100 Amalan Sunnah Sehari-Hari Yang Terlupakan

100 Amalan Sunnah Sehari-Hari Yang Terlupakan
100 Amalan Sunnah Sehari-Hari Yang Terlupakan
AlQuranPedia.Org – Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzaab : 21)

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam salah satu haditsnya,

Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ (HR. Ibnu Majah, Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini di dalam Shahih Ibnu Majah)
Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmush shoolihaat, dengan pertolongan Allah, tulisan “100 Amalan Sunnah Sehari-Hari Yang Terlupakan” dapat terselesaikan. Tulisan ini berisikan berbagai amalan-amalan sunnah yang mungkin terlupakan oleh sebagian besar kaum muslimin. Mengingat kaum muslimin sudah banyak meninggalkan ajaran agama Islam, meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah, dan bahkan melakukan amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Dengan tulisan yang sederhana ini, penulis berharap kita semua dapat menjaga dan melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kehidupan sehari-hari. Adapun amalan-amalan yang tercantum di dalam tulisan ini semuanya berdasarkan dalil dari ayat Al-Quran, hadits-hadits shahih dan ditambah dengan perkataan ulama, sehingga tulisan ini adalah tulisan yang ilmiah, tidak dibuat-buat, tidak dikarang-karang, dan dapat dipertanggung jawabkan -insya Allah-.

Sebagai motivasi kita untuk mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah, perhatikan pesan sahabat yang mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut ini.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (HR. Bukhari no. 3093 dan Muslim no.1759)

Tanpa memperpanjang kalam, mari kita simak tulisan berikut ini. Selamat membaca, semoga bermanfaat dan moga dapat kita amalkan.

1. Wudhu sebelum tidur
Dari Al-Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

2. Membaca ayat Kursi sebelum tidur
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al-Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

3. Membaca 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah sebelum tidur
Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” (HR. Bukhari 4008 & Muslim 807)
4. Membaca surat Al-Kafirun sebelum tidur
Dari Naufal Al-Asyja’i radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku,“Bacalah Qul Yaayyuhal Kafirun (Surat Al-Kafirun) kemudian tidurlah pada akhir (ayatnya), karena ia dapat melepaskan dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud, 5055. Tirmidzi, 3400 dihasankan oleh Imam Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar, 3/61 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud)

5. Tidur menghadap ke kanan dan menempelkan tangan kanan di bawah pipi kanan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

6. Membaca dzikir allahu akbar 34x, Alhamdulillah 33x dan subhanallah 33x sebelum tidur
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa bacaan dzikir semacam ini lebih baik daripada seorang pelayan. Sebab dianjurkannya dzikir ini di saat ‘Ali dan Fathimah meminta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang pelayan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Maukah aku tunjukkan pada kalian berdua yang lebih baik daripada pelayan.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bacaan tasbih tadi dan seterusnya. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam shahihain, Riwayat Bukhari no. 3705 dan Muslim no. 2727

7. Membaca surat Al-Israa’ dan Az-Zumar sebelum tidur
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata, “Biasanya Nabi sallallahu a’laihi wa sallam belum tidur sebelum membaca surat Bani Israil (Surah Al-Israa’) dan Az-Zumar.” (HR. Tirmidzi, 3402, dia mengatakan, Haditsnya Hasan. Dihasankan juga oleh Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar, 3/65 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi)

8. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk sebelum tidur
Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidur sampai beliau membaca alif lam mim tanzilus sajdah (surat As-Sajdah) dan Tabarokalladzi biyadihil mulk (surat Al-Mulk).” (HR. Bukhari)

9. Hendaknya mengibaskan tempat tidur sambil membaca “bismillah” sebelum tidur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, ‘bismillaah,’ karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” [HR. Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, Tirmidzi no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050. Lafazh yang seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]

10. Membaca doa sebelum dan sesudah tidur

عَنْ حُذَيفَةَ ، وَأَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالاَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا أوَى إِلَى فِرَاشِهِ ، قَالَ : (( بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأموتُ )) وَإذَا اسْتَيقَظَ قَالَ :(( الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بعْدَ مَا أماتَنَا وإِلَيْهِ النُّشُورُ )) . رَوَاهُ البُخَارِي

Dari Hudzaifah dan Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur, beliau mengucapkan, ‘BISMIKA ALLOOHUMMA AHYAA WA AMUUT’ (dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati) dan apabila beliau bangun, beliau mengucapkan, ‘ALHAMDU LILLAHILLADZI AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR’ (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya kami kembali).” (HR. Bukhari)

Ada beberapa doa sebelum tidur, simak tulisan kami:

(Baca Juga : Doa Sebelum dan Sesudah Tidur Sesuai Sunnah)

11. Mengusap bekas kantuk di wajah setelah bangun tidur
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, bahwa beliau pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu ‘anha, saah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata Ibnu Abbas, “Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya.” (HR. Bukhari 183, Ahmad 2201, An-Nasai 1631, dan yang lainnya)

12. Membasuh kedua tangan sebanyak 3x setelah bangun tidur
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan, “Apabila kalian bangun tidur maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam wadah, sebelum dia mencucinya 3 kali, karena dia tidak mengetahui dimana tangannya semalam berada.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Memasukkan air ke hidung dan mulut bersamaan/istinsyaq (seperti ketika wudhu), setelah bangun tidur
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian bangun tidur maka bersihkan bagian dalam hidung tiga kali karena setan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari 3295 dan Muslim 238)

9. Menggosok gigi setelah bangun tidur
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam apabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Bukhari 245 dan Muslim 255)

10. Membaca 10 ayat terakhir surat Ali ‘Imran setelah bangun tidur
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan pengalaman beliau ketika menginap di rumah bibinya Maimunah, “Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya, kemudian beliau membaca 10 ayat terakhir surat Ali 'Imran.” (HR. Bukhari 183, Ahmad 2201, An-Nasa'i 1631, dan yang lainnya)

Dimulai dari ayat 190 sampai selesai surat Ali ‘Imran.

11. Bersiwak/menggosok gigi sebelum berwudhu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali melakukan wudhu.” (HR. Bukhari no. 838 dan Muslim no. 370)

12. Masuk rumah membaca “bismillah” dan mengucapkan salam
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nuur : 61)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Jika seseorang memasuki rumahnya lantas ia menyebut nama Allah saat memasukinya, begitu pula saat ia makan, maka setan pun berkata (pada teman-temannya), “Kalian tidak ada tempat untuk bermalam dan tidak ada jatah makan.” Ketika ia memasuki rumahnya tanpa menyebut nama Allah ketika memasukinya, setan pun mengatakan (pada teman-temannya), “Saat ini kalian mendapatkan tempat untuk bermalam.” Ketika ia lupa menyebut nama Allah saat makan, maka setan pun berkata, “Kalian mendapat tempat bermalam dan jatah makan malam.” (HR. Muslim no. 2018)

13. Masuk wc dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata terkait hal ini, “Adapun mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke tempat buang hajat dan kaki kanan ketika keluar, maka itu memiliki alasan dari sisi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang baik-baik. Sedangkan untuk hal-hal yang jelek (kotor), beliau lebih suka mendahulukan yang kiri. Hal ini berdasarkan dalil yang sifatnya global.” (As Sailul Jarrar, 1/64)

14. Masuk wc membaca “bismillah”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penghalang antara pandangan jin dan aurat Bani Adam adalah jika ia masuk tempat buang hajat dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. Tirmidzi, no. 606; Ibnu Majah, no. 297. Dalam ta’liq Misykah Al-Mashabih, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih lighairihi)

15. Membaca doa masuk dan keluar wc
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata: 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak masuk ke kamar kecil, beliau mengucapkan, ‘Allaahumma inni a’uudzubika minal khubtsi/khubutsi wal khobaaits’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan)”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan An-Nasa'i)

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar dari tempat buang hajat, beliau membaca, ‘Ghufroonaka’ (Aku memohon ampunan-Mu, Ya Allah).’” (HR. Tirmidzi, no. 7; Abu Daud, no. 30; Ibnu Majah, no. 300. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

16. Tidak menghadap dan membelakangi kiblat saat buang hajat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika salah seorang dari kamu duduk untuk membuang hajatnya, janganlah ia menghadap atau membelakangi kiblat." (HR. Muslim no. 389)

17. Tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air kecil dan cebok dengan tangan kiri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, janganlah ia menyentuh kemaluannya dan beristinja' dengan tangan kanan. Dan jangan pula ia bernafas dalam gelas (saat minum)." (HR. Bukhari no. 150)

18. Membaca surat Ali 'Imran ayat ke-8 setelah membaca surat Al-Fatihah pada rakaat ketiga sholat Maghrib
Hal ini sebagaimana yang dipraktekkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Adapun surat Ali 'Imran ayat 8 adalah sebagai berikut.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan sanad yang shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha'.

