Jika Hidup Ini Bukan Dengan Belajar


[Jika Hidup Ini Bukan Dengan Belajar, Maka Hidup Ini Sungguh Main-main]

Terhadap orang yang dianggap menyimpang atau berbeda pandangan dengan kita, uslub semisal, "Anda belajar lagi," walaupun adakalanya tak mengapa, tapi adakalanya ia akan jadi apa-apa. Terlebih jika dicetuskan dengan nada ketus.

Tidak semua orang, bahkan kebanyakan orang, akan kurang menerima dengan diberi wejangan 'sana, belajar lagi'. Itu dari sisi mukhathab.

Dari sisi mutakallim (pembicara), semacam ada kabut tipis arogansi yang terhembus. Seolah dirinya sudah banyak belajar. Jika memang banyak, maka tak bisa dipastikan dirinya lebih banyak belajar daripada mukhathab. Terlebih mukhathab ini juga orang berilmu.

(Baca Juga : Syubhat Jika Ikut Pemilu, Umat Dikuasai Orang Kafir)

Hari ini pun, walau saya di pihak yang benar, terkena pressing (penekanan) dan teguran dari pihak yang tidak suka dakwah Ahlus Sunnah melebar di area kediamannya. Di muqaddimah sudah langsung berbicara, "Tolong ustadz jangan berbicara sesuatu yang tidak ustadz ketahui." Yang mana, sebelumnya saya menuturkan sesuatu sesuai kalam para ulama. Walau hanya bisa saya balas dengan senyum keantengan, namun hati saya terganggu dengan itu.

Karena yang saya bacakan adalah haq. Dan sudah saya usahakan -jika pun tak benar-, mewartakan sebagaimana warta para ulama. Sekiranya saya tak benar, maka uslub semisal 'jangan berbicara yang tidak antum tahu' tentu tidak tepat di maqam nasehat dan kritik. Terlebih pengkritik tidak menjelaskan apa kesalahan saya, melainkan sekadar mendistorsikan kebenaran menjadi kebatilan dan sebaliknya dengan alasan:

Persatuan, ukhuwah, stabilitas dan seterusnya....

Yang saya sampai detik ini tak menemukan adanya keterpecahbelahan, saling membelakangi dan ketidakamanan daerah disebabkan ujaran di kajian.

(Baca Juga : Haramnya Demonstrasi)

Di sini saya belajar. Dan berkali masa dengan kejadian sebagian pihak yang 'mengepung' saya di forum mereka, bahwa kebatilan itu kerap terpelihara di hati disebabkan arogansi; yang sadar atau tidak, akan diterjemahkan oleh lisan. Kemudian orang-orang netral pun bisa merasakan aura panasnya dan aroma anyirnya. Semua penjelasan ilmiah bisa mahjub dan terblokir karena alasan persatuan, ukhuwah dan stabilitas.

Berbicara tentang persatuan, kita bisa memberikan contoh di lingkungan kediaman kita. Bagaimana kita berusaha mencanangkan persatuan sesama muslim dan merealisasikannya.

Berbicara tentang ukhuwah, lisan dan kantong kita terjulur dan terbuka untuk mengikat talinya.

Berbicara tentang stabilitas, kita bukan provokator, melainkan menebarkan apa yang para Rasul tebarkan, dengan cara yang sebaik mungkin -walau mestilah kita ada kekurangannya-.

Sementara kalimat semisal 'Anda belajar lagi', dan saudarinya, sepengamatan pribadi saya, justru tidak akan membangkitkan semangat belajar.

Sangat mungkin, dan memanglah, kita ini diperlakukan sesuai dengan bagaimana kita memperlakukan. Barangkali ketusnya sebagian pihak ke  kita, karena kita pun begitu ke pihak lain.

Suatu keuntungan bagi saya, jika Allah memberi teguran dan nasehat, melalui hamba-hamba-Nya yang memang menginginkan agar saya membaik, agar saya bisa bersama-sama mencari ridha Allah dengannya.

Mari kita sama-sama belajar, merangkai kalimat yang tidak meninju jauh orang di hadapan. Tetapi kalimat merangkul. Bisa jadi orang di depan kita, sudah lebih mengenyam usia, atau membaca lebih banyak, namun belum mendapat taufiq. Bisa jadi pula, kita mengira telah diberi taufiq, namun sedianya justru istidraj.

Jika hidup ini bukan dengan belajar, maka hidup ini sungguh main-main.

(Baca Juga : Boleh Isbal Kalau Tidak Sombong?)

Tulisan Al-Ustadz Hasan Al-Jaizy, Lc hafidzhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=2697603616947673&id=100000941826369


EmoticonEmoticon