Jangan Pernah Mencabut Uban

Jangan Pernah Mencabut Uban
Jangan Pernah Mencabut Uban

AlQuranPedia.Org – Uban adalah salah satu di antara peringatan dari Allah Ta’ala bahwa kita tua dan lemah. Rambut yang memutih menjadi introspeksi diri bagi kita agar semakin mempersiapkan diri menyambut kematian.

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S. Ar-Ruum : 54)


Meskipun ada sebagian orang yang rambutnya memutih dikarenakan penyakit, akan tetapi kebanyakan uban dikarenakan faktor usia. Mengenai uban, Islam juga memiliki adab terhadapnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mencabut uban dikarenakan uban itu akan menjadi cahaya pada hari Kiamat kelak. Meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak sekali orang yang sengaja mencabut ubannya dikarenakan malu, tidak percaya diri dan tidak suka. Padahal ia bisa menjadi cahaya bagi kita di hari Kiamat kelak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).” (HR. Ahmad 23952. Hadits ini dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah, 3371)

Kita husnudzon saja, mungkin mereka tidak tahu. Tetapi bagi yang tahu hendaknya diperhatikan keutamaan besar ini. Di hari Kiamat kelak, hari yang sangat berat, di mana ketika itu tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah hisab dari Allah.

Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). (Q.S. Al-Insaan : 27)


Maka ketika itu kita sangat butuh kepada kebaikan dan amal sholih. Nah dengan uban ini bisa meringankan sedikit beban kita nanti. Karena uban tersebut bukan hanya sebagai cahaya pada hari Kiamat, tapi juga akan dicatat sebagai satu kebaikan, dihapuskan satu kesalahan dan ditinggikan satu derajat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 2985. Sanad hadits dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Adapun larangan ini bersifat makruh, tidak sampai derajat haram sebagaimana penjelasan ulama. Akan tetapi ia memiliki keutamaan yang begitu besar kalau kita tidak mencabutnya.

Lantas bagaimana dengan uban di daerah wajah? Kalau di wajah, baik itu uban ataupun rambut yang lain maka ini diharamkan. Hal itu berdasarkan hadits berikut.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.” (Lihat Al-Jami’ Ash-Shagir. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Bagaimana? Masih mau mencabut uban? Dan kita melewatkan keutamaan besar? Bayangkan ikhwah. Satu helai uban saja mendapat 1 kebaikan, dihapus 1 kesalahan dan ditinggikan derajat. Kalau kita memiliki 100 uban, maka kita mendapat 100 kebaikan, dihapus 100 kesalahan kita dan ditinggikan derajatnya kita sebanyak 100.


Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 3 Dzulhijjah 1439 Hijriyah/15 Agustus 2018 Masehi.

2 comments:

  1. Rambut yang di wajah itu yg dimana ya tepatnya ustadz?afwan ana masih awam

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon