Meninggalkan Pendapat Ulama Yang Menyelisihi Dalil

Meninggalkan Pendapat Ulama Yang Menyelisihi Dalil
Meninggalkan Pendapat Ulama Yang Menyelisihi Dalil
MENINGGALKAN PENDAPAT ULAMA YANG MENYELISIHI DALIL, CELAAN TERHADAPNYA?

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagian saudara kita ketika kita menolak suatu pendapat Alim atau Ulama dan kita menganggap pendapat tersebut adalah salah bahkan bid'ah, maka mereka mengomentari: perbuatan ini secara tidak langsung merupakan celaan kepada para ulama, karena menurut mereka ulama itu tidak mengikuti dalil dalam pendapat dan fatwa mereka

👉Saya (Abu Muhammad Pattawe waffaqahullah) katakan:
Seorang yang mengikuti dalil dan meninggalkan ucapan ulama karena menyelisihi dalil bukanlah celaan terhadapnya. Justru ini adalah nasehat baginya dan bagi umat.

(Baca Juga : 27 Ayat Al-Quran Tentang Orang Kafir)

Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

 ومِمَّا يختص به العلماء ردّ الأهواء المضلة بالكتاب و السنة على مُورِدِها ، و بيان دلالتهما على ما يخالف الأهواء وكذلك رد الأقوال الضعيفة من زلاّت العلماء ، و بيان دلالة الكتاب و السنة على ردّها

Termasuk kekhususan ulama adalah membantah pemikiran sesat berdasarkan Alquran dan Sunnah terhadap pengusungnya, dan menjelaskan kandungannya (Alquran dan Sunnah) yang benar yang menyelisihi semua hawa nafsu (pikiran sesat) tersebut. Demikian juga (termasuk kekhusususan mereka) adalah MEMBANTAH PENDAPAT-PENDAPAT YANG LEMAH DARI KEKELIRUAN ULAMA DAN MENJELASKAN KANDUNGAN ALQURAN DAN SUNNAH DALAM MEMBANTAHNYA.
📚(Jami'ul-Ulum wal-Hikam)

Ucapan Ibnu Rajab di atas memberikan faedah bahwa para ulama bisa jadi keliru dan salah dan menyelisih Alquran dan Sunnah Dan kesalahan mereka wajib dibantah. Dibantah dengan apa? Dengan dalil dari Alquran dan sunnah..!! Sehingga orang yang meninggalkan pendapat ulama dan mengikuti dalil tidaklah melazimkan celaan terhadapnya. Sejak zaman shahabat sampai zaman para imam bahkan sampai di zaman sekarang ini para ulama sudah saling membantah pendapat satu sama lain dengan dalil. Dan tidak ada di antara mereka yang menganggap ini celaan terhadap ulama.

✅Berkata seorang kepada Imam Ahmad:

 إن ابن المبارك قال كذا فقال إن ابن المبارك لم ينزل من السماء
Sesungguhnya Ibnul-Mubarak berpendapat demikian. Maka Imam Ahmad menjawabnya: SESUNGGUHNYA IBNUL-MUBARAK TIDAKLAH TURUN DARI LANGIT.
(Al-Furu fi Fiqhi Al-Hambali:6/381)

Maksud dari Imam Ahmad bahwa pendapat Imam Ibnul Mubarak bukanlah WAHYU sehingga tidak boleh diselisihi. Apakah kita katakan Imam Ahmad telah mencela Imam Ibnul-Mubarak..???
Padahal dari segi keimamahan Imam Ibnul-Mubarak lebih afdhol dari Imam Ahmad.!!

✅Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah Ketika menyebutkan khilaf dalam masalah hukum meminum Nabidz beliau menyebutkan di antara yang membolehkan: Ibrahim An-Nakhai, Sufyan Ats-Tsauri dan Ath-Thahawi, beliau berkata:

وهذه زلة من عالم ، و قد حُذِّرْنا من زلة العالم، و لاحجة في قول أحد مع السنة

Ini termasuk kekeliruan seorang Alim, dan kami telah mentahdzir (memperingatkan) dari kekeliruan seorang alim. DAN TIDAK ADA HUJJAH BAGI PENDAPAT SEORANG PUN BERSAMAAN ADANYA SUNNAH.
📚(Tafsir Al-Qurthubi:10/131)

(Baca Juga : 20 Ayat Al-Quran Tentang Kematian)

Coba perhatikan baik2 ucapan yang indah oleh Imam Al-Qurthubi "TIDAK ADA HUJJAH BAGI PENDAPAT SEORANG PUN BERSAMAAN ADANYA SUNNAH", bukankah ini namanya mengikuti dalil dan menolak pendapat ulama..?????
Apakah engkau mengangap Al-Qurtubi mencela para imam yang disebutkan di atas..???

Sungguh indah ucapan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjawab pernyataan bahwa mengingkari masalah khilaf bisa terkandung di dalamnya celaan dan perendahan terhadap para Imam dan ulama:

"Kami berlindung kepada Allah Subhanah dari apa-apa yang mengantarkan kepada celaan terhadap kehormatan para Imam, atau merendahkan salah seorang dari mereka, atau tidak mengetahui kedudukan dan keutamaan mereka, atau memusuhi mereka dan meninggalkan cinta dan kasih kepada mereka. Dan kami memohon kepada Allah Subhanah agar kami menjadi orang yang mencintai dan mengasihi mereka, mengetahui hak dan keutamaan mereka yang tidak diketahui oleh kebanyakan para pengikut (para imam tersebut), dan menjadikan bagian kami dari (pemuliaan) tersebut bagian yang banyak dan besar. Wa lã hawla wa lã quwwata illã billãh."
📚(Al-Fatawa Al-Kubra:6/92)

Bahkan yang wajib atas setiap muslim adalah kembali mengikuti dalil jika telah jelas baginya dalil dan jika pendapat seorang Alim menyelisihi dalil.

Berkata Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah:

أجمع الناس على أن من استبانت له سنة عن رسول الله لم يكن له أن يدعها لقول أحد من الناس

Para ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang jelas baginya sunnah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka tidak boleh baginya meninggalkan sunnah tersebut karena mengikuti pendapat seorang pun dari manusia.
📚(I'lamul-Muwaqqi'in:2/263)

👉Dan tentunya tidak terlepas dari pemahaman para ulama. Dan alhamdulillah Ahlussunnah secara umumnya di atas hal ini. Jadi, bukan berarti orang yang ketika dia mengikuti dalil dia telah terlepas dari pemahaman ulama. Justru dia menolak pendapat ulama dengan mengikuti dalil sesuai penjelasan ulama yang lain. Karena kadang sebagian ulama berpendapat karena dibangun di atas dalil yang lemah, atau qiyas yang lemah, atau dalil yang shahih tapi sisi pendalilan keliru, dan berbagai sebab kenapa seorang alim bisa keliru, yang hakikatnya kekeliruan ini bukanlah dalil. Sehingga makna orang yang berkata saya mengikuti dalil adalah mengikuti dalil sesuai penjelasan para ulama yang lain.

 ✏Betapa banyak ucapan para ulama di dalam kitab-kita mereka: pendapat ini tidak memiliki dalil, pendapat ini menyelisihi dalil, dan yang semisalnya dari ucapan mereka.

وبالله التوفيق.

(Baca Juga : 9 Hadits Tentang Imam Mahdi)

29 Jumadal-Ula 1440
Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
Darul-Hadits Ma'bar-Yaman.

Tulisan Al-Ustadz Abu Muhammad Pattawe hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=485104842018851&id=100015580180071


EmoticonEmoticon