19. Memakai sandal dimulai dari kaki kanan, dan melepasnya dimulai dari kaki kiri
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

20. Membaca “bismillah” sebelum makan. Cukup bismillah saja, tanpa tambahan ar-rohmanir rahim
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (bismillah). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)’.“ (HR. Abu Daud no. 3767 dan Tirmidzi no. 1858. Imam Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

21. Makan tidak bersandar
Dari Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun saya tidak suka makan sambil bersandar.” (HR. Tirmidzi no. 1830 dan Ibnu Hibban no. 5240. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

22. Menjilat-jilat jari setelah makan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah.” (HR. Muslim no. 2033)

23. Makan dan minum dengan tangan kanan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillaah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari (no. 5376), Muslim (no. 2022), Ibnu Majah (no. 3267), Darimi (II/100) dan Ahmad (IV/26))

24. Makan dengan 3 jari jika memungkinkan
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa makan dengan meng-gunakan tiga jari tangan (kanan) apabila sudah selesai makan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjilatinya.” (HR. Muslim no. 2032 (132), Abu Dawud no. 3848)

25. Makan dari pinggir, bukan dari tengah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-piring dan janganlah memulai dari bagian tengahnya.” (HR. Muslim (no. 2031 (129)), Abu Dawud (no. 3772) dan Ibnu Majah (no. 3269). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 379))

26. Tidak bernafas saat minum. Kalau ingin bernafas, maka di luar gelas, yakni sebanyak 3x tegukan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika minum, beliau bernafas (meneguknya) tiga kali (bernafas di luar gelas).” (Bukhari (no. 5631), Muslim (no. 2028), at-Tirmidzi (no. 1884), Abu Dawud (no. 3727))

Dari 'Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (Tirmidzi (no. 1888), Abu Dawud (no. 3728), Ibnu Majah (no. 3429), (Ahmad I/220, 309). Hadits ini dihasankan Syaikh Al-Albani. Lihat Irwaa-ul Ghaliil no. 1977)

27. Tidak meniup makanan/minuman
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk meniup (dalam gelas) ketika minum.” (HR. Tirmidzi (no. 1887), hadits ini dihasankan Syaikh Al-Albani. Lihat Irwaa-ul Ghaliil no. 1977)

28. Membaca doa setelah makan
Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458. Imam Tirmidzi berkata hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

29. Membaca doa setelah baca Al-Quran
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di suatu tempat atau membaca Al-Quran ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Aku pun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Wahai Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu tempat, membaca Al-Quran ataupun mengerjakan shalat melainkan Anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau,

 نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. ” (HR. An-Nasa'i dalam Al-Kubro. Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Al-Jami’ Ash-Shahih mimma Laisa fii Ash-Shahihain 2: 12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”)

30. Mengerjakan sholat sunnah 4 rakaat sebelum Dzuhur dan 4 rakaat sesudah Dzuhur
Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 428; Ibnu Majah, no. 1160. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih)

31. Mengerjakan sholat sunnah 4 rakaat setelah ‘Isya’
Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu berkata, “Siapa yang sholat (sunnah) 4 rakaat setelah (Sholat) Isya’, maka 4 raka’at tersebut seperti keutamaannya 4 raka'atnya malam Laitul Qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “4 raka’at setelah (shalat) Isya’, sebanding dengan yang semisal 4 raka'at tersebut pada malam Lailatul Qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)

32. Mengerjakan sholat sunnah 2 rakaat sebelum Maghrib
Dari ‘Abdullah bin Mughoffal Al-Muzani radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at bagi siapa yang mau.” Karena hal ini dikhawatirkan dijadikan sebagai sunnah. (HR. Abu Daud no. 1281. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

33. Mengerjakan 4 rakaat sebelum Ashar
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad 5980, Abu Daud 1271, Tirmidzi 430, dan dihasankan Al-Albani)

34. Mengerjakan 2 rakaat setelah Ashar. Dengan catatan : sepanjang matahari masih tinggi dan putih (belum kuning kemerah-merahan)
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum Fajar/Shubuh dan dua raka’at setelah ‘Ashar” (HR. Bukhari nomor 566-567 dan Muslim nomor 835)

35. Puasa 3 hari setiap bulannya
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An-Nasa'i no. 2345. Derajatnya hasan)

Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An-Nasa'i no. 2424. Derajatnya hasan)

35. Puasa pada hari senin dan kamis
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An-Nasa'i no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya)

36. Puasa Daud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Cara pengerjaannya misalnya, si Fulan berpuasa pada hari Selasa, kemudian Rabu tidak berpuasa, kemudian Kamis berpuasa lagi, Jum’at tidak berpuasa, lalu Sabtu berpuasa lagi.

37. Membaca 100 ayat setiap malam (batasnya dimulai dari maghrib sampai waktu subuh)
Dari Tamim Ad-Dary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’, no. 6468)

38. Membaca “subhaanaka fa balaa” ketika mendengar/membaca ayat terakhir surat Al-Qiyaamah. Ini berlaku juga saat sholat
Dari Musa bin Abi Aisyah radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan, Ada orang yang shalat di atas rumahnya, ketika dia membaca,

أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى

(QS. al-Qiyamah: 40)

Dia mengucapkan,

سُبْحَانَكَ فَبَلَى

“Maha Suci Engkau… tentu Engkau mampu”

Merekapun bertanya kepada beliau tentang hal itu. jawab beliau, “Aku pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud 884 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

39. Membaca “subhaana robbiyal a’laa” saat mendengar/membaca ayat pertama surat Al-A’laa. Ini berlaku juga saat sholat.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam apabila membaca “Sabbihisma Robbikal A’laa” beliau berkata: “Subhaana Robbiyal A’laa” (HR. Abu Dawud, shahih)

40. Membaca Al-Quran dimulai dengan ta’awudz
Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S. An-Nahl : 98)

41. Bersholawat saat mendengar/mengucapkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bakhil adalah yang aku disebutkan di hadapannya dan ia tidak bershalawat atasku.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al- Jami’ no. 2878)

42. Menjawab salam dengan yang serupa atau lebih baik. Misal kalau orang mengucapkan Assalamu’alaikum. Kita minimal jawab Wa’alaikumussalaam dan maksimal menjawab Wa’alaikumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (Q.S. An-Nisaa’: 86)

43. Senyum kepada sesama muslim
Dari Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dan lainnya, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh Tirmidzi dan juga Syaikh al-Albani dalam “Ash-Shahihah” no. 572)

44. Berjabat tangan sesama muslim
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

45. Menjawab bacaan adzan
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2: 172. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Semua jawaban adzan sama seperti yang dilafadzkan muadzin, contohnya Allahu Akbar, jawabannya Allahu Akbar, Asyahualla ilaha illallah, jawabannya juga Asyahualla ilaha illallah. Kecuali lafadz Hayya ‘Alash Sholah dan Hayya ‘Alal Falah, jawaban dari kedua lafadz ini adalah laa hawla wa laa quwwata illaabillaah sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat.

46. Bersholawat setelah mendengar adzan dan membaca doa setelah adzan
‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 384)

Adapun bacaan meminta “wasilah” kepada Rasulullah sebagaimana yang disebutkan hadits:

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.” (HR. Bukhari no. 614)

Ada juga doa khusus setelah adzan, sebagaimana yang ditunjukkan hadits berikut:

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُه

“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386)

47. Membaca doa menuju masjid
Adapun do’anya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ خَلْفِى نُورًا وَأَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا اللَّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِى نُورًا

“ALLAHUMMAJ’AL FII QOLBIY NUURON, WAJ’AL FII LISAANIY NUURON, WAJ’AL FII SAM’IY NUURON, WAJ’AL FII BASHORIY NUURON, WAJ’AL KHOLFIY NUURON, WA AMAMAAMIY NUURON, WAJ’AL MIN FAWQIY NUURON WA MIN TAHTII NUURON. ALLAHUMMA A’ZHIM LII NUURON.” [Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, lisanku, pendengaranku, penglihatanku, di belakangku, di hadapanku, di atasku dan di bawahku. Ya Allah berikanlah aku cahaya]” (HR. Abu Daud, no. 1353. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

48. Bergegas menuju masjid saat adzan berkumandang
Dari Al-Aswad radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa dia menanyakan pada ‘Aisyah mengenai apa saja yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?, ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya, ketika ada panggilan shalat jama’ah, beliau bergegas pergi menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)

49. Kalau hendak menghadiri sholat Jama’ah di masjid, lebih utama berwudhu dari rumah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian dia berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka satu langkah kakinya akan  menghapuskan kesalahan dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajat.” (HR. Muslim)

50. Membaca doa keluar rumah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang keluar dari rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan, dijaga, dan setan pun akan menyingkir darinya”. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
51. Mengucapkan salam “Assalaamu’alaina wa ’alaa ‘ibadillaahish shoolihiin” ketika masuk rumah yang kosong
'Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholih)” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath, 11: 17)

52. Membaca ayat Kursi setelah sholat Fardhu
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram)

Maksudnya, tidak ada yang menghalanginya masuk surga ketika mati

53. Membaca ayat Kursi pagi 1x dan petang 1x
Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.” (HR. Hakim 1: 562. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 655)

