Showing posts with label Tulisan Para Ustadz. Show all posts
Showing posts with label Tulisan Para Ustadz. Show all posts

Sampaikan Salamku Kepada Ahlussunnah

Ustadz Ammi Nur Baits dan Ustadz Zaid Susanto
Ustadz Ammi Nur Baits dan Ustadz Zaid Susanto

Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Nizar Sa'ad Jabal, dan Ustadz Khalid Basalamah
Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Nizar Sa'ad Jabal, dan Ustadz Khalid Basalamah

Syaikh Muhammad bin Hadi dan Syaikh Shalih Al-Fauzan
Syaikh Muhammad bin Hadi dan Syaikh Shalih Al-Fauzan

Terlihat pegangan tulus dari sosok Ustadz Ammi Nur Baits kepada Ustadz Zaid Susanto.

Senyuman tulus dan keakraban dari Ustadz Kholid Basalamah, Ustadz Nizar Sa'ad Jabal dan Ustadz Firanda..

Begitu juga keakraban antra Syaikh Sholih Fauzan dan Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali حفظهم الله.

(Baca Juga : Kenapa Harus Pemahaman Para Sahabat)

Tidak pernah para masyaikh dan asatidzah kita mengajarkan kebencian,permusuhan dan saling meremehkan da'i lain meski berbeda cara pandang.

Adapun terkadang saling membantah antara da'i satu dengan yang lain adalah hal biasa. Telah terjadi dari zaman dahulu, ini salah satu keindahan Ahluussunah. Jika ada seorang ulama dari 'Iraq menulis buku menyelisisi usul Ahlssunnah atau keliru maka dibantah oleh ulama dari Mekkah, ulama dari Mesir menulis dibantah oleh ulama Yaman. Ustadz pekanbaru menulis buku yang keliru dibantah oleh ustadz dari jawa, dari jakarta dibantah oleh Ustadz asal Papua. Sunnatullah memang, Allah menjaga kemurniah Islam melalui para ulama.

Mungkin kita saja yang terkadang mudah baper, atau kurang legowo dalam menerima keritikan. Namun kita harus belajar, karena orang besar itu selalu siap dikritik.

Imam Fudhail bin 'Iyadh رحمه الله berkata:

اذا بلغت عن رجل بالمشرق انه صاحب السنۃ,فابعث عليه السلام,فقد اقل اهل السنۃ

" Jika engkau menjumpai seorang dari Ahlussunnah di timur [belahan Bumi], tolong sampaikan Salamku kepada mereka, sungguh jumlah Ahlussunnah saat ini sedikit ". ( شرح اصول اعتقاد اهل السنۃ )

- Jangan pernah menganggap keritikan saudaramu tanda ungkapan kebencian darinya -

Wallahu A'lam..

(Baca Juga : Kapan Rasulullah Menangis?)
______
* Ada satu nama dalam Foto tersebut yang saya belum mengenalnya, atau mungkin saya lupa. Mohon penjelasannya.
___________
Daarul Hadist-Yaman

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=132619197775135&id=100030811651129

Penuntut Ilmu Adalah Tamu Rasulullah

Penuntut Ilmu Adalah Tamu Rasulullah
Penuntut Ilmu Adalah Tamu Rasulullah

Selamat datang wahai penuntut ilmu, engkau adalah pewaris para Nabi, malaikat dan makhluk Allah mendoakan kebaikan bagimu, engkau adalah tamu Rasulullah yang wajib dimuliakan, letihmu adalah ibadah, penamu adalah pedang terhunus, hujjahmu adalah senjata bagi Ahlul bid'ah.

Engkau bagai rembulan yang menerangi, obat bagi yang sakit, cermin bagi manusia..

(Baca Juga : Hadits Ciri-Ciri Fisik Rasulullah)

Inilah 8 poin yang semestinya senantiasa diingat oleh penuntut ilmu, yang saya ringkas sebagai hadiah bagi diri saya dan Sahabat yang mencintai ilmu. Dari kitab Fathul Kariim Al-Manaan Fii Adaabi Hamalatil Qur'an, karya Imam Abu Bakar Al-Ajuri رحمه الله .

