ikuti dalam hal ini? Syaikh Rabi’, Syaikh Abdullah Bukhari, Syaikh Muhammad Bazmul? Sepertinya tidak. Allahul Musta’an. Lalu mengenai laqob Jamaah Tahdzir ada sedikit faidah yang penulis dapat dari Al-Ustadz Muhammad Alif hafidzhahullah.

Pertanyaan ditanyakan kepada Al-Ustadz Muhammad Alif, Lc hafidzhahullah:
“Kalau jamaah tahdzir apa ada pengistilahannya dari ulama ya ustadziy? Atau ada ulama yang mendahului laqob tersebut? Sebab bagi sebagian besar dari mereka yang ‘merah jambu’ lebih sering menggunakan laqob ini untuk melabeli orang-orang yang mentahdzir mereka dari pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna ataupun Sayyid Qutub. Bahkan terkadang mereka memberi istilah lain kepada jamaah tahdzir dengan laqob “madkholiyyun”. Agar tidak terjadi kekeliruan di kalangan ikhwah salafiyyin tentang istilah jamaah tahdzir.”


Al-Ustadz Muhammad Alif, Lc hafidzhahullah menjawab:
1. Sebagian masyayikh biasa menyebut orang-orang yang melampui batas/serampangan dalam mentahdzir saudara mereka dari kalangan salafiyyin dengan sebutan "Ghulatu Haddadiyah atau Atba' Haddadiyah". Maka sebutan jamaah ghulatu tajrih, tahdzir wa tabdi' terhadap mereka yang serampangan dalam mentahdzir salafiyyin adalah boleh dan juga dibenarkan oleh sebagian masyayikh, bahkan ini lebih ringan dari pada sebutan "Ghulatu haddadiyah".

Sebagaimana mereka mengelari saudara-saudara mereka salafiyyin lainnya yang tidak sepakat dengan suatu fatwa/permasalahan dengan mereka disebut dengan mumayyi'ah atau jamaah tamyi'.

2. Kadang suatu ungkapan bisa saja di pakai ahlis sunnah untuk mereka yang menyimpang, tetapi juga kadang dipakai oleh ahlul bida'/orang yang menyimpang terhadap salafiyyin. Maka:

العبرة بالحقائق لا بالمسميات

Seperti ungkapan jamaah tahdzir, tajrih wa tabdi' kadang dipakai oleh harokiyun/"merah jambu " untuk mengelari salafiyin yang membantah kelompok mereka dan tokoh-tokoh mereka yang menyimpang. Atau gelar Murji’ah disematkan oleh takfiriyin kepada salafiyyin. Padahal laqob Murji’ah juga dipakai para ulama untuk menggelari mereka  yang menafikan amalan daripada iman.

3. Adapun laqob madkhaliyun/madakhilah maka ini telah dibantah para ulama, tidak benar. bahkan Syaikh Rabi' hafidzahullah sendiri berlepas diri dari gelar tersebut.

4. Kita sepakat dalam menyikapi harokiyyin/ahlul bida' yang jelas-jelas penyimpangan mereka di luar Manhaj Salaf, tetapi yang jadi masalah adalah sikap sebagian dari salafiyyin kepada salafiyyin lainnya yang berselisih dalam perkara-perkara ijtihadi kemudian disikapi seperti mensikapi harokiyyin/ahlul bida'. Ini yang menimbulkan tahdzir, tajrih, tabdi' serampangn, apalagi tidak dibangun diatas ilmu dan adab khilaf.
(selesai jawaban al-ustadz)

Kemudian Ustadz Muhammad Alif hafidzhahullah menambahkan, “Meskipun mereka mentahdzir dan membid’ahkan kita, tetapi kita tetap menganggap mereka saudara-saudara kita ahlis sunnah tetapi memiliki sikap ghuluw dalam bab ini.”


Semoga faidah ringkas ini bermanfaat.

Diselesaikan pada 26 Syawwal 1441 Hijriyah/18 Juni 2020 Masehi.

Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?

Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?
Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?

AlQuranPedia.Org – Gunung Tihamah adalah salah satu gunung yang terletak di negeri Yaman. Gunung Tihamah ini adalah gunung yang tinggi dan besar. Gunung ini disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam salah satu haditsnya yang mulia.

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini hasan)

Hadits yang mulia ini menyebutkan tentang seseorang yang bermaksiat di kala sepi. Sungguh dahsyat sekali dampak yang didapat bagi kita yang berani memaksiati Allah di kala sendirian, di saat tidak ada seorang pun yang bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya seperti orang yang berbuat amal sangat banyak seperti besarnya gunung Tihamah lalu Allah jadikan amal tersebut seperti debu yang bertebaran.