54. Membaca “Allaahummaghfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaaburrohiim” 100x setelah sholat Dhuha
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat Dhuha, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

“ALLAAHUMMAGHFIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM (artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) sampai beliau membacanya seratus kali.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih)

55. Membaca 3 Qul setelah sholat Fardhu, yaitu Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Nas
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat  di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)

56. Memanjangkan jenggot dan memendekkan kumis
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 623)

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625)

57. Memakai celana/sarung tidak dibawah mata kaki alias cingkrang
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,“Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana Shohih Al-Jami’ Ash Shogir, 921)

58. Memakai cadar bagi wanita
Dari Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu 'anhuma, dia berkata, “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim 1/624. Dikatakan oleh Al-Hakim bahwa hadits ini shahih. Hal ini juga disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)

59. Memakai sepatu dengan duduk dan mendahulukan yang kanan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang mengenakan alas kaki (sepatu) sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi no. 1697, Abu Daud no. 3606 dari Jabir. Kata Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah 719)

Al-Khottobi rahimahullah berkata, “Di sini mengapa terlarang mengenakan sepatu sambil berdiri karena mengenakannya sambil duduk sebenarnya lebih mudah. Sedangkan mengenakannya sambil berdiri dapat membuat seseorang terjatuh. Maka perintah untuk mengenakan alas kaki sambil duduk dan dengan pertolongan tangan, supaya aman dari hal-hal yang menyusahkan.” (Ma’alimus Sunan, 4/203)

Adapun mengenakannya dengan mendahulukan kaki kanan sebagaimana keumuman hadits,
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268)

60. Mengangkat telunjuk dari awal tasyahud
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila duduk bertasyahhud beliau letakkan tangan kirinya di atas lututnya yang kiri, dan meletakkan tangan kanannya di atas lututnya yang kanan dan membentuk lima puluh tiga dan berisyarat dengan telunjuknya” (HR. Muslim)

Hadits di atas menyebutkan apabila Rasulullah tasyahud, beliau letakkan tangan beliau masing-masing di paha beliau, dan berisyarat dengan jari telunjuk. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah mengangkat jari telunjuknya sejak awal tasyahud. Ini yang lebih tepat -insya Allah-.

61. Membaca Surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua saat sholat sunnah Subuh (2 rakaat sebelum Subuh)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al-Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al-Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646).

62. Membaca Surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua saat sholat sunnah setelah Maghrib (2 rakaat setelah Maghrib)
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al-Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al-Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

63. Membaca Surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua saat sholat Sholat Maghrib pada malam Jum’at
Dari Jabir bin Samroh radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

64. Membaca sholawat 10x pagi dan 10x petang
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memberikan shalawat kepadaku ketika subuh 10 kali dan ketika sore 10 kali maka dia akan mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Thabrani dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

65. Menjaga 12 rakaat sholat sunnah rawatib (muakkad)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum  zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh." (HR. Tirmidzi no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

12 rakaat tersebut yakni, 2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum dzuhur, dua raka’at setelah dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib dan 2 rakaat sesudah Isya’.

66. Duduk istirahat saat hendak bangkit ke rakaat selanjutnya
Dari Abu Qilabah ‘Abdullah bin Zaid Al-Jarmi Al-Bashri, ia berkata, “Malik bin Al-Huwairits pernah mendatangi kami di masjid kami. Ia pun berkata, “Sesungguhnya aku ingin mengerjakan shalat sebagai contoh untuk kalian meskipun aku tidak ingin mengerjakan shalat. Aku akan mengerjakan shalat sebagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah aku lihat.” Ayub kemudian bertanya kepada Abu Qilabah, “Bagaimana Malik bin Al-Huwairits mengerjakan shalat?” Abu Qilabah menjawab, “Seperti shalat syaikh kami ini. Beliau duduk ketika mengangkat kepalanya setelah sujud sebelum beliau bangkit dari raka’at pertama.” (HR. Bukhari no. 677)

Cara duduknya seperti duduk iftirosy dan hanya sebentar, tidak ada bacaan khusus dan tidak lama.

