Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts

Pentingnya Meluruskan Niat


Bismillahirrahmanirrahim.. 

   Imam An Nawawi رحمه الله berkata dalam kitab nya Arba'in nawawiyyah :

Pada Hadits pertama :

عن ابي حفص عمربن الخطاب -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: «إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، او امرأة ينكحها، فهجرته إلى ماهاجر إليه»

   Dari Abi Hafsh Umar Bin Khattab -رضي الله عنه- beliau berkata : "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda" : «Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapat sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahi nya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju.»

✒️ (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits : Abu abdillah Muhammad bin ismail bin ibrohim bin mughiroh bin bardizbah al bukhori dan Abu Husain muslim bin hajaj bin muslim al qusyairi an naisaburi dalam dua kitab shahih mereka yang merupakan dua kitab yang paling shahih).

Hadits ini merupakan hadits yang sangat Agung. 

   Imam Syafi'i رحمه الله berkata mengenai hadits ini : "Hadits ini sebanding dengan sepertiga ilmu, dan masuk kedalam 70 bab tentang Fiqih".

   Imam Ahmad رحمه الله juga berkata mengenai hadits ini : "tidak ada satupun hadits Nabi ﷺ yang lebih lengkap, kaya, dan banyak faidah nya daripada hadits ini."

   Imam Ibnu Daqiq 'abd رحمه الله menyebutkan sebab keagungan hadits ini : "Sesungguhnya keberuntungan seorang hamba ada pada hati, lisan, dan anggota badannya, dan niat merupakan bagian dari ketiganya."

   Makna sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapat sesuai apa yang ia niatkan."

⇨ Artinya sah atau tidak sah nya suatu amalan tergantung pada niat nya, maka barangsiapa yang berniat baik maka ganjaran dan pahalanya dari Allah ﷻ, dan barangsiapa yang berniat buruk maka tidak ada baginya ganjaran dan pahala, maka barangsiapa yang berniat sesuatu pasti tidak akan mendapat ganjaran dari selain yang ia niatkan."       

   Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan contoh dari niat : "Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya."

⇨ Artinya barangsiapa yang hijrah nya mengharapkan wajah Allah ﷻ, dan ingin mengikuti (ittiba') Rasulullah ﷺ, maka hijrahnya itu mendapat pahala dan balasan, begitupula dengan seluruh amalan, siapa saja yang beramal diniatkan karena Allah ta'ala maka dia akan di balas pahala. Dan siapa saja yang beramal diniatkan karena dunia, kedudukan, popularitas, sum'ah, maka dia sedikitpun tidak akan dibalas pahala. 

   Dan Sabda Rasulullah ﷺ : "Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahi nya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju."

⇨ Artinya siapa saja yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan, atau seorang wanita yang ingin dinikahi nya maka hijrahnya itu untuk apa yang ia tuju tanpa adanya balasan dan pahala dari Allah ta'ala. Begitupula dengan seluruh amalan, siapa saja yang beramal, baik itu amal ketaatan maupun amalan mubah, jika diniatkan kepada selain Allah ta'ala maka amalan tersebut tidak akan di balas pahala. 

📎Kita ambil faidah dari hadits ini :

   Faidah dari hadits ini merupakan asal diterima nya amalan, yaitu ikhlas, karena Allah ta'ala tidak akan menerima amalan seorang hamba tanpa disertai dengan niat yang lurus. 

   Sebagai contoh, siapa saja yang beramal yakni amalan yang tidak diniatkan untuk mendapat pahala dan ganjaran dari Allah, maka amalannya tidak akan di balas pahala. 

   Begitupula siapa saja yang beramal baik itu amal ketaatan atau yang lainnya, jika diniatkan untuk selain Allah, maka amalannya juga tidak akan di balas pahala. 

   seharusnya supaya seorang hamba ingin mendapat balasan pahala dari apa yang ia amalkan, hendaknya amalan tersebut ia niatkan untuk mengharapkan wajah Allah ﷻ dan mengharapkan balasan pahala dari Allah ta'ala. Dan siapa saja yang beramal yakni urusan dunia nya akan tetapi dia niatkan urusannya tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, maka urusan dunia nya dibalas pahala oleh Allah ﷻ.

Sebagai contoh :
📌berbicara, Tatkala engkau berbicara, jika pembicaraan mu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, seperti untuk menyenangkan kedua orang tuamu, atau untuk menyenangkan salah satu orang muslimin, maka pembicaraanmu itu dihitung pahala. 

   Begitupula amalan duniawi, seperti berdagang, buruh, dll,  jika diniatkan untuk untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdagang agar beruntung, atau agar bisa menafkahi keluarga dari yang halal, maka itu  dihitung pahala. 

   Begitupula saat  menjenguk orang sakit, jika engkau menjenguk orang sakit berharap agar mendapatkan pahala dari Allah, maka itu dihitung pahala. 

   Adapun jika engkau tidak meniatkan segala amalan duniawi mu agar mendapatkan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah, maka amalan duniawi mu itu tidak dihitung pahala. 

   Engkau akan takjub saat membaca kisah keikhlasan para salaf berikut ini :

   Hasan bin abi sinan رحمه الله, istrinya berkata tentangnya : "terkala beliau datang dan masuk ke kamarnya, beliau merangkulku, seperti seorang wanita yang merangkul bayinya, dan ketika dia tau bahwa aku telah tertidur, diapun pelan-pelan pergi untuk sholat."

   Lihatlah keikhlasannya, beliau menunggu istrinya tidur terlebih dahulu kemudian sholat sendirian, sholatnya seperti orang yang banyak dosanya, beliau tidak ingin orang-orang mengetahui dirinya sedang sholat kecuali Allah ﷻ.

   Dan Amru bin Qais رحمه الله yang senantiasa berpuasa selama 20 tahun berturut turut tanpa diketahui keluarganya, beliau mengambil makanannya, lalu pergi ke toko untuk menyedekahkan makanannya, sehingga beliau berpuasa, dan keluarga nya tidak mengetahui itu.

