Makna Kemampuan Dalam Ibadah Haji

Makna Kemampuan Dalam Ibadah Haji
Makna Kemampuan Dalam Ibadah Haji


📝معنى الاستطاعة في الحجّ

📝Makna kemampuan dalam ibadah haji


  Allah Ta'ala memerintahkan ibadah haji dalam ayat Ali 'Imran :


وَلِلّٰهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيْلًا


"Wajib atas manusia menunaikan ibadah haji untuk Allah Ta'ala bagi yang mampu melakukan perjalanan" (QS Ali Imran: 97)


   Qadhi Abu Syuja' dalam matan fenomenal nya "Al-Ghayah wat-Taqriib" menyebutkan bahwa di antara syarat wajib haji adalah :

➡️ Memiliki bekal

➡️ Memiliki kendaraan

➡️ Amannya jalan

➡️ Waktu yang cukup memungkinkan untuk sampai ke Mekkah. Taqiyuddin Al-Hishniy menyebutkan bahwa 4 syarat ini adalah penafsiran terhadap ayat Ali Imran di atas. Syaikh Mushthafa Diib Al-Bugha حفظه الله ورعاه memberikan bagian ta'liq :


لتفسير "السبيل" في الآية بهما ما روى الحاكم (١/٤٤٢) عن "أنس" رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم في قوله تبارك وتعالى : "ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا" قال: قيل : يا رسول الله، ما "السبيل"؟ قال : "الزاد والراحلة" قال : هذا حديث صحيح


"Untuk penafsiran makna "Sabiil" (perjalanan) yang ada dalam ayat maka ada riwayat Imam Al-Hakim dalam Mustadrak nya DARI ANAS رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang firman Allah : "Wajib atas manusia menunaikan ibadah haji untuk Allah Ta'ala bagi yang mampu melakukan perjalanan". Lalu ada yang bertanya : Wahai Rasulullah apakah makna "Sabiil" di ayat tsb? Maka Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab : "Bekal dan kendaraan". Beliau (Al-Hakim) berkata : Ini adalah hadits shahih.


(Baca Juga : Jenis-Jenis Ikhtilaf Ulama)


   Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits tsb dari jalan Sa'id bin Abi 'Aruubah dari Qatadah dari Anas bin Malik... (sebagaimana disebutkan di atas)... Lalu Imam Al-Hakim berkata : Ini adalah hadits shahih sesuai syarat Al-Bukhariy dan Muslim namun mereka berdua tidak meriwayatkannya dan ada mutaba'ah dari Hammad bin Salamah yang juga meriwayatkan dari Qatadah.


   Memang benar Imam Al-Hakim menshahihkan hadits ini sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh Mushthafa, bahkan Al-Hakim menghukuminya sesuai dengan syarat Al-Bukhariy dan Muslim.


   Namun alfaqir telisik lagi tentang tafsiran ini bahwa "Sabiil" adalah bekal dan kendaraan di Tafsir Imam Ath-Thabariy. Beliau menghikayatkan ikhtilaf Ulama tentang penafsiran "Sabiil" yang berbeda menjadi:

1. Bekal dan kendaraan, sebagaimana riwayat Al-Hakim di atas.

2. Kesehatan badan

3. Kemampuan secara umum untuk bisa sampai ke Mekkah, ini adalah penafsiran Ibnu Zaid dan Atha bin Abi Rabah, Tabi'in mulia yang dikatakan sebagai ulama yang paling faqih tentang Manasik Hajji yang telah menunaikan haji sebanyak 70 kali. Yang kemudian pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh Imam Ath-Thabariy dalam Tafsir nya.


   Lalu Imam Ath-Thabariy juga mengomentari makna "Sabiil" yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi صلى الله عليه وسلم secara marfu' yang itu dishahihkan oleh Imam Al-Hakim, justru dikomentari oleh Imam Ath-Thabariy :


أما الأخبار التي رُوِيَتْ عن رسول الله في ذلك بأنه "الزاد والراحلة فإنها أخبار في أسانيدها نظر، لا يجوز الاحتجاج بمثلها في الدين


" Adapun riwayat-riwayat yang diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hal ini bahwasanya makna "Sabiil" adalah bekal dan kendaraan maka itu adalah riwayat yang pada sanad-sanadnya terdapat kelemahan dan tidak boleh berhujjah dengannya dalam agama (Jami'ul-Bayan: 6/43 - 45).


  Ternyata Imam Ath-Thabariy mendha'ifkannya, berseberangan dengan Imam Al-Hakim yang menshahihkannya, skor 1-1 tentang tashih tafsir "bekal dan kendaraan".


