Hukum Seputar Hari Raya

Hukum Seputar Hari Raya
Hukum Seputar Hari Raya

A. Hukum Sholat Al-‘Id[1]

Ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat ‘id menjadi tiga pendapat:

Pendapat pertama : hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap muslim), ini adalah pendapat madzhab Imam Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Syafi’i, riwayat dari Imam Ahmad dan sebagian madzhab Malikiyah serta pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khon, Syaikh Al-Albani rahimahumullahu.

Dalil-dalil mereka adalah:

a. firman Allah ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka laksanakanlah sholat karena RabbMu, dan berkurbanlah”.[2]

Perintah dalam ayat ini adalah menunjukkan wajib, dan maksud sholat dalam ayat ini adalah sholat ‘id.[3]

b. firman Allah ta’ala:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah engkau mengagungkan Allah atas petunjukkaNya yang diberikan kepadamu, agar engkau menjadi orang yang bersyukur”.[4]

Dalam ayat ini Allah perintahkan untuk bertakbir di hari raya maka mencakup perintah kewajiban sholat ‘id adalah lebih utama.

c. Nabi salallahu alaihi wasallam senantiasa melaksanakannya dan tidak pernah meninggalkannya sekalipun, begitu juga para khalifah sesudahnya senantiasa melaksanakannya.

d. Nabi salallahu alaihi wasallam perintahkan kaum muslimin untuk keluar menuju musholla (tanah lapang) sampai-sampai Nabi salallahu alaihi wasallam juga perintahkan wanita-wanita yang sedang haid dan para gadis untuk keluar menuju tanah lapang, bahkan yang tidak memiliki pakaian/jilbab tetap Nabi salallahu alaihi wasallam perintahkan ikut keluar dan meminjam jilbab saudarinya, tetapi bagi yang sedang haid agar sedikit menjauh dari tempat sholat. Ini menunjukkan bahwa perintah tersebut menunjukkan wajib untuk sholat bagi yang tidak memiliki udzur syar’i dan kewajiban tersebut lebih utama lagi bagi kaum laki-laki, seperti yang dinyatakan Al-Imam Siddiq Hasan Khon dalam kitabnya.[5]

e. sholat ‘id adalah termasuk syiar-syiar islam terbesar yang nampak, maka hukumnya adalah wajib seperti halnya sholat jum’at.

f. sholat ‘id dapat mengugurkan kewajiban sholat jum’at jika bertepatan dengan hari jum’at, oleh karena itu tidak ada yang bisa mengugurkan suatu kewajiban kecuali dengan kewajiban yang semisalnya.

(Baca Juga : 19 Ayat Al-Quran Tentang Akhlak)

Pendapat kedua: hukumnya fardhu kifayah (jika sudah ada yang melaksanakan maka gugur kewajiban tersebut bagi yang lain), ini adalah madzhab Al-Hanabilah dan sebagian madzhab Syafi’iyah rahimahumullahu.

Dalil-dalil mereka adalah seperti dalil-dalil yang dijadikan pegangan pendapat pertama, tetapi mereka memberikan tambahan bahwa tidak wajib kepada setiap individu muslim dan muslimah karena tidak disyari’atkan adzan dan iqomah, maka tidaklah wajib bagi setiap individu seperti sholat jenazah.

Pendapat ketiga: hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), ini adalah madzhab Malik dan Syafi’i serta pendapat kebanyakan pengikut keduanya rahimahumullahu.

Dalil-dalil mereka adalah:

1.     sabda Nabi salallahu alaihi wasallam kepada seorang Al-A’robi ketika dia bertanya tentang islam, maka Nabi menjawab: menyebutkan kewajiban sholat lima waktu, ia bertanyak lagi apakah masih ada kewajiban sholat kepadaku? Maka Nabi menjawab:

لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ

“tidak, kecuali sholat-sholat sunnah”.[6]

2.     sholat ‘id adalah memiliki ruku’ dan sujud tidak disyari’atkan adzan diawalnya, maka tidaklah wajib hukumnya seperti sholat duha.

Disini dapat disimpulkan bahwa hukum sholat ‘id adalah wajib atas setiap individu (fardhu ain) menurut pendapat yang rojih/kuat, berdasarkan dalil-dalil yang kuat. Dan seyogyanya bagi setiap muslim untuk tidak meninggalkan syiar-syiar islam terlebih lagi sholat yang datangnya hanya satu tahun dua kali. Wallahu a’lam.

B.    Waktu Sholat ‘Id

Abdullah bin Busr radiyallahu anhu seorang shohabat Nabi salallahu alaihi wasallam pernah keluar bersama orang-orang pada hari ‘idul fithri atau ‘idul adha, maka ia mengingkari lambatnya imam dan berkata:

إنَّا كُنَّا قَدْ فَرَّغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِينَ التَّسْبِيحِ

“sesungguhnya kita telah kehilangan waktu kita ini, dan yang demikian itu tatkala tasbih (yakni waktu dibolehkannya sholat sunnah duha, ketika telah lewat waktu diharamkannya sholat)”.[7]

Dari hadits diatas para ulama menyebutkan bahwa waktu sholat ‘idul fithri dan ‘idul adha adalah setelah tingginya matahari seukuran tombak sampai tergelincir matahari. dan yang paling utama saholat ‘idul adha dilakukan diawal waktu agar orang-orang dapat menyembelih hewan kurban mereka, sedangkan sholat ‘idul fithri diakhirkan agar orang-orang dapat membayar zakat fithri mereka, Bahkan ini merupakan ijma’ para ulama. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Imam Siddiq Hasan Khon rahimahullahu dan Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafidzhohullahu ta’ala.[8]

Jika tidak diketahui kapan hari ‘id kecuali setelah zawal (tergelincirnya matahari) maka ini adalah udzur dan sholat ‘idnya dikerjakan keesokan pagi hari. Ini adalah madzhab jumhur ulama (mayoritas ulama) Al-Hanafiyah, As-Syafi’iyah, Al-Hanabilah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umair bin Anas dari paman-pamannya yang termasuk shohabat Nabi salallahu alaihi wasallam, ada beberapa orang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bersaksi :

أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلاَل بِالأَمْسِ فَأَمْرَهُمْ أَنْ يَفْطُرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهِمْ

“Bahwa mereka melihat hilal (tangal 1 syawal) kemarin, maka Nabi perintahkan mereka untuk berbuka dan pergi ke tanah lapang keesokan pagi hari”.[9]

C.     Tempat Sholat ‘Id

Tempat sholat ‘id adalah musholla (tanang lapang), dan bukan masjid. Berdasarkan riwayat dari shohabat Abi Sa’id Al-Khudri radiyallahu anhu, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفُطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ

“Adalah Rasulullah salallahu alaihi wasallam keluar pada hari ‘idul fitri dan adha ke musholla (tanah lapang), maka pertama kali yang beliau mulai adalah sholat”.[10]

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang lain menunjukkan sunnahnya sholat ‘id di tanah lapang, seperti riwayat dari Abdullah bin Umar, Al-Barro’ bin Aazib, Abdullah bin Abbas radiyallahu anhum dengan sanad yang shohih.

Adapun sholat ‘id di masjid dibolehkan jika ada udzur syar’i seperti hujan, angin yang sangat kencang atau bagi orang-orang tua yang tidak mampu lagi pergi menuju tanah lapang.[11]

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya 1/180, Ibnu Majah dalam sunannya 1/194, Al-Hakim dalam mustadroknya 1/295,  dan Al-Baihaqi dalam sunannya 3/210 dari Abu Hurairah radiyallahu anhu yang menceritakan bahwa Nabi salallahu alaihi wasallam pernah sholat ‘id di masjid karena hujan adalah hadits dhoif (lemah), karena di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Isa bin Abdil A’la bin Abi Farwah dia adalah majhul (tidak diketahui) dan gurunya yang bernama ‘Ubaidullah At-Taimy juga majhul hal (tidak diketahui keadaanya) sebagaimana dinyatakan Al-Hafidz Ad-Dzahabi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahumallahu ta’ala, sehingga para ulama hadits mendhoifkannya seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab “talkhis al-habir” dan “bulugul marom”, begitu juga Al-Imam Al-Albani rahimahumullahu dalam risalahnya “sholatul ‘idain fil musholla hiya as-sunnah hal. 32. maka tidak bisa dijadikan pijakan hukum, sehingga kembali kepada hukum asal yaitu sholat ‘id di tanah lapang sesuai petunjuk Nabi salallahu alaihi wasallamdan para  shohabatnya radiyallahu anhum.