1. Wajib bagi penuntul ilmu mengikhlaskan niatnya dalam menuntut ilmu.

2. Membersihkan hatinya dari penyakit hati. (hasad, ujub, sombong dll).

3. Wajib bagi Penuntul ilmu memandang gurunya dengan pandangan penuh penghormatan.

4.  Hendaklah penuntut ilmu saat bersama sang guru penuh ketenangan, menerapkan adab-adab, memuliakannya. Dan tidak lupa bersikap tawadhu kepadanya walaupun sang guru lebih muda dari sisi usia.

5. Jangan memberikan isyarat menggunakan tangannya kepada sang guru.

6. Jangan berbicara tentang orang yang merendahkan "Sang guru" di hadapannya.

7. Jangan berkata kepada seorang guru "(Syaikh/Ustadz) Fulan telah berkata menyelisihi pendapatmu".

8. Jika mendapati guru sedang tidur, atau sibuk dengan sesuatu yang penting. Jangan mengganggunya dengan meminta izin, namun bersabar sampai ia bangun, atau menyelesaikan urusannya.

(Baca Juga : 14 Ayat Al-Quran Tentang Pendidikan)

Baarakallah Fiikum..
______________
Daarul Hadist-Yaman

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=149129772790744&id=100030811651129

'Aisyah Putri Abu Bakar, Figur Istri Shalihah

'Aisyah Putri Abu Bakar, Figur Istri Shalihah
'Aisyah Putri Abu Bakar, Figur Istri Shalihah

'Aisyah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنهما berkisah:

كنت ارجل راس رسول صلی الله عليه وسلم وانا حاءض

"Suatu ketika aku pernah menyisir rambut Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam, saat itu aku dalam kondisi haidh" (HR. Bukhari 295)

Rumah tangga kenabian begitu indah, meski dipenuhi dengan goresan suka duka, air mata dan perjuangan dalam perjalanan dakwah. Namun demikian, ada kisah-kiasah menarik pada rumah tangga Rasulullah yang dapat dipetik sebagai pelajaran bagi kehidupan suami istri.

(Baca Juga : 7 Ayat Al-Quran Tentang Sutera)

Hadist di atas menunjukan betapa hormat serta perhatian 'Aisyah kepada suami (Rasulullah), sampai rambut sang suami pun disisirkan olehnya.

Belajar dari kepepedulian dan kecintaan 'Aisyah kepada seorang suami, sesibuk apapun seorang istri hendaklah berusaha untuk mencari ridho Allah dengan melayani suami. Tentu semua karena iman dalam hati..

Menjadi seorang istri memang berat, harus mengurus anak-anak, membersihkan rumah, memasak dan mencuci pakaian, ditambah harus melayani suami. Namun, dibalik rasa lelah ada surga bagi istri yang taat dan memberikan hak kepada suaminya.

• Ustadz Armen Halim Naro Lc. رحمه الله di salah satu ceramahnya pernah berkata : "Jadilah (istri) pelayan bagi suaminya, niscaya seoraag istri akan menjadi raja di hadapan suami ".

'Aisyah juga wanita cerdas dan Ahli ilmu, beliau tempat para sahabat dan tabi'in meminta fatwa berkaitan agama.

(Baca Juga : 26 Ayat Al-Quran Tentang Akhirat)

Baarakallah Fiikum..

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=149244912779230&id=100030811651129

Para Doktor Bukan Tolak Ukur Kebenaran

Para Doktor Bukan Tolak Ukur Kebenaran
Para Doktor Bukan Tolak Ukur Kebenaran

"Para doktor tidak menjamin keilmuannya luas dan Manhajnya benar, gelar hanya tanda lulus saja ". Seperti itu kira-kira status yang banyak lewat di beranda Facebook saya. Lalu disamakan dengan DR. Sa'id Agil Siraj. Tidak nyambung sekali..

Ucapan di atas bisa benar, tergantung kepada siapa ditujukan: Namun saya berfikir, jika para doktor yang lebih dari 10 tahun belajar bersama para ulama di kampus dan duduk di Majelis para ulama yang diakui ilmu dan Manhajnya saja bisa salah dan belum tentu ilmu dan manhajnya bener.