(Baca Juga : Hari H nya Kiamat)

Mungkin timbul di benak kita kenapa kok bisa seperti itu, amal yang susah payah kita kerjakan malah dijadikan debu yang bertebaran. Jawabannya sederhana, karena ketika itu kita menganggap Allah lebih rendah dari manusia, lebih rendah dari siapapun. Kita takut manusia melihat dosa yang kita lakukan di kala sepi, entah itu melihat yang haram, mendengar yang haram ataupun melakukan yang haram. Kita takut bila kita ketahuan melakukan maksiat. Sehingga kita pun menutup pintu kamar kita rapat-rapat. Bila kita melihat yang haram dengan handphone kita di kamar kita, lalu seseorang tiba-tiba masuk ke kamar kita, maka kita pun bersegera mematikan handphone kita, mengganti tampilannya dan menutup rapat-rapat apa yang telah kita lihat.

Kita seolah-olah mengecilkan Allah Yang Maha Besar, mengabaikan Allah Yang Maha Melihat dan Mengetahui. Ketika kita bermaksiat, kita takut manusia melihat kita, tetapi kenapa kita tidak takut kepada Allah? Padahal Allah adalah satu-satunya Dzat yang paling berhak kita takuti. Kita tahu Allah Maha Melihat,  tetapi kenapa kita seolah beranggapan Allah tidak Melihat kita? Takutlah kita kepada Allah wahai saudaraku...

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. An-Nisaa’: 108).

Tidak takutkah kita kepada Allah? Tidak takutkah kita kepada adzab Allah yang pedih? Tidak takutkah kita amal sholat, puasa, baca Al-Quran, sedekah yang selama ini kita kerjakan dijadikan Allah debu yang beterbangan? Tidak takutkah kita bila tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawa kita? Ingat bahwa malaikat maut itu mencabut nyawa tidak pandang bulu. Kapan saja, siapa saja, di mana saja, malaikat maut bisa mencabut nyawa kita seketika itu juga.

Betul, maksiat itu lezat, nikmat dan enak. Tetapi itu hanya bersifat sementara. Setelah itu penyesalan dan penyesalan. Ingatlah bahwa maksiat akan mengundang teman-temannya. Sekali kita melakukannya maka kita akan tergoda melakukannya terus-menerus. Sulit untuk keluar dari kubangan dosa dan maksiat, apalagi bila itu mendarah daging. Karena setiap satu dosa yang kita lakukan, itu akan menimbulkan noda di hati kita. Itu akan terus bertambah dan bertambah seiring bertambahnya dosa yang kita lakukan. Semakin banyak noda maka akan semakin sulit untuk bersihnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan)


Memang di zaman ini sangat mudah sekali bermaksiat di kala sendiri. Cukup menggerakkan jari kita untuk mengetik lalu keluarlah apa-apa yang diharamkan Allah Jalla Jalaluh. Jangan beranggapan tidak apa bermaksiat sekali lalu bertaubat. Wahai saudaraku, apakah ada jaminan kita masih hidup setelah bermaksiat kepada Allah? Tidak ada. Malaikat maut tidak menunggu kita sudah bertaubat atau belum. Tidakkah kita membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kelak kita akan berdiri di hadapan Allah dan dihisab?

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Maka bertaubatlah kita kepada Allah. Takutlah kita kepada Allah. Sudahi maksiat-maksiat yang pernah kita kerjakan. Semua yang pernah kita kerjakan kelak akan dihisab oleh Allah Ta’ala, termasuk mata, tangan, bahkan handphone kita kelak akan dihisab. Jangan sampai kita kelak termasuk ke dalam firman Allah di bawah ini.

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (20) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (21) وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (22)

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Fushshilat : 20-22)


Penulis teringat pesan di salah satu ceramah Al-Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, Lc hafidzhahullah. Beliau mengatakan, “Ingat 2 ayat ini sebelum anda bermaksiat, dan keduanya ada di surah Al-‘Alaq” Lalu beliau membacakan Surah Al-‘Alaq ayat 8 dan ayat 14.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). (Q.S. Al-‘Alaq : 8)

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (Q.S. Al-‘Alaq : 14)

Ini adalah faidah yang sangat besar sekali yang diberikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin hafidzhahullah. Ayat ke 8 seakan-akan menjelaskan bahwa kita kelak akan dikembalikan kepada Allah, tidakkah kita mengetahui itu? Kita kelak akan dikembalikan lalu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang sudah kita kerjakan semasa hidup di dunia. Kita akan dihisab, maksiat-maksiat kita kelak akan ditimbang. Kemudian ayat 14 seolah-olah ingin menyampaikan bahwa Allah itu melihat kita, termasuk maksiat kita, apakah kita tidak malu, apakah kita tidak takut kepada Allah? Lantas apakah kita masih mau bermaksiat setelah mengetahui kedua ayat ini?

Sebagai penutup mari kita renungi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bawah ini.

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu’ah : 8)

Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 17 Syawwal 1441 Hijriyah/8 Juni 2020 Masehi.