Bahkan sebagian ulama seperti madzhab Malik rahimahullahmenyatakan hukumnya bid’ah  sholat ‘id di masjid, kecuali ada udzur syar’i maka tidak mengapa.[12]

Sebagian Ulama mengecualikan bolehnya sholat ‘id di masjidil haram dan masjid nabawi.[13] waAllahu a’lam

D.    Adakah adzan dan Iqomah untuk sholat ‘id?

Tidak disunnahkan adzan dan iqomah untuk sholat ‘id, bahkan hukum adzan untuk sholat ‘id adalah bid’ah.[14]Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas dan Jabir bin Abdillah radiyallahu anhum.

لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الفُطْرِ وَلَا يَوْمَ الأَضْحَى

“Tidak pernah ada adzan untk sholat ‘idul fithri dan ‘idul adha”.[15]

Dan dari Jabir bin Samuroh radiyallahu anhu ia berkata: “ aku pernah sholat (‘id) bersama Nabi salallahu alaihi wasallam bukan hanya sekali atau dua kali, tanpa ada adzan dan iqomah”.[16]

E.     Sifat sholat ‘id

Sholat ‘id adalah dua raka’at dan ada dua belas takbir didalamnya, tujuh kali takbir diraka’at awal setelah takbirotul ihrom dan lima kali takbir dirakaat kedua sebelum membaca al-fatihah, sebagaimana yang dicontohkan Nabi salallahu alaihi wasallam.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي العِيدَيْنِ: فِي الأُولَى سَبْعًا قَبْلَ القِرَاءَةِ، وَفِي الآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ القِرَاءَةِ

“Bahwa Nabi salallahu alaihi wasallam bertakbir pada shalat ‘id tujuh kali dirakaat pertama sebelum membaca (al-fatihah) dan lima kali dirakaat selanjutnya (rakaat kedua)”.[17]

Dan dari Aisyah radiyallahu anha ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّم كَانَ يُكَبِّرُ فِي الفِطْرِ وَالأَضْحَى ، فِي الأُولَى سَبعَ تَكبِيرَاتٍ ، وَفِي الثَانِيةِ خَمسًا سِوَى تَكْبِيرِ الرُكُوعِ

“Bahwa Rasulullah salallahu alaihi wasallam bertakbir disholat ‘idul fithri dan adha pada rokaat pertama tujuh kali takbir dan dirakaat kedua dengan lima takbir, tidak termasuk takbir ruku’”.[18]

Adapun bacaan doa dan dzikir dalam sholat ‘id adalah sama dengan bacaan dalam sholat-sholat yang lain, hanya dalam sholat ‘id disunnahkan setelah al-fatihah untuk membaca surat Qoff dirakaat pertama dan surah Al-Qomar pada rakaat kedua. Seperti yang diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdillah radiyallahu anhu.[19]

dan dalam riwayat yang lain disunnahkan membaca Surat Al-A’la dan Al-Ghosyiyah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh shohabat An-Nu’man bin Basyir radiyallahu anhu ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي العِيدَيْنِ وَفِي الجُمْعَةِ، بسَبِّحِ اسمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

“Adalah Rasulullah salallahu alaihi wasallam membaca dalam sholat ‘id dan jum’ah dengan sabbihisma robbikal a’la dan hal ataaka haditsul ghosyiyah”.[20]

F.     Sunnahkah mengangkat tangan disetiap takbir dalam sholat ‘id?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat menjadi dua kelompok:

a. Pendapat pertama: disunnahkan mengangkat tangan dalam setiap takbir. Ini adalah madzhab Al-Hanafiyah, Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, dan pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh Sholeh Al-Fauzan.[21]

Berdasarkan riwayat dari Abdillah bin Umar dan dari Umar bin Khottob radiyallahu anhuma:

أَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهُ مَعَ كَلِّ تكبيرة فِي الجَنَازَةِ وَفِي العِيدِ