67. Berdoa setelah hujan turun (ketika hujan sudah berhenti)
Adapun doanya adalah:
 مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِه
Hal ini sebagaimana hadits berikut:
Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)

68. Memperbanyak istighfar dan dzikir
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188, Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan sanad hadits ini shahih)

Di antara dzikir yang bisa diperbanyak adalah, Subhaanallaah wa bihamdih subhaanallahil adzhiim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

69. Membaca “bismillah” saat tersandung, BUKAN membaca ASTAGHFIRULLAH
Dari Abul Malih radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang sedang berboncengan sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Aku pernah boncengan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu hewan tunggangan kami tersandung, akupun mengatakan: “celakalah setan!”. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: “jangan engkau katakan: ‘celakalah setan’, karena jika engkau mengucapkan itu maka setan itu akan semakin besar hingga besarnya seperti sebuah rumah dan setan akan berkata : ‘ini terjadi karena kekuatanku’, akan tetapi katakanlah: ‘bismillah’, karena jika engkau mengucapkan itu, setan akan mengecil sampai seperti lalat.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, An-Nasa’i, Hakim, dan yang lainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Kalim ath-Thoyyib 1/174)

70. Membaca “bismillah” saat melepaskan pakaian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tirai yang menghalangi mata jin dan aurat Bani Adam ketika salah seorang di antara mereka melepas pakaiannya adalah mengucapkan, “Bismillah.” (HR. Tirmidzi dan lainnya, lihat Irwaa’ul Ghalil no. 49 dan Shahihul Jaami’ 3/203)

71. Memakai pakaian dari yang kanan terlebih dahulu
Hal ini berdasarkan keumuman hadits berikut:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268)

72. Memperbanyak sholawat pada hari Jum’at
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi)

73. Membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at (batasnya dari Maghrib sampai Subuh pada malam Jum’at)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad-Darimi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6471)

74. Membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at (batasnya sampai Maghrib pada hari Jum’at)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Shahihul Jami’ no. 6470)

Catatan : Jadi membaca Surat Al-Kahfi dianjurkan 2x, yakni pada malam Jum'at dan juga pada hari Jum'at (batasnya sampai tenggelamnya matahari) agar mendapatkan 2 keutamaan di atas.

75. Bertasbih dan berdzikir dengan tangan kanan (jari kanan), bukan dengan tasbih dan bukan dengan tangan kiri
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih dengan tangannya.” Sementara dari jalur Muhammad bin Qudamah – gurunya Abu Daud – terdapat tambahan: “dengan tangan kanannya” (HR. Abu Dawud 1502 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

76. Sholat Dhuha 4 rakaat setiap hari (minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat)
Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghothofaniy radhiyallahu 'anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Dawud no. 1289, Tirmidzi no. 475, Darimi no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

77. Membunuh cicak
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240)

78. Ketika buang air kecil (kencing), seberusaha mungkin tidak mengenai kaki dan pakaian
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena perkara yang susah ditinggalkan. Namun sesungguhnya itu adalah perkara besar! Untuk yang pertama, dia suka melakukan adu domba, sedang yang kedua, ia tidak menjaga diri dari air kencingnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

79. Mandi Jum’at sebelum pergi sholat Jum’at. Adapun tata caranya sama seperti mandi wajib
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” (HR. Muslim no. 857)

80. Meninggalkan musik, kalau mendengar musik diusahakan sebaik mungkin menghindar dan menutup telinga
Hukum musik haram berdasarkan nash Al-Quran, hadits-hadits dan ijma’ ulama. Di antara dalil keharaman musik adalah hadits berikut,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Adapun sikap kita ketika mendengar nyanyian/musik atau semisalnya adalah sebagaimana yang disebutkan hadits berikut,
Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau berkata, Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?” Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.” Kemudian, Ibnu ‘Umar terus berjalan. Lalu, aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.” Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini hasan)

81. Tidak mengusap wajah setelah selesai berdoa. Selesai mengangkat tangan, langsung diturunkan
Ada hadits yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap wajah dengan tangannya setelah berdoa, namun hadits ini dho’if (lemah), tidak bisa dijadikan hujjah. Simak penuturan beberapa ulama berikut,

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, "Aku tidak mengtahui hadits yang shahih tentang amalan ini. Hanya Al-Hasan yang mengusap wajah setelah do’a." (Al ‘Ilal Mutanahiyah, 2/840-841)

Al ‘Izz bin ‘Abdis Salam rahimahullah berkata, "Tidak ada yang mengusap wajah dengan kedua tangan setelah do’a kecuali orang yang jahil (bodoh)." (Fatawa Al ‘Izz bin ‘Abdis Salam, hal. 47)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Adapun mengangkat tangan saat berdo’a dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat dalam banyak hadits yang menerangkan hal ini. Adapun mengusap wajah setelah do’a, tidak ada yang menerangkan hal ini kecuali satu atau dua hadits yang tidak bisa dijadikan hujjah (alasan)." (Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 22/519)