Terlebih lagi mereka yang mengatakan seperti itu, yang belum pernah merasakan duduk membaca kutub di hadapan para ulama, walaupun pernah mungkin hanya 3-4 tahun lamanya. Ini belum apa-apa.. Baru merasakan kulit dari ilmu. Bukan maksud merendahkan, namun kita bicara ilmiahnya.

(Baca Juga : Jangan Pernah Mencabut Uban)

Jika ditinjau dari sisi ilmiyah saja, tentu yang belajar lama dengan para ulama lebih unggul dari mereka yang hanya sekedar belajar sebentar. Namun tidak menutup kemungkinan juga yang belajar sebentar bisa lebih unggul..

Ucapan di atas secara tidak langsung merendahakan para doktor yang menimba ilmu di kampus dan Mulazamah di hahadapan para ulama bertahun-tahun lamanya. Jangan suka menjatukan orang lain di khalak ramai, tidak baik.

Apakah kita merasa bahwa Ilmu dan Manhaj kita lebih kokoh dari para doktor..? Karena jika saya perhatikan, yang bayak dipertanyakan keilmuan dan Manhjanya oleh mereka, adalah para doktor yang jelas Aqidah dan belajarnya.

Saya khawatir mereka ini punya misi buruk, menjauhkan umat dari da'i yang jelas belajar dan dakwahnya. Agar manusia menjauh dari kebenaran. Semoga saya salah..

Kita meminta kepada Allah, agar senantiasa menjaga para doktor yang berada di atas Al-Qur'an dan Sunnah di negeri ini, serta menjaga para da'i yang lain. Saya punya niat ingin berguru kepada mereka para doktor..

1. DR. Aspri Rahmat Lc. MA

2. DR. Arifin Badri Lc. MA

3. DR. Ali Musri Lc. MA

4. DR. Sufyan Baswedan Lc. MA

5. DR. Nur Ihsan Lc. MA

6. DR. Firanda Andirja Lc MA

7. DR.  Khalid Basalamah Lc. MA

8. DR. Musyafa Ad-Dariniy Lc. MA

9. DR. Syafiq Reza Basalamah Lc. MA

10. DR. Erwandi Tirmidzi Lc. MA.

11. DR. 'Abdullah Roy Lc. MA

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita sekalian.

(Baca Juga : Ternyata Ini Sebab Manusia Pelupa)

Baarakallah Fiikum..
___________________
Malam hari, 05-19
Daarul Hadist-Yaman

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=149099042793817&id=100030811651129

Meluruskan Pemahaman

Meluruskan Pemahaman
Meluruskan Pemahaman

Jika da'i Ahlussunnah jelas Aqidahnya, berada di atas Aqidah Salaf dan meniti jejak Salaf, berguru di hadapan para ulama yang terkemuka.  Lalu ia didapati ia berfoto, duduk bareng, menjenguk, "Ahlul bid'ah", semerta-merta langsung kita hukumi sebagai Ahlul bid'ah, manhaj Lembek.

Maka, betapa banyak Ulama dan Asatidzah yang berada di atas Manhaj Salaf, dikeluarkan dari manhaj Salaf.

(Baca Juga : 8 Bukti Cinta Kepada Rasulullah)

Jika ada oknum beranggapan demikian, ada beberapa kemungkinan pada dirinya:

1. Niatnya baik, namun karena jahil pada dirinya. Ini kita maklumi.

2. Ada hasad kepada ustadz tersebut. Semoga Allah mengampuni orang tersebut.

Alangkah baiknya juga, sebelum menghukumi Fulan Ahlul Bid'ah, hendaknya seseorang mendalami ilmu tersebut, pelajari ketentuan kapan seseorang dikatakan Ahlul Bid'ah.

Saya khawatir, jika kita bermudah-mudahan dalam menghukumi Fulan Mubtadi', Fulan Hizbi, Fulan Manhaj lembek. Yah, khawatir terjatuh seperti idiologi Khawarij yang begitu mudah mengkafirkan kaum Muslimin.. Na'udzubillah..