“Bahwa ia (Abdullah bin Umar) mengangkat tangan setiap takbir dalam sholat ‘id dan sholat jenazah”.[22]

b. Pendapat kedua: tidak disunnahkan mengangkat tangan dalam setiap takbir, kecuali takbirotul ihram saja. Ini adalah madzhab Al-Malikiyah, At-Tsauri, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf dan pendapat Al-Imam As-Syaukani dan Syaikh Al-Albani rahimahumullahu ta’ala.[23]

karena tidak ada dalil yang shahih dari Nabi salallahu alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat tangan disetiap takbir shalat ‘id kecuali takbirotul ihram, adapun yang diriwayatkan dari Umar dan putranya (Abdullah bin Umar) maka tidak bisa dijadikan dasar disunnahkannya mengangkat tangan, karena riwayat dari Umar bin Khottob sanadnya dhoif (lemah), sedangkan Imam Malik berkata tentang riwayat tersebut bahwa : aku (Malik bin Anas) tidak pernah mendengar sedikitpun tentang itu.

Pendapat kedua ini yang lebih rajih/kuat.[24] Wallahu a’lam

G.    Khutbah setelah sholat ied

Disunnahkan setelah sholat bagi Imam untuk berkhutbah satu kali dan bukan dua kali seperti khutbah jum’at, khutbah yang dilakukan dengan dua kali seperti khutbah jum’at adalah tidak benar karena dasar haditsnya dhoif (lemah). Berkutbah dengan berdiri diatas tanah dan tanpa memakai mimbar. itulah yang dicontohkan Nabi salallahu alaihi wasallam dan para al-khulafa’ar-rosyidin radiyallahu anhum.[25]

Dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma ia berkata:

شَهِدْتُ العِيدَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، فَكَلُّهم كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الخُطْبَةِ

“Aku pernah sholat ‘id bersama Nabi salallahu alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar dan Utsman radiyallahu anhum, maka mereka semua melaksanakan sholat sebelum khutbah”.[26]

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang lain menunjukkan bahwa khutbah ‘id adalah setelah sholat, adapun jika dilakukan sebelum sholat maka hukumnya bid’ah dan menyalahi sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi salallahu alaihi wasallam dan para shohabatnya radiyallahu anhum. Adapun orang yang pertama kali yang berkhutbah ‘id sebelum sholat adalah Marwan rahimahullah kemudian diingkari oleh para ulama pada masa itu dan setelahnya karena menyelisihi sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sunnah para shohabat.[27]

sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thariq bin Syihab radiyallahu anhu ia berkata:

أَخْرَجَ مَرْوَانُ المِنْبَرَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَبَدَأَ بِالخَطَبَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا مَرْوَانَ خَالَفْتَ السُّنَّةَ أَخْرَجْتَ المِنْبَرَ فِي يَوْمِ عِيدٍ وَلَمْ يَكُنْ يُخْرَجُ فِيهِ وَبَدَأْتَ بِالخَطَبَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ

“Marwan mengeluarkan mimbar pada hari ‘id, ia memulai khutbah sebelum shalat, maka seseorang berdiri  sambil berkata: wahai Marwan! Engkau telah menyelisihi sunnah, engkau mengeluarkan mimbar pada hari ‘id sedangkan Nabi dan para shohabat tidak pernah mengerjakannya dan engkau memulai khutbah sebelum sholat”.[28]

Dan disunnahkan bagi khotib untuk menyampaikan nasehat-nasehat kepada kaum muslimin dengan seruan bertaqwa kepada Allah, mengajak kepada aqidah yang benar dan amalan-amalan sholeh serta memperingatkan kaum muslimin dari perbuatan syirik, bid’ah dan amalan-amalan yang mengugurkan pahala. Dan juga dianjurkan agar menyampaikan nasehat-nasehat khusus kepada wanita-wanita muslimah dengan kebaikan. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi salallahu alaihi wasallam.

H.    Hukum mendengarkan khutbah

Hukum mendengarkan khutbah ‘id adalah sunnah dan tidak wajib, akan tetapi jika seseorang mendengarkan khutbah niscaya dia akan mendapatkan manfaat dan ilmu serta ikut menampakkan syiar-syiar islam dalam sholat ‘id.

Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin As-Saib radiyallahu anhu ia berkata:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العِيدَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ: إنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلخُطَبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Aku pernah menyaksikan sholat ‘id bersama Nabi salallahu alaihi wasallam, maka tatkala selesai sholat beliau berkata: sesungguhnya kami akan berkutbah, barang siapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka hendaklah ia tetap duduk, dan barang siapa yang ingin pergi maka hendaknya ia pergi”.[29]

(Baca Juga : 24 Ayat Al-Quran Tentang Tsamud)

I.       Adakah sholat sunnah sebelum sholat ‘id?

Adapun sholat sunnah sebelum sholat ‘id maka tidaklah disunnahkan dan tidak ada contoh dari Nabi salallahu alaihi wasallam dan para shohabatnya, bahkan ini meyelisihi apa yang dicontohkan Nabi salallahu alaihi wasallam, sebagaimana riwayat dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

“Bahwasanya Nabi salllahu alaihi wasallam sholat ‘idul fithri dua raka’at dan tidak pernah sholat sebelum dan sesudahnya”.[30]

Adapun jika sholat ‘id dilaksanakan di masjid karena ada sebab udzur syar’i maka disunnahkan untuk sholat dua rakaat ketika masuk masjid Karena ini termasuk sholat tahiyyatul masjid, Ini adalah para Ulama termasuk Al-Imam Ibnu Baz rahimahullahu ta’ala.[31]

sebagaiman sabda Nabi salallahu alaihi wasallam:

إِذَا دَخَلَ أحدُكمُ المَسْجِدَ، فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia sholat dua rakaat”.[32]

J.       Hal-hal yang disunnahkan pada hari ‘id[33]

Diantara sunnah-sunnah Nabi salallahu alaihi wasallam pada hari ‘id adalah:

1.     Mandi.  Dari Ali bin Abi Tholib radiyallahu anhu ia pernah ditanyak tentang disunnahkan mandi, maka beliau menjawab:

يَوْمُ الجُمْعَةِ وَيَوْمُ عرفةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَيَوْمُ الفُطْرِ

“pada hari jum’ah, hari arafah, ‘idul adha dan ‘idul fithri”.[34]

Dan dari Nafi’ rahimahullah ia berkata: “bahwa Abdullah bin Umar radiyallahu anhuma biasa mandi pada hari ‘idul fitri sebelum pergi ke musholla (lapangan)”.[35]

2.     Memakai sebaik-baik pakaian yang ia miliki. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radiyallahu anhuma ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ العِيدِ بردةً حَمْرَاءَ

“Adalah Rasulullah salallahu alaihi waallam pada hari ‘id beliau memakai pakaian tebal merah”.[36]

3.     Makan beberapa makanan pada ‘idul fithri sebelum keluar ke tanah lapang. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

“Adalah Rasulullah salallahu alaihi wasallam tidak keluar pada hari ‘idul fithri sampai beliau memakan beberapa kurma”.[37]

4.     Mengakhirkan makan pada hari ‘idul adha sampai selesai sholat. Diriwayatkan dari Buraidah radiyallahu anhu ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ النَّحْرِ حَتَّى يَنْحَرَ

“Bahwa Rasulullah salallahu alaihi wasallam tidak keluar (ke lapangan) pada ‘idul fithri sampai beliau makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari ‘idul adha sampai beliau menyembelih (kurban)”.[38]

5.     Menyelisihi jalan (antara pergi dan kembali). Sebagaimana yang dicontohkan Nabi salallahu alaihi wasallam, berkata Jabir radiyallahu anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ، خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Adalah Nabi salallahu alaihi wasallam apabila hari ‘id beliau menyelisihi jalan (membedakan antara jalan pergi ke lapangan dengan kembalinya)”.[39]

6.     Memperbanyak takbir pada hari ‘id. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”.[40]

Dan firman Allah ta’ala:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya”.[41]

Adapun waktu mulai takbir ‘idul fithri adalah ketika hendak keluar menuju musholla (tanah lapang) dan terus memperbanyak takbir sampai sholat akan dilaksanakan. Sebagaimana yang diriwayatkan Nafi’ rahimahullah dari Abdillah bin Umar radiyallahu anhuma ia berkata: “Adalah Rasulullah salallahu alaihi wasallam keluar menuju  sholat ‘idain bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Tholib, Ja’far, Al-Hasan, Al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah dan Aiman bin Ummi Aiman radiyallahu anhum, seraya mengeraskan suara dengan tahlil (mengucapkan lailaha illaAllah) dan takbir (mengucapkan Allahu Akbar)”.[42]

Sedangkan waktu melantunkan takbir pada hari ‘idul adha adalah pagi hari pada hari arofah sampai waktu ashar akhir hari tasyriq. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radiyallahu anhum dengan sanad shohih.[43]

7.     Memberi ucapan selamat kepada orang lain.

Menugucapkan kalimat selamat pada hari raya atau ucapan “taqabbala Allahu minna wa minkum” dibolehkan, karena terdapat riwayat dari sebagian shahabat radiyallahu anhum mereka saling mengucapkannya.[44]

(Baca Juga : 14 Ayat Al-Quran Tentang Penyakit)

Wallahu a’lam.
(@lif/TP Cairo/29 ramadhan 1431 H/ 8 september 2010 M).

Bahan pustaka:
1.     Al-Wajiz fi fiqhi as-sunnah wa al-kitab al-aziz, Syaikh DR. Abdul Adhzim Badawi, dar Ibnu Rajab, cet. Keempat, th. 1430 H 2009 M, Egypt.
2.     Shohih fiqh as-sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim, al-maktabah at-taufiqiyah, Cairo-Egypt.
3.     Tamam al-minnah fi fiqhi al-kitab wa shohih as-sunnah, Syaikh Adil bin Yusuf Al-Azzazi, muassasah al-qurtubah, cet. Ketiga, th. 1427 H 2006 M, Egypt.
4.     Tamam al-minnah fi at-ta’liq ala fiqhi as-sunnah, Syaikh Al-Imam Al-Albany, dar ar-royah, cet. Kelima, th. 1419 H 1998 M, Jeddah-KSA.
5.     At-Ta’liqot ar-rodiyyah ala ar-roudoh an-nadiyah, Syaikh Al-Imam Al-Albany, dar ibn qoyyim, cet. Kedua, th. 1428 H 2007 M, Riyadh-KSA.
6.     Al-Mulakhos al-fiqhi, Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan, tanpa penerbit dan tahun, KSA.
7.     Al-Ijaz fi ba’dhi ma ikhtalafa fihi Al-Albany wa Ibni Utsaimin wa Ibni Baz, Syaikh DR. Sa’ad bin Abdillah Al-Buraik, tanpa penerbit, cet. Pertama, th. 1430 H 2009 M.
8.     Al-Mausu’ah al-fiqhiyah al-muyassaroh, Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisah, al-maktabah al-islamiyah, cet. Pertama, th. 1423 H 2002 M, Amman-Ordon.
9.     Sholatul ‘iedain fi al-musholla hiya as-sunnah, Syaikh Al-Imam Al-Albany, al-maktab al-islamy, cet. Ketiga, th. 1406 H 1986 M, Beirut.

[1] Shahih fiqhus sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Salim 1/598-599, tamamul minnah, Syaik Al-Albani hal. 344, Al-wajiz fi fiqhi as-sunnah wa al-kitab al-aziz, Syaikh DR. Abdul Adhim Badawi hal. 186 dan al-fiqhu al-muyassar, hal. 102.

[2] QS. Al-Kautsar: 2.

[3] at-ta’liqot ar-rodiyah ala ar-roudoh an-nadiyah 1/379.

[4] QS. Al-Baqoroh: 185.

[5] Ar-roudah an-nadiyah 1/379.

[6] HR. Bukhori no. 46 dan Muslim no. 11 dari Tholhah bin Ubaidillah radiyallahu anhu.

[7] HR. Abu Dawud no. 1135 dan Ibnu Majah no. 1317 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani, dari Yazid bin Khumair Ar-Rohaby rahimahullahu ta’ala.

[8] Ar-roudoh an-nadiyah, Al-Imam Shiddiq Hasan Khon 1/386-387, dan al-mulakhos al-fiqhi, Syaikh DR. Shaleh Al-Fauzan 1/269, shahih fiqhi as-sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Salim 1/600.

[9] HR. Abu Dawud no. 1157 dan Ibnu Majah no. 1653 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani.

[10] HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889.

[11] Shahih fiqhu as-sunnah 1/601 dan al-fiqhu al-muyassar hal. 102.

[12] Sholatul ‘idain fi musholla hiya as-sunnah oleh Al-Imam Al-Albani hal. 34.

[13] Majmu’ fatawa wa maqolat, Syaikh Ibnu Utsaimin 16/231.