82. Memulai doa dengan pujian kepada Allah kemudian bersholawat
Dari Fadhalah bin ‘Ubad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan shalat dan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdo’a. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdo’a, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo’alah.’ Kemudian datang orang lain, setelah melakukan shalat dia berdo’a dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang tengah berdo’a, berdo’alah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan do’amu.’” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani)

83. Berdoa dengan menyebut Asmaul Husna
Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-A’raaf : 180)

Contohnya adalah, “Ya Allah, Ya Kariim, Ya Hakiim, Ya Ghofuur, Ya ‘Aliim, Ya Haliim, Ya Hayyu, Ya Qoyyum, dan yang semisalnya”

84. Berdoa menghadap kiblat
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)

85. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan
Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan beliau hasankan)

Adapun cara tangan saat berdoa adalah dengan menggabungkannya

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)

86. Tidak mengangkat tangan saat berdoa saat Khutbah Jum’at. Cukup mengaminkan saja
Dari Hushain (bin ’Abdirrahman) dari ‘Umaarah bin Ruaibah ia berkata bahwasannya ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya ketika berdoa (pada hari Jum’at). Maka ‘Umaarah pun berkata : “Semoga Allah menjelekkan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di atas mimbar tidak menambahkan sesuatu lebih dari hal seperti ini”. Maka ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya” (HR. Muslim no. 874)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menambah lebih dari itu dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.” (HR. An Nasai no. 1412. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

87. Memperbanyak berdoa ketika hujan turun
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (do’a) tidak akan ditolak oleh Allah, do’a ketika setelah dikumandangkan adzan dan do’a ketika turun hujan.” (HR. Al-Hakim II/114, Abu Dawud no. 3540. Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 3078)

88. Memperbanyak berdoa setelah Ashar pada hari Jum’at
Hadis dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Di hari Jumat terdapat suatu waktu, di mana jika ada seorang hamba muslim yang memanjatkan doa kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, Allah akan memberi apa yang dia minta. Waktu itu adalah setelah Ashar." (HR. Ahmad 7631 dan dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

89. Berdoa pada saat sujud saat sholat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rab-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabbnya), maka perbanyaklah do’a (dalam sujud kalian).” (HR. Muslim no. 482, Abu Dawud no. 875 dan an-Nasa-i II/226 no. 1137)

90. Berdoa sebelum salam dan setelah tasyahud akhir
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkannya tasyahud padanya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Kemudian terserah dia memilih do’a yang dia sukai untuk berdo’a dengannya.” (HR. Abu Daud no. 825)

Dalam lafazh lain, “Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah tasyahud) do’a yang dia kehendaki (dia sukai).” (HR. Muslim no. 402, An-Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Darimi no. 1340)

91. Memaksimalkan berdoa antara adzan dan iqomah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdo’alah.” (HR. Abu Dawud no. 521, at-Tirmidzi no. 212, Ahmad III/155 dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Syaikh Al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jaami’ no. 3408)

92. Sholat 2 rakaat tahiyatul masjid sebelum duduk di masjid. Meskipun itu berlangsung Khutbah Jum’at, kalau seperti ini kondisinya maka sholat kita diringkas dan mempercepatnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687)

Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lantas Sulaik masuk masjid lalu langsung duduk.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah khutbah berkata padanya, “Wahai Sulaik, berdirilah, lakukanlah shalat dua raka’at. Kerjakanlah sekedar yang wajib saja dalam dua raka’at tersebut. Kemudian ia berkata, “Jika salah seorang di antara kalian datang pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka lakukanlah shalat dua raka’at. Namun cukupkanlah dengan yang wajib saja (ringkaslah).” (HR. Muslim no. 875)

93. Mengucapkan “Alhamdulillah” saat bersin, kalau ada teman kita yang mengucapkan Alhamdulillah saat bersin, maka kita ucapkan “Yarhamukallah”, dan bagi yang mendengar bacaan Yarhamukallah, maka dijawab “Yahdikumullah Wa yushlih baalakum”. Mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin juga berlaku saat sholat, namun yarhamukallah dan yahdikumullah tidak perlu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari no. 6224 dan Muslim no. 5033)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, namun jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya.” (HR. Muslim no. 2992)

94. Menutup wajah dengan tangan kanan saat bersin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata “Bahwasanya apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Ahmad II/439, al-Hakim IV/264, Abu Dawud no. 5029, at-Tirmidzi no. 2746. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/355 no. 2205)

95. Berusaha menahan mulut sebisa mungkin saat menguap agar tidak terbuka. Kalau tidak sanggup, maka tutup dengan tangan kiri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kuapan (menguap) itu datangnya dari syaitan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah ia menahan semampunya” (HR. Bukhari no. 6226 dan Muslim no. 2944. Lafazh ini berdasarkan riwayat Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).” (HR. Muslim no. 2995 (57) dan Abu Dawud no. 5026)

96. Sholat dengan mendekati sutrah, bisa berupa dinding, tongkat, tiang, orang yang duduk, dan yang semisalnya
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap sutroh dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698). Imam An-Nawawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sebagaimana dalam Al-Khulashoh (1/518). Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Shahihul Jaami’ (651)

97. Mengangkat kedua tangan saat bertakbir takbiratul ihram, saat hendak rukuk, saat bangkit dari rukuk dan ketika bangkit dari rakaat kedua
Dari Nafi’ maula Ibnu 'Umar rahimahullah, beliau mengatakan, "Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami ’allâhu liman hamidah”  juga mengangkat kedua tangannya. Jika berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu memarfu’kannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (HR. Bukhari, no. 739 dan Muslim no. 390)

98. Kadang-kadang mengangkat kedua tangan saat bertakbir ketika hendak sujud kedua (yakni setelah duduk antara dua sujud)
Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

99. Kadang-kadang mengangkat kedua tangan saat bertakbir ketika bangkit dari rakaat ketiga ke rakaat keempat
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata, "Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir ini. (HR. Bukhari dan Abu Dawud. Lihat Shifat Shalat Nabi, Syaikh Al-Albani, Cet. I, Penerbit Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, hlm. 177)

100. Membiasakan sholat malam/tahajjud
Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah tali silturahmi (dengan kerabat), berilah makan (kepada istri dan kepada orang miskin), shalatlah di waktu malam sedangkan manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi no. 2485 dan Ibnu Majah no. 1334. Syaikh Al-Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 569 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 17-18)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Iapun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil)

Itulah berbagai amalan-amalan sunnah sehari-hari yang sering dilupakan kaum muslimin. Kiranya amal-amal di atas dapat kita lakukan dan amalkan semaksimal mungkin. Meskipun mungkin ada di antara kita yang berat dengan sebagian sunnah di atas. Namun yang terpenting adalah kita sudah berusaha, kita berusaha bertaqwa semampu kita.

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. At-Taghaabun : 16)
Perlu diketahui bahwa masih banyak sekali sunnah-sunnah lainnya yang tidak tertulis pada tulisan ini, tentu saja ini dikarenakan keterbatasan penulis dan juga dikarenakan hal lainnya. Tulisan ini masih jauh dari kata sempurna dan masih penuh kekurangan sana-sini. Kita bisa membuka kitab-kitab para ulama untuk tulisan yang lebih lengkap dan lebih baik daripada ini. Adapun kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk tercapainya kebaikan bagi kita semua. Semoga dengan tulisan ini kita dapat melestarikan sebagian dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil yang shahih.

Sebagai penutup mari kita renungi beberapa kalam ulama berikut ini,

Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “Dalam mengikuti sunnah terdapat faedah (antara lain): mendapat barakah mencocoki syariat, meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, diangkatnya derajatnya, mendapatkan kelapangan hati dan ketenangan badan, membuat setan benci, dan menempuh shiratal mustaqim.” (Dzammul Muwaswisin hlm. 41. Lihat Dharuratul Ihtimam bi as-Sunnah an-Nabawiyyah hlm. 43)

Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)” (Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” 1/168)

 Abu Muhammad ‘Abdullah bin Manazil berkata, “Tidaklah seseorang menyia-nyiakan satu amalan fardhu, kecuali Allah menimpakan padanya musibah berupa menyia-nyiakan amalan-amalan sunnah. Tidaklah seseorang ditimpa musibah berupa menyia-nyiakan amalan-amalan sunnah, kecuali sebentar lagi dia akan ditimpa musibah berupa terjatuh pada kebid’ahan-kebid’ahan.” (Lihat al-I’thisam karya asy-Syathibi I/169)

Syaikh Muhammad bih Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Sesungguhnya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakin kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah di kalangan manusia” (Kitab “Manaasikul hajji wal ‘umrah” hal. 92)

Penulis banyak mendapat faedah dari beberapa sumber:

Penulis : Al-Faqir Ilallaah Abu Salma Yusri Triadi Al-Binjai

--------------------------------------------------------------------------

Semoga tulisan ini bermanfaat.


Diselesaikan pada 13 Dzulqaidah 1439 Hijriyah/26 Juli 2018 Masehi.


EmoticonEmoticon