Kita meminta kepada Allah kebenaran dan dimudahkan menerimanya.

(Baca Juga : Ini Dia Sebenarnya Wali Allah)

Baarakallah Fiikum..
_____________
Negeri Saba', Yaman

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=148691042834617&id=100030811651129

Karena Kita Masih Pelajar

Karena Kita Masih Pelajar
Karena Kita Masih Pelajar

Syaikh kami DR. Khalid bin Musthafa حفظه الله ( Putra Syaikhuna Abul Hasan Al-Ma'ribi حفظه الله  ) sedang murajaah pelajaran fiqihnya.

Di antara kerendahan beliau tidak malu mengambil kitab Fiqih yang masih dasar, kitab Abu Syuja' Fiqih Syafi'i, dan duduk bareng bersama muridnya.

Sebenarnya beliau bisa saja membaca sendiri kitab tersebut dan faham, karena S3 beliau di Univ madinah jurusan Fiqih dan S3 yang ke 2 Usul Fiqih di Sudan, beliau juga punya kemampuan nahwu yang bagus karena sempat mulazamah nahwu di Murutania.

Beliau pernah nasehati "Belajar kitab melalui guru tidak sama dengan membanca sendiri, walaupun hanya kitab kecil, manfaatkan masyaikh yang ada di sini". Menusuk memang..

Yuk.. Biasakan belajar kitab di hadapan guru. Jangan membiasakan belajar sendiri, nanti kebelinger. Ilmu amat luas, sedangkan umur kita singkat.

(Baca Juga : Adab Bermain Media Sosial Dalam Islam)

Baarakallah fiikum..
__________
Menjelang siang, Yaman

Tulisan Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber:https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=147849939585394&id=100030811651129

Menyikapi Kesalahan Da'i Ahlussunnah

Menyikapi Kesalahan Da'i Ahlussunnah
Menyikapi Kesalahan Da'i Ahlussunnah

Sufyan bin ’Uyainah rahimahullah berkata :

"Di antara manusia ada yang menyerupai babi, (yaitu) apabila dilemparkan makanan yang baik kepadanya, maka dia pun enggan menyantapnya.Tapi apabila ada orang yang berdiri meninggalkan kotoran (BAB)nya, maka dia menjilatinya. Begitu pula engkau dapati sebagian anak adam, ada yang jika mendengar 50 kata hikmah, maka dia tidak mengingatnya sama sekali. Tetapi jika ada seseorang yang salah, maka dia pun (segera) menyebarkannya dan menghafalnya" (Syifa'ul Alil VI/566 oleh Ibnul Qoyyim)

(Baca Juga : Begitu Hinanya Dunia Ini)

Syaikh DR. Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah berkata :

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

"Tidak termasuk dalam manhaj salaf, yaitu menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat dan kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya"

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

"Kalau seandainya seorang alim (ulama) yang banyak memberikan fatwa salah dalam 100 masalah, maka itu bukan suatu aib. Karena siapa saja selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dia bisa benar dan bisa saja salah" (Majmu Fataawa 28/301)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وبالجملة فقد كان رحمه الله من كبار العلماء وممن يخطئ ويصيب ، ولكن خطأه بالنسبة إلى صوابه كنقطة في بحر لجي ، وخطؤه مغفور له

"Secara umum, beliau (Imam Ibnu Taimiyah) rahimahullah termasuk ulama besar, dan juga termasuk orang yang berbuat benar dan berbuat keliru. Akan tetapi kesalahannya jika dibandingkan dengan kebenarannya, maka seperti satu titik dalam lautan dalam. Dan kesalahan beliau adalah diampuni" (Al-Bidayah wan Nihayah 14/160).

(Baca Juga : Islam Itu Luas Bro)

Wallahu A'lam..

(Kami ringkas dari tulisan Ustadz Najmi Umar Bakkar حفظه الله https://telegram.me/najmiumar)
______
Diringkas oleh:

Al-Ustadz Abu Naayif Iqbal hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=147036063000115&id=100030811651129