[14] Shahih fiqhu as-sunnah 1/606.

[15] HR. Bukhari no. 960 dan Muslim no. 886.

[16] HR. Muslim no. 887 dan At-Tirmidzi no. 532.

[17] HR. Tirmidzi no. 536 dan Ibnu Majah no. 1279 dari Katsir bin Abdillah bin Amri bin Auf dari Ayahnya dari Kakeknya dengan sanad shohih, dishahihkan Syaikh Al-Albani.

[18] HR. Abu Dawud no. 1149 dan Ibnu Majah no. 1280 dengan sanad shohih, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam al-irwa’ no. 639.

[19] HR. Muslim no. 891.

[20] HR. Muslim no. 878.

[21] Al-Majmu’ syarhul muhadzab, Imam An-Nawawi 5/26, syarhul mumti’, Syaikh Ibnu Utsaimin 5/138-139 dan majmu’ fatawa wa rosail, Syaikh Ibnu Utsaimin 16/239-240 dan 244, dan al-mulakhos al-fiqhi, Syaikh Shaleh Al-Fauzan 1/272.

[22] HR. Al-Baihaqi dalam sunannya 3/293.

[23] Al-Majmu’ syarhul muhadzab, Imam An-Nawawi 5/26, nailul authar, Imam As-Syaukani 5/55, tamamul minnah, Syaikh Al-Albani hal. 348-349.

[24] dirojihkan oleh Guru kami Syaikh Adil bin Yusuf Al-Azazi hafidzohullahu ta’ala dalam kitabnya “tamamul minnah fi fiqhi al-kitab wa shohih as-sunnah” 2/44. Guru kami Syaikh Abu Malik Kamal Salim hafidzohullahu ta’aladalam shahih fiqhis sunnah 1/606. dan  penulis yang dhoif ini lebih condong ke pendapat yang kedua.

[25] Shahih fiqhis sunnah 1/607.

[26] HR. Bukhari no. 962 dan Muslim no. 884.

[27]  ar-roudhoh an-nadiyah, Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khon 1/384.

[28] HR. Muslim no. 889 dan Abu Dawud no. 1140.

[29] HR. Abu Dawud no. 1155, Ibnu Majah no. 1290 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani.

[30] HR. Bukhari no. 964 dan 989, Tirmidzi no. 537.

[31] Majmu’ fatawa wa maqolat mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz 13/14.

[32] HR. Bukhari no. 1164, 444 dan Muslim no. 714 dari Abu Qatadah bin Rib’i Al-Anshari radiayllahu anhu.

[33] Al-wajiz fi fiqhi sunnah wal kitabil aziz, Syaikh DR. Abdul Adhim Badawi hal. 188-189. Shahih fiqhi as-sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Salim 1/602-605. Al-fiqhu al-muyassar hal. 104-105.

[34] HR. As-Syafi’i dalam musnadnya no. 114 dengan sanad, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam al-irwa’ 1/177.

[35] HR. Malik dalam muwattho’ no. 426, Syafi’i dalam musnadnya no. 73 dan Abdurrazzaq As-Shon’ani dalam al-mushonnafnya no. 5754 dengan sanad shohih.

[36] HR. At-Thabrani dalam al-ausat. Berkata Al-Haitsamy dalam majma’ az-zawaid 2/201: rowi-rowinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam as-shahihah no. 1279.

[37] HR. Bukhari no. 953.

[38] HR. Tirmidzi no. 542,  Ibnu Majah no. 1756 dan Ibnu Hibban no 2812, dishahihkan Syaikh Al-Albani.

[39] HR. Bukhari no. 986.

[40] QS. Al-Baqoroh: 185.

[41] QS. Al-Baqoroh: 203.

[42] HR. Al-Baihaqi 3/279 dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahumallahu dalam al-irwa’ 3/123.

[43] HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-mushonnafnya 2/165, Al-Baihaqi dalam sunannya 3/314, dan Al-Hakim dalam mustadroknya 1/300, lihat. Al-irwa’ Syaikh Al-Albani 3/125.

[44] Ringkasan dari fatwa Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ta’ala, lihat. Shahih fiqhis sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Salim 1/608-609.

Tulisan Al-Ustadz Muhammad Alif, Lc hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=260828011153535&id=100016790144202


EmoticonEmoticon