   Alfaqir jadi penasaran, coba lagi ubek-ubek dalam riwayat lain, dalam Sunan Kubra Imam Al-Baihaqiy yang merupakan murid langsung Imam Al-Hakim beliau juga bawakan riwayat Anas ini baik dari jalur Sa'id bin Abi 'Aruubah maupun jalur Hammad bin Salamah lantas beliau komentari yang berseberangan dengan gurunya :


رُوي عن سعيد بن أبي عروبة وحماد بن سلمة عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم في "الزاد والراحلة" ولا أرَه إلا وهمًا

Diriwayatkan dari Sa' id bin Abi 'Aruubah dan Hammad bin Salamah dari Anas bin Malik tentang "bekal dan kendaraan" dan menurutku itu adalah waham (riwayat yang salah). Kemudian beliau membawakan jalur Sa'id bin Aruubah juga, namun dari Qatadah dari Hasan Al-Bashriy secara mursal dari Nabi صلى الله عليه وسلم dan beliau berkata :


هذا هو المحفوظ عن قتادة عن الحسن عن النبي صلى الله عليه وسلم مرسلًا


Inilah riwayat yang mahfuzh dari Qatadah dari Hasan Al-Bashriy dari Nabi صلى الله عليه وسلم secara mursal.


Baca Juga : (Semakin Kita Tahu, Semakin Tahu Kita)


   Ternyata Imam Al-Baihaqiy juga melemahkan riwayat secara marfu' dari Anas, sehingga skor menjadi 2-1 untuk lemahnya penafsiran "bekal dan kendaraan".


   Dalam At-Talkhisul-Habiir, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaniy juga melemahkan riwayat-riwayat ini yang secara marfu' sampai Nabi صلى الله عليه وسلم baik dari hadits Anas bin Malik maupun jalur lainnya dan beliau juga menukil tadh'if Imam Abdul-Haq Al-Isybiliy, serta perkataan Imam Ibnul-Mundzir :


لا يثبت الحديث في ذلك مُسندًا الصحيح من الروايات رواية الحسن المرسلة


"Tidak sah haditsnya secara musnad sampai Nabi صلى الله عليه وسلم akan tetapi yang shahih dari riwayat-riwayat tsb adalah riwayat Hasan Al-Bashriy secara mursal. (At-Talkhisul-Habiir : 2/ 485).


   Sehingga simpulan kebanyakan ulama hadits adalah lemahnya riwayat marfu' tentang penafsiran "bekal dan kendaraan" bahkan skor menjadi 5-1 untuk lemahnya riwayat penafsiran tersebut.


   Imam At-Tirmidziy juga membawakan riwayat penafsiran ini akan tetapi dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنه dan beliau juga melemahkan jalur ini karena dalam sanadnya ada rawi Ibrahim bin Yazid yang hafalannya lemah. Namun beliau juga mengatakan :


العمل عليه عند أهل العلم

   "Amalan adalah sesuai hadits ini menurut para Ulama." 


   Dari sini kita bisa tarik beberapa kesimpulan :


1. Lemahnya riwayat penafsiran ayat Ali Imran dengan tafsiran : "bekal dan kendaraan" secara marfu' sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan yang shahih riwayat tersebut adalah mursal. 


2. Adakalanya para ulama masih mengamalkan hadits dha'if dalam bab hukum Fiqh, terutama jika dalam bab tersebut tidak ada lagi kecuali hadits dha'if. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal :


الحديث الضعيف أحبّ إلينا من رأي الرجال

"Hadits dha'if lebih kami sukai daripada pendapat manusia".


3. Adakalanya seorang murid berbeda pendapat dengan gurunya sendiri baik dalam tashih dan tadh'if hadits ataupun masalah Fiqhiyyah atau masalah Ijtihadiyyah lainnya dan itu bukanlah hal yang kurang adab kepada sang guru.


4. Tashih Imam Al-Hakim dalam Mustadrak nya memang perlu ditelisik kembali dan ada beberapa Ulama Hadits yang menyatakan hal tersebut.


(Baca Juga : Lebih Utama Menuntut Ilmu Atau Berdakwah)


   Barangkali bermanfaat bagi yang sedang bahas juga bahasan ini, karena alfaqir sempat pending kajian At-Tadzhib fi adillati Matnil-Ghayati wat-Taqriib karena masih pusing telusuri riwayat ini, Wallahul-muwaffiq ila aqwamith-thariiq.


Tulisan Al-Ustadz Varian Ghani Hirma hafidzhahullah


Sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1555089691367547&id=100005995935102


EmoticonEmoticon