Dan Muhammad bin wasi' رحمه الله : beliau pernah menangis selama 20 tahun, dan istri yang bersamanya tidak pernah mengetahui itu. 

Imam Syafi'i رحمه الله berkata : "aku telah menyuruh orang-orang yang belajar ilmu dariku, agar tidak menisbatkan namaku pada ilmu tersebut satu huruf pun."

Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata : "amal perbuatan tanpa keikhlasan, dan tanpa meneladani Rasulullah ﷺ seperti musafir yang mengisi kantong nya dengan pasir yang banyak sehingga hanya memberatkannya dan tidak bermanfaat baginya." artinya dia banyak beramal namun amalannya tidak dibalas pahala. 

Ya'kub al makfuf رحمه الله berkata : "Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekan nya."

Semoga kita termasuk kedalam orang orang yang ikhlas dari generasi salaf terdahulu. 

Kita cukupkan sampai disini, Segala Puji bagi Allah yang dengan nikmatnyalah sempurna segala kebaikan. 

Sumber : 📚Kitab Syarah Arba'in Nawawiyah

✍🏻 Al-Quran Pedia 

(Diselesaikan pada hari selasa 5 Sofar 1442 H / 22 September 2020 M) 

Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan

Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan
Nasehat Syaikh ‘Utsaimin Untuk Menghafal Matan

AlQuranPedia.Org – Matan-matan ilmiyyah merupakan bagian daripada ilmu yang telah diwariskan oleh para ulama kita sejak dahulu. Mutun atau matan-matan ilmiyyah ini bisa berupa matan kitab aqidah, kitab fiqih, kitab hadits bahkan kitab lughoh. Kita melihat bahwa menghafal matan adalah tradisi dari para ulama kita, menghafalnya mengokohkan pondasi ilmu kita dan meremehkannya adalah peremehan terhadap ilmu. Dengan menghafal, kita akan lebih mudah memahami kitab-kitab ulama, kalam ulama dan untaian-untaian hikmah dari para ahli ilmu. Sehingga dengan itu kita pun dapat mengamalkan ilmu secara maksimal.


Pertanyaan diajukan kepada Faqihuz Zaman, Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah : Penuntut ilmu pemula mungkin mengalami kesulitan untuk menghafal, maka apa nasihat Anda mengenai itu?

Jawaban : Na’am, menurutku penuntut ilmu pemula hendaknya antusias menghafal matan karena sebagaimana aku katakan masa muda tidak akan lupa (mudah untuk menghafal). Menghafal matan adalah ilmu. Dan jangan perhatikan ucapan orang yang berkata, “Ilmu adalah pemahaman”. Ini kekeliruan! Karena tidaklah Allah memberi kita manfaat melainkan dengan apa yang pernah kita hafal di masa muda sehingga kita bisa menyebutkan ungkapan-ungkapan yang dulu pernah kita hafal. Oleh karena itu engau akan dapati orang-orang yang hanya bersandar dengan pemahaman, tidak memiliki ilmu. Sungguh terjadi, karena mereka tidak bersandar pada apapun. (selesai dari rekaman tanya jawab beliau).

Nasehat yang sangat agung ini hendaknya diperhatikan oleh kita kaum muslimin. Jangan sampai kita terperdaya dengan ucapan sebagian orang yang mengatakan “tidak penting menghafal, yang penting faham”. Hendaknya kita mengatakan “menghafal itu penting, dan pemahaman juga penting”. Dengan menghafal ilmu itu akan lebih membekas, lebih kekal dan lebih mudah difahami. Dan sekali lagi ini merupakan kebiasaannya para ulama kita, dari sejak dahulu hingga sekarang. Kita lihat bagaimana kokohnya ilmu mereka disertai hafalan yang luar biasa. Kita lihat ada Imam Bukhari yang hafal ratusan ribu hadits, ada Imam Ahmad yang hafal satu juta hadits, ada Imam Syafi’i yang hafal Muwatho’ Imam Malik sedari kecil. Untuk zaman sekarang ada Syaikh Dr. Amir Bahjat (beliau keturunan dari Syaikh Ahmad Al-Minangkabawi), kemudian ada Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi dan banyak lagi ulama-ulama lainnya. Mereka semua memiliki perhatian dalam menghafal ilmu, baik itu Al-Quran, Hadits maupun matan-matan ilmiyyah.

Tetapi ada baiknya untuk memprioritaskan menghafal Al-Quran terlebih dahulu, karena inilah metode para ulama kita yang diwariskan kepada hingga sekarang. Dan ini pulalah yang dinasehatkan oleh para ulama kita. Hampir-hampir tidak ada ulama yang tidak hafal Al-Quran 30 juz. Karena Al-Quran adalah sumber utama ilmu, di mana tidak ada yang dapat menyainginya dari perkataan siapapun.


Al-Imam Ibnu Jama’ah rahimahullaah mengatakan, “Hendaklah (penuntut ilmu) memulai dengan Kitabullaahil `Aziiz, menghafalkannya dengan mutqin (betul-betul matang), bersungguh-sungguh memahami tafsirnya, dan semua ilmunya (ilmu Al-Quran). Karena,  Al-Quran adalah pokok ilmu, induknya, dan yang paling penting”. (Kitab Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim hal. 167-168)

Setelah menghafal Al-Quran, memutqinkannya, benar-benar menguasainya, lalu silahkan menghafal hadits-hadits ataupun matan-matan ilmiyyah dari karangan para ulama kita. Semoga Allah menganugerahkan kita semangat untuk menghafal ilmu, terutama dalam menghafal Al-Quran dan kitab-kitab para ulama. Semoga bahasan sederhana ini bermanfaat.

Diselesaikan pada 26 Syawwal 1441 Hijriyah/18 Juni 2020 Masehi.

Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir

Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir
Tentang Sebutan Jamaah Tahdzir

AlQuranPedia.Org – Penulis pernah mendapat ceramah dari seorang ustadz hafidzhahullah bahwa beliau mengatakan penamaan Jamaah Tahdzir itu tidak diperbolehkan dengan beberapa sebab yang beliau utarakan. Perlu diketahui Jamaah Tahdzir adalah penamaan yang diberikan kepada mereka yang ghuluw terhadap tahdzir, di mana tahdzir-tahdzir mereka banyak sekali tidak dibangun di atas hujjah yang kuat dan ilmiyyah. Kalau pun mereka mempunyai hujjah maka hujjah tersebut lemah dan dapat dijawab secara ilmiyyah. Tahdzir yang mereka dengung-dengungkan pun banyak mengenai permasalahan khilaf ulama. Misalnya dalam perkara foto, video, suatu yayasan, seorang ulama dan perkara lainnya. Padahal ini ranah khilaf.

Betul ada ulama yang keras dengan keharaman foto seperti Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Muhammad Al-Imam, banyak masyaikh Yaman serta masyaikh lainnya hafidzhahumullah. Tetapi ada pula ulama yang berpendapat bolehnya foto dengan menjelaskan bahwa tashwir berbeda dengan foto. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khutslan hafidzhahullah.


Sama halnya dengan dakwah melalui video ataupun sejenisnya. Ada sebagian ulama yang memilih berdakwah tidak dengan video seperti Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Abdul Karim Al-Khudair dan lainnya. Bahkan seperti Syaikh Rabi’ cukup keras dalam masalah ini. Tetapi sebagian ulama bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit berdakwah dengan video seperti Syaikh Shalih As-Suhaimy, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily, Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, dan lainnya. Bahkan meskipun Syaikh Shalih Al-Fauzan didapati fatwa tidak memperbolehkan dakwah melalui video akan tetapi didapati banyak kita jumpai video ceramah beliau baik di internet, youtube atau lainnya. Dan itu bukan hanya video siaran langsung saja, tetapi ada yang seperti video rekaman di suatu studio dan direncanakan, dan beliau insya Allah sadar akan hal ini.

Kita melihat meskipun mereka para ulama berbeda pendapat, tetapi tidak pernah kita dapati di antara mereka saling mencela, melabeli dengan laqob-laqob yang buruk, bahkan sampai mentahdzir dan mengeluarkannya dari ahlussunnah. Ini berbeda dengan mereka “Jamaah Tahdzir” yang mana mereka tidak segan-segan mentahdzir dan mentabdi’ bagi yang tidak sependapat dengan mereka, padahal banyak di antaranya dikarenakan perkara khilafiyyah. Siapakah yang mereka ikuti? Ulama mana yang mereka ikuti dalam hal ini? Syaikh Rabi’, Syaikh Abdullah Bukhari, Syaikh Muhammad Bazmul? Sepertinya tidak. Allahul Musta’an. Lalu mengenai laqob Jamaah Tahdzir ada sedikit faidah yang penulis dapat dari Al-Ustadz Muhammad Alif hafidzhahullah.

Pertanyaan ditanyakan kepada Al-Ustadz Muhammad Alif, Lc hafidzhahullah:
“Kalau jamaah tahdzir apa ada pengistilahannya dari ulama ya ustadziy? Atau ada ulama yang mendahului laqob tersebut? Sebab bagi sebagian besar dari mereka yang ‘merah jambu’ lebih sering menggunakan laqob ini untuk melabeli orang-orang yang mentahdzir mereka dari pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna ataupun Sayyid Qutub. Bahkan terkadang mereka memberi istilah lain kepada jamaah tahdzir dengan laqob “madkholiyyun”. Agar tidak terjadi kekeliruan di kalangan ikhwah salafiyyin tentang istilah jamaah tahdzir.”


Al-Ustadz Muhammad Alif, Lc hafidzhahullah menjawab:
1. Sebagian masyayikh biasa menyebut orang-orang yang melampui batas/serampangan dalam mentahdzir saudara mereka dari kalangan salafiyyin dengan sebutan "Ghulatu Haddadiyah atau Atba' Haddadiyah". Maka sebutan jamaah ghulatu tajrih, tahdzir wa tabdi' terhadap mereka yang serampangan dalam mentahdzir salafiyyin adalah boleh dan juga dibenarkan oleh sebagian masyayikh, bahkan ini lebih ringan dari pada sebutan "Ghulatu haddadiyah".

Sebagaimana mereka mengelari saudara-saudara mereka salafiyyin lainnya yang tidak sepakat dengan suatu fatwa/permasalahan dengan mereka disebut dengan mumayyi'ah atau jamaah tamyi'.

2. Kadang suatu ungkapan bisa saja di pakai ahlis sunnah untuk mereka yang menyimpang, tetapi juga kadang dipakai oleh ahlul bida'/orang yang menyimpang terhadap salafiyyin. Maka:

العبرة بالحقائق لا بالمسميات

Seperti ungkapan jamaah tahdzir, tajrih wa tabdi' kadang dipakai oleh harokiyun/"merah jambu " untuk mengelari salafiyin yang membantah kelompok mereka dan tokoh-tokoh mereka yang menyimpang. Atau gelar Murji’ah disematkan oleh takfiriyin kepada salafiyyin. Padahal laqob Murji’ah juga dipakai para ulama untuk menggelari mereka  yang menafikan amalan daripada iman.

3. Adapun laqob madkhaliyun/madakhilah maka ini telah dibantah para ulama, tidak benar. bahkan Syaikh Rabi' hafidzahullah sendiri berlepas diri dari gelar tersebut.

4. Kita sepakat dalam menyikapi harokiyyin/ahlul bida' yang jelas-jelas penyimpangan mereka di luar Manhaj Salaf, tetapi yang jadi masalah adalah sikap sebagian dari salafiyyin kepada salafiyyin lainnya yang berselisih dalam perkara-perkara ijtihadi kemudian disikapi seperti mensikapi harokiyyin/ahlul bida'. Ini yang menimbulkan tahdzir, tajrih, tabdi' serampangn, apalagi tidak dibangun diatas ilmu dan adab khilaf.
(selesai jawaban al-ustadz)

Kemudian Ustadz Muhammad Alif hafidzhahullah menambahkan, “Meskipun mereka mentahdzir dan membid’ahkan kita, tetapi kita tetap menganggap mereka saudara-saudara kita ahlis sunnah tetapi memiliki sikap ghuluw dalam bab ini.”


Semoga faidah ringkas ini bermanfaat.

Diselesaikan pada 26 Syawwal 1441 Hijriyah/18 Juni 2020 Masehi.

Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?

Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?
Ada Apa Dengan Gunung Tihamah?

AlQuranPedia.Org – Gunung Tihamah adalah salah satu gunung yang terletak di negeri Yaman. Gunung Tihamah ini adalah gunung yang tinggi dan besar. Gunung ini disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam salah satu haditsnya yang mulia.

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini hasan)

Hadits yang mulia ini menyebutkan tentang seseorang yang bermaksiat di kala sepi. Sungguh dahsyat sekali dampak yang didapat bagi kita yang berani memaksiati Allah di kala sendirian, di saat tidak ada seorang pun yang bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya seperti orang yang berbuat amal sangat banyak seperti besarnya gunung Tihamah lalu Allah jadikan amal tersebut seperti debu yang bertebaran.

(Baca Juga : Hari H nya Kiamat)

Mungkin timbul di benak kita kenapa kok bisa seperti itu, amal yang susah payah kita kerjakan malah dijadikan debu yang bertebaran. Jawabannya sederhana, karena ketika itu kita menganggap Allah lebih rendah dari manusia, lebih rendah dari siapapun. Kita takut manusia melihat dosa yang kita lakukan di kala sepi, entah itu melihat yang haram, mendengar yang haram ataupun melakukan yang haram. Kita takut bila kita ketahuan melakukan maksiat. Sehingga kita pun menutup pintu kamar kita rapat-rapat. Bila kita melihat yang haram dengan handphone kita di kamar kita, lalu seseorang tiba-tiba masuk ke kamar kita, maka kita pun bersegera mematikan handphone kita, mengganti tampilannya dan menutup rapat-rapat apa yang telah kita lihat.

Kita seolah-olah mengecilkan Allah Yang Maha Besar, mengabaikan Allah Yang Maha Melihat dan Mengetahui. Ketika kita bermaksiat, kita takut manusia melihat kita, tetapi kenapa kita tidak takut kepada Allah? Padahal Allah adalah satu-satunya Dzat yang paling berhak kita takuti. Kita tahu Allah Maha Melihat,  tetapi kenapa kita seolah beranggapan Allah tidak Melihat kita? Takutlah kita kepada Allah wahai saudaraku...

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. An-Nisaa’: 108).

Tidak takutkah kita kepada Allah? Tidak takutkah kita kepada adzab Allah yang pedih? Tidak takutkah kita amal sholat, puasa, baca Al-Quran, sedekah yang selama ini kita kerjakan dijadikan Allah debu yang beterbangan? Tidak takutkah kita bila tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawa kita? Ingat bahwa malaikat maut itu mencabut nyawa tidak pandang bulu. Kapan saja, siapa saja, di mana saja, malaikat maut bisa mencabut nyawa kita seketika itu juga.

Betul, maksiat itu lezat, nikmat dan enak. Tetapi itu hanya bersifat sementara. Setelah itu penyesalan dan penyesalan. Ingatlah bahwa maksiat akan mengundang teman-temannya. Sekali kita melakukannya maka kita akan tergoda melakukannya terus-menerus. Sulit untuk keluar dari kubangan dosa dan maksiat, apalagi bila itu mendarah daging. Karena setiap satu dosa yang kita lakukan, itu akan menimbulkan noda di hati kita. Itu akan terus bertambah dan bertambah seiring bertambahnya dosa yang kita lakukan. Semakin banyak noda maka akan semakin sulit untuk bersihnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan)


Memang di zaman ini sangat mudah sekali bermaksiat di kala sendiri. Cukup menggerakkan jari kita untuk mengetik lalu keluarlah apa-apa yang diharamkan Allah Jalla Jalaluh. Jangan beranggapan tidak apa bermaksiat sekali lalu bertaubat. Wahai saudaraku, apakah ada jaminan kita masih hidup setelah bermaksiat kepada Allah? Tidak ada. Malaikat maut tidak menunggu kita sudah bertaubat atau belum. Tidakkah kita membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kelak kita akan berdiri di hadapan Allah dan dihisab?

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Maka bertaubatlah kita kepada Allah. Takutlah kita kepada Allah. Sudahi maksiat-maksiat yang pernah kita kerjakan. Semua yang pernah kita kerjakan kelak akan dihisab oleh Allah Ta’ala, termasuk mata, tangan, bahkan handphone kita kelak akan dihisab. Jangan sampai kita kelak termasuk ke dalam firman Allah di bawah ini.

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (20) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (21) وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (22)

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Fushshilat : 20-22)


Penulis teringat pesan di salah satu ceramah Al-Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, Lc hafidzhahullah. Beliau mengatakan, “Ingat 2 ayat ini sebelum anda bermaksiat, dan keduanya ada di surah Al-‘Alaq” Lalu beliau membacakan Surah Al-‘Alaq ayat 8 dan ayat 14.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). (Q.S. Al-‘Alaq : 8)

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (Q.S. Al-‘Alaq : 14)

Ini adalah faidah yang sangat besar sekali yang diberikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin hafidzhahullah. Ayat ke 8 seakan-akan menjelaskan bahwa kita kelak akan dikembalikan kepada Allah, tidakkah kita mengetahui itu? Kita kelak akan dikembalikan lalu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang sudah kita kerjakan semasa hidup di dunia. Kita akan dihisab, maksiat-maksiat kita kelak akan ditimbang. Kemudian ayat 14 seolah-olah ingin menyampaikan bahwa Allah itu melihat kita, termasuk maksiat kita, apakah kita tidak malu, apakah kita tidak takut kepada Allah? Lantas apakah kita masih mau bermaksiat setelah mengetahui kedua ayat ini?

Sebagai penutup mari kita renungi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bawah ini.

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. Al-Jumu’ah : 8)

Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 17 Syawwal 1441 Hijriyah/8 Juni 2020 Masehi.

Jadilah Muslim yang Produktif

Jadilah Muslim yang Produktif
Jadilah Muslim yang Produktif
AlQuranPedia.Org – Sesungguhnya Allah Jalla Wa ‘Ala telah memberikan waktu bagi setiap manusia sama banyaknya, yaitu 24 jam. Perlu diketahui bahwa setiap detik dari 24 jam yang kita lalui setiap harinya kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai kita mengira bahwa setelah kita mati, sudah selesai, tidak ada apa-apa lagi. Justru setelah kita mati itulah babak yang menakutkan dan mengerikan bagi setiap hamba. Karena kita akan melewati fase-fase hisab dan mizan, di mana semua jiwa raga waktu kita seluruhnya akan ditanyai oleh Robbul ‘Alamin.

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketika kita sudah mengetahui bahwa kelak akan ada hisab tentang waktu kita maka sudah seharusnya kita menggunakannya sebaik-baiknya, khususnya bagi kita yang masih muda, di mana indera-indera kita, kemampuan kita, fisik dan jasmani kita masih jauh lebih kuat dan lebih segar dibanding yang sudah berusia tua. Hendaknya kita isi waktu kita, 24 jam dari waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat baik itu untuk dunia dan akhirat kita. Tentu saja yang lebih diutamakan adalah perihal akhirat agar memperberat timbangan amal sholih kita. Ketahuilah bahwa di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Pilihannya hanya ada dua, bila seseorang tidak mengerjakan perkara yang bermanfaat, maka dia akan terjatuh pada perkara yang tidak bermanfaat. Bila waktu tidak diisi dengan kebaikan, maka waktu akan diisi dengan hal keburukan atau setidaknya hal yang sia-sia.

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” [Al Jawabul Kaafi hal. 156, Darul Ma’rifah, cet. pertama, Asy-Syamilah]

Dengan kata lain, Islam mengajarkan kita untuk menjadi muslim yang produktif, muslim yang mengisi waktu demi waktunya dengan kebaikan dan amal sholih, bukan dengan hal yang sia-sia seperti bermain game atau bermain hp yang tidak bermanfaat. Di antara kegiatan produktif yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Menghafal Al-Quran, yaitu dapat dijadwalkan untuk hafalan per hari atau rutinnya berapa banyak. Sebagaimana nasehat Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzhahullah bahwa bila setiap hari kita menghafal 1 ayat maka dalam jangka 15 tahun kita sudah bisa hafal 30 juz. Bayangkan saja bila kita perhari menghafal 2 ayat atau bahkan 10 ayat maka kita bisa menghafal Al-Quran 30 juz dalam jangka waktu lebih singkat. Ingatlah bahwa keutamaan menghafal Al-Quran sangatlah besar, di antaranya dapat memberikan mahkota dan pakaian kemuliaan bagi kedua orangtua di surga, dapat menaiki derajat surga lebih tinggi, bersama malaikat-malaikat Allah yang mulia, dan termasuk keluarga Allah di dunia.

Dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Ditawarkan kepada Penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud 1466, Tirmidzi 3162 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

2. Menghafal Hadits, ini juga tidak kalah pentingnya karena keutamaan yang besar yang dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi ini merupakan kebiasaan kaum salaf terdahulu, mereka menghafal Al-Quran dan hadits-hadits sedari kecil, misalnya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, menghafal Al-Quran di waktu 7 tahun dan menghafal kitab Muwatho’ Imam Malik saat berusia 10 tahun. Padahal Muwatho’ berisi ribuan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bisa memulai menghafal hadits yang ringan-ringan seperti Arba’in An-Nawawi, Arba’in Abu Unaisah (karangan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat), lalu naik ke Umdatul Ahkam, lalu Bulughul Maram, Riyadush Sholihin, kemudian boleh bagi kita memulai menghadap kitab hadits yang 9, dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ad-Darimi, Musnad Imam Ahmad dan Muwatho’ Imam Malik. Dan sebenarnya masih banyak lagi kitab-kitab hadits yang lain tetapi itu adalah secara umum yang cukup dikenal. Dapat kita jadwalkan dalam satu pekan untuk menghafal hadits-hadits ringan yang terdapat di Arba’in Nawawi dan seterusnya. Kalau merasa berat untuk menghafal sanad dan rawi-rawinya, maka bisa dihafalkan matannya saja. Hal yang terpenting kita memiliki jadwal hafalan hadits harian lalu mengamalkannya agar hafalan tersebut semakin hidup.

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya -dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya-, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya.” (HR. Abu Dawud (no. 3660), At-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), Ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), Ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul Kabiir” (no. 4890) dan lainnya, hadits shahih dan mutawatir)


3. Membaca kitab/buku bermanfaat, alhamdulillaah sudah banyak sekali kitab/buku bermanfaat saat ini, mudah ditemukan, terjangkau harganya, bahkan versi terjemahannya sudah banyak. Ustadz-Ustadz kita juga banyak yang produktif menulis buku seperti Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Abu Umar Basyir, dan lain-lain. Hendaknya setiap muslim memiliki jadwal membaca buku harian, kalau nasehat Ustadz Yazid setidaknya 4 jam dalam sehari digunakan untuk membaca buku bermanfaat. Buku yang bermanfaat di sini dimaksudkan adalah buku agama, bukan novel atau buku fiksi lainnya yang tidak menambah keimanan kepada Allah Ta’ala.

4. Membaca Al-Quran, sebagaimana yang kita ketahui bahwa membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang sangat besar sekali. Satu-satunya buku/kitab yang mana bila dibaca per hurufnya akan mendapatkan pahala. Maka hendaknya setiap muslim memiliki kadar membaca Al-Quran harian yang senantiasa ia jaga. Setidaknya satu halaman untuk satu hari itu sudah sangat minimal sekali. Kalau bisa tentu saja sekian halaman atau 1 juz dalam satu hari, atau bahkan lebih daripada itu. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk menimbun pahala kebaikan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

5. Menulis sesuatu yang bermanfaat, sesungguhnya kemudahan teknologi yang saat ini kita rasakan jangan sampai kita sia-siakan terlewat begitu saja. Kita memiliki smartphone ataupun laptop dalam berbagai merk yang dapat dimanfaatkan untuk menulis sesuatu kemudian dibagikan kepada kaum muslimin. Kita mungkin memiliki media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lain sebagainya. Itu bisa kita maksimalkan sebagai gudang simpanan pahala kita. Jadwalkan setidaknya satu pekan sekali untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat. Kita bisa copy paste dari artikel ataupun postingan ustadz-ustadz kita yang tersebar di google maupun media sosial mereka masing-masing. Jangan lupa mencantumkan sumbernya agar tulisan lebih terpercaya dan tentu saja itu merupakan salah satu adab yang mulia.

Dari 'Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

6. Menonton kajian agama, alhamdulillaah ceramah ustadz-ustadz kita banyak sekali tersebar di internet terutama Youtube. Ada kajian pendek, kajian tematik bahkan kajian rutin kitab juga ada. Maka ini bisa kita maksimalkan dengan semaksimal mungkin. Kita dapat menjadwalkan setidaknya satu pekan untuk menonton satu ceramah full atau mendengarkan ceramah-ceramah pendek dalam satu hari. Selain ini menambah ilmu agama kita, hal ini juga dapat membantu kita untuk istiqomah di atas sunnah dan tentu saja menumbuhkan kebiasaan baik bagi diri kita. Jangan lupa ketika menonton kajian untuk mencatat faidah-faidah sehingga akan lebih kekal dan sewaktu-waktu dapat diulang pelajari kembali.


Itulah kegiatan-kegiatan yang dapat menjadikan kita produktif sebagai seorang muslim. Dan ingatlah bahwa setiap detik kelak akan dihisab Allah sehingga kita haruslah memaksimalkan untuk mengisi waktu kita dengan amal sholih ataupun perkara bermanfaat keduniaan lainnya. Kalau nasehat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah maka berlelah-lelahlah kita sekarang di dunia agar nanti bisa menikmati hasilnya di akhirat.

سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(Istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 15 Syawwal 1441 Hijriyah/7 Juni 2020 Masehi.

Apakah Yesus Tuhan? (Risalah Debat Syaikh Ahmad Deedat)

Apakah Yesus Tuhan? (Risalah Debat Syaikh Ahmad Deedat)

AlQuranPedia.Org – Mungkin kita sering mendengar nama Syaikh Ahmad Deedat, seorang kristolog dan pakar debat Islam-Kristen yang berasal dari Afrika Selatan. Syaikh Ahmad Deedat itu tidak lulus SD, tetapi bisa mengalahkan ratusan bahkan ribuan pembelajar Kristen yang bertitel tinggi baik dari kalangan Teolog Kristen, Pendeta maupun Pengkhotbah Kristen. Sebut saja lawan debat Syaikh Ahmad Deedat di antaranya adalah Anis Shorrosh, Jimmy Swaggart, Stanley Sjoberg, dan Dr. Douglas. Anda semuanya bisa menikmati video debat mereka semua bersama Syaikh Ahmad Deedat di YouTube, bahkan sudah ada translatenya ke dalam Bahasa Indonesia.

Menurut saya debat terbesar Syaikh Ahmad Deedat adalah ketika beliau berdebat dengan Dr. Anis Shorrosh di Royal Albert Hall, Inggris dengan tema debat “Is Jesus God?”, yang artinya “Apakah Yesus Tuhan?”. Video debat keduanya juga ada di Youtube, bahkan khusus bagian Syaikh Ahmad Deedat maka sudah ada translatenya dalam bahasa Indonesia. Berikut saya sertakan linknya. Apabila tidak bisa silahkan menghubungi kami, kami akan berikan filenya bila Anda mau.

Full Debat dalam Bahasa Inggris (https://www.youtube.com/watch?v=a3bR02t-yZY)
Materi Syaikh Ahmad Deedat (Bahasa Indonesia) (https://www.youtube.com/watch?v=z-D7HJsddaA&t=2724s)

Saya tertarik ingin membahas sedikit tentang hujjah-hujjah dan penjelasan yang dibawa oleh Syaikh Ahmad Deedat yang sangat luar biasa. Menurut saya beliau sudah membawakannya dengan sangat apik dan merangkum inti-inti persoalan yang sedang dibahas. Syaikh Ahmad Deedat membahas tentang ketuhanan Yesus, Trinitas, sifat manusia Yesus, mukjizat Yesus, penjelasannya serta bantahan-bantahannya yang bisa diterima secara ilmiah dan logika berfikir kita. Insya Allah dengan izin dan pertolongan Allah saya akan berusaha membahasnya satu per satu.

1. Mana Pernyataan Yesus “Aku adalah Tuhan” atau “Sembahlah Aku”?
Pada bagian pembuka, Syaikh Ahmad Deedat membawakan permasalahan yang simple tetapi sangat mengena. Beliau menjelaskan bila Yesus itu Tuhan, dimana pernyataan Yesus mengatakan “Aku adalah Tuhan” atau “Sembahlah Aku”. Karena ini adalah hal yang paling mendasar dari akidah seseorang yaitu perihal ketuhanan. Bagaimana mungkin menyembah sesuatu yang dia sendiri tidak pernah mengklaim dirinya tuhan. Nyatanya, di dalam Alkitab versi apa saja, baik itu King James Version, Roman Chatolic Version, dan lain-lain, tidak didapati pernyataan Yesus tersebut, baik itu di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Perkataan Yesus yang paling dekat dengan itu adalah ayat Alkitab dalam kitab Wahyu,
"Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1 : 8)

Alfa itu berarti Yang Awal dan Omega berarti Yang Akhir. Tetapi kalau diperhatikan, Kitab Wahyu itu berisi mimpi Yohanes. Dan bila kita lihat isi mimpi Yohannes ini berisi hal-hal yang tidak masuk logika seperti binatang dengan mata di dalam dan di luar, dan tanduk dengan mata padanya. Jadi bila mimpi Yohanes ini menjadi dalil pernyataan ketuhanan Yesus maka ini tidak kuat. Di ceramah lain Syaikh Ahmad Deedat menjelaskan, kalaupun perkataan itu benar maka maksud Yohanes bukanlah Yesus yang mengatakannya, akan tetapi Tuhan (Allah) Yang Maha Kuasa. Karena jelas sekali tidak mungkin Yesus itu Yang Awal karena sudah ada yang mendahuluinya seperti Adam, Nuh, Abraham, Musa dan lain-lain. Dan Yesus juga bukan yang akhir karena setelah Yesus juga ada yang lain.

(Baca Juga : Ilmu Sebelum Berdakwah)

2. Mengenai Trinitas (Tritunggal) – Holy Trinity
Trinitas adalah hal yang sangat sulit sekali dijelaskan oleh orang Kristen itu sendiri, bahkan oleh para pakarnya sendiri. Bagaimana mungkin ada 3 dalam 1 dan 1 adalah 3. Ada Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus. Bahasa jenis apa yang seperti ini, 1+1+1 itu bukan tiga tetapi 1. Di sini Syaikh Ahmad Deedat membuat perumpamaan sederhana, bila ada 3 orang kembar, wajah dan fisiknya persis sama, tidak ada beda ketiganya. Lalu ada salah satu yang terkena kasus kriminal, apakah kita bisa menghukumi yang lainnya? Jadi yang salah yang pertama tapi kita hukum yang kedua. Bolehkan seperti itu? Kita pasti sepakat tidak bisa. Kenapa? Karena mereka berbeda, dan yang membuat mereka berbeda adalah personalitas mereka, kepribadian mereka. Kalau kepribadian mereka berbeda ya jelas mereka orang yang berbeda.

Ketika seorang Kristen berkata “Atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”, maka di dalam fikirannya tergambar 3 sosok yang berbeda. Ketika seorang Kristen menyebut Bapa maka yang ada dalam benaknya bukanlah Anak yaitu Yesus yang disalib, yang ada di benak mereka adalah Bapa yang ada di Sorga. Begitu pula ketika seorang Kristen menyebut Anak (yakni Yesus), maka dalam benaknya bukanlah Roh Kudus yang bagai merpati dsb. Jadi ketiganya tidaklah sama melainkan berbeda. Maka tidak cocok bila dibilang Bapa, Anak dan Roh Kudus itu satu, tetapi sebenarnya adalah 3.

Sebagai tambahan, saya pernah mendengar ada seorang Kristen yang mengatakan misalkan ada rokok, di sana ada puntungnya, ada kertas dan ada tembakaunya. Dia mengatakan kita tidak bisa memisahkan ketiganya karena kalau dipisah maka dia tidak bisa disebut rokok. Nah, apa jawaban kita? Jawaban kita sederhana. Apakah kita bisa sebut tembakau itu rokok? Bisakah kita sebut kertasnya rokok? Tentu tidak bisa. Maka kalau begitu analoginya keliru. Karena dia mengatakan Bapa itu Tuhan, Anak itu Tuhan dan Roh Kudus itu Tuhan. Seharusnya dia juga mengatakan, tembakau itu rokok, puntungnya rokok dan kertas itu rokok. Nyatanya tidak, tembakau itu bukan rokok, akan tetapi tumbuhan yang merupakan bahan dari pembuatan rokok.

3. Mengenai Yesus adalah anak Tuhan
Di dalam agama Islam, haram bagi kita untuk mengatakan Yesus/Isa itu anak Allah bahkan menyatarakannya dengan Allah. Ini bisa menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam. Akan tetapi rata-rata orang Kristen sepakat bahwa Yesus disebut anak Tuhan, bahkan Yesus adalah tuhan yang dilahirkan. Di dalam agama Islam ini adalah penghinaan yang besar kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi tahukah orang-orang Kristen bahwa di dalam Alkitab disebutkan Tuhan itu punya banyak anak, Israel anak Tuhan, Efraim anak Tuhan, dan lain-lain.

maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik,  lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (Kejadian 6 : 2)

Kemudian, kamu harus berkata kepada Firaun, 'Inilah firman TUHAN: Israel adalah anak-Ku, anak sulung-Ku. (Keluaran 4 : 22)

Dengan menangis  mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin  mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa  Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku. (Yeremia 31 : 9)

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. (Roma 8 : 14)

Kesimpulannya, bila ada orang yang taat kepada Allah maka Alkitab menyebutnya dengan anak Allah. Jadi tidak benar bila ini menjadi landasan Yesus adalah Tuhan dengan berdasarkan Yesus adalah anak Tuhan. Karena kalau begitu akan banyak sekali Tuhan, Efraim Tuhan, Israel Tuhan dan lain-lain.

4. Yesus itu bukanlah Bapa
Sebenarnya di dalam ajaran Gereja-Gereja, menyebut Yesus sebagai Bapa adalah terlarang, tidak diperbolehkan dan diasingkan. Karena Yesus sendiri melarang pernyataan itu.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (Matius 23 : 9)

Artinya Yesus bukan Bapa, Bapa itu hanya satu, yaitu Dia yang ada di surga. Yesus tidak menyebut “hanya ada satu Bapamu”, yaitu “Aku”. Tetapi Yesus mengatakan “Dia” yang menunjukkan sesuatu yang lain.

5. Yesus itu manusia
Ini adalah keyakinan di antara murid-murid Yesus itu sendiri, bahwa Yesus itu manusia, yang mana mukjizat-mukjizat itu adalah pekerjaan Allah yang dilakukan melalui Yesus. Di antaranya adalah perkataan Peter.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. (Kisah Para Rasul 2 : 22)

Artinya kekuatan dan mukjizat itu pemberian Allah kepada Yesus, Yesus dapat melakukan mukjizat atas izin dari Allah semata. Dan ini adalah keyakinan muslim juga, bahwa Yesus itu bukan tuhan, tetapi manusia, seorang nabi dan rasul yang diberikan mukjizat atas izin dari Allah.

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku (Isa) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (Q.S. Ali ‘Imran : 49)

6. Tuhan Tidak Dapat Dilihat dan Didengar Suara-Nya
Dan ini disebutkan pada banyak ayat Alkitab

Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang m  Aku dapat hidup." (Keluaran 33 : 20)

Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, (Yohanes 5 : 37)

Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. (1 Timotius 6 : 16)

Maka bila orang Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan, maka orang Kristen sedang membantah Alkitab mereka sendiri. Alkitab mengatakan Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar. Sementara orang Yahudi sering kali melihat Yesus dan mendengar suara Yesus. Ini jelas sekali di dalam sejarah. Maka dari itu orang Yahudi mengejar Yesus, melemparinya, menangkapnya. Jadi kita lebih percaya siapa? Alkitab atau orang Kristen? Anda sendiri yang menjawabnya.


7. Kita Bukan Siapa-Siapa Bila Dibandingkan dengan Tuhan, Termasuk Yesus “Anak Manusia”
Perhatikan ayat Alkitab di dalam Kitab Ayub berikut ini

Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? Sesungguhnya, bahkan bulanpun tidak terang dan bintang-bintangpun tidak cerah di mata-Nya. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!" (Ayub 25 : 4-6)

Siapa saja yang keluar dari rahim seorang perempuan, tidak akan sebanding dan tidak akan pantas bila dibandingkan dengan Tuhan, baik itu Yesus, Musa, Muhammad, Rama, Krishna, ataupun Buddha. Bahkan Yesus “Anak Manusia” adalah ulat. 83 kali Yesus disebut sebagai Anak Manusia dan 13 kali disebut sebagai anak Tuhan di dalam Perjanjian Baru. Lihatlah, Yesus disebut sebagai ulat. Itu artinya sekalipun Yesus tidak layak bila dibandingkan dengan Tuhan. Lalu kenapa dia dijadikan sebagai Tuhan?

8. Tuhan Disunat?
Apakah masuk akal bagi kita, Tuhan yang kita sembah disunat? Coba perhatikan ayat berikut.

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan,  Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2 : 21)

Lalu apakah seseorang yang keluar dari rahim ibunya, itu adalah tuhan kita? Allah kita? Astaghfirullah. Beliau (Yesus) itu manusia, seperti kita, yang membuat Maria tidak suci selama 40 hari. Apakah itu tuhan? Syaikh Ahmad Deedat mengajak semua orang Kristen untuk berfikir.

9. Apakah Tuhan Mati?
Menurut seorang muslim, Yesus itu belum mati dan tidaklah disalib. Sementara menurut orang Kristen, Yesus itu mati di kayu salib, karena manusia tidak dapat memikul dosa-dosa manusia. Apakah bisa kita katakan tuhan mati? Apakah Anda percaya Tuhan mati? Jika Tuhan mati apa yang terjadi apa ciptaan-Nya? Tentu saja akan hancur. Kata orang Kristen, selama 3 hari dan 3 malam Yesus mati di kuburan. Lalu selama 3 hari dan 3 malam itu siapa yang mengatur alam semesta ini? Tentu saja Tuhan itu tidak pernah mati sehingga kalau Dia mati maka dia bukan Tuhan.

10. Yesus Menyatakan Bahwa Bapa Lebih Besar Daripada Dia
Yesus tidak pernah menyamakan antara dirinya dengan Tuhan (Bapa), karena dia tahu bahwa Bapa adalah yang telah mengutus dia menjadi rasul bagi Bani Israel, Bapa lebih besar daripada dia dan dari siapapun di muka bumi ini.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (Yohanes 10 : 29)

Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (Yohanes 14 : 28)

Yesus sendiri pun tidak mampu berbuat apa-apa.

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5 : 30)

Apakah itu tuhan? Tentu saja bukan.

11. Tuhan Bisa Menjadi Manusia?
Dr. Anis Shorrosh menyatakan bahwa Tuhan bisa berbuat apa saja, sehinga bisa menjadi manusia, dan itu contohnya adalah Yesus. Kita katakan bahwa Tuhan bisa berbuat apa saja tetapi yang Dia lakukan adalah yang bersifat ketuhanan. Tuhan tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak bersifat ketuhanan seperti berubah menjadi makhluk-Nya, bahkan Tuhan tidak mungkin menciptakan Tuhan lagi. Karena Tuhan itu tidak ada penciptanya, kalau ada yang menciptakan maka dia bukan tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak awalnya, sesuatu yang sama dengan-Nya? Tidak mungkin. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang tidak diciptakan. Jadi ini bantahan bagi Dr. Anis Shorrosh. Kalau Tuhan berubah menjadi Yesus, alangkah hinanya Tuhan. Untuk apa Tuhan berubah menjadi manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Dan kenapa Tuhan baru berubah saat di zaman Yesus? Saat di zaman Nuh, Abraham, Musa, kenapa Dia tidak berubah?


12. Mukjizat dan Kemampuan Yesus
Yesus memiliki banyak mukjizat, dan itu diimani oleh kaum muslimin dan terlebih lagi kaum Kristen. Dia dapat menyembuhkan orang buta, lepra, orang mati, membunuh 2000 babi, mengeringkan pohon kurma dari akarnya bahkan menenangkan angin topan. Yesus tidak melakukannya sendiri, itu semua dia lakukan dengan kekuasaan dari Allah.   
     
Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. (Lukas 11 : 20)

Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. (Matius 12 : 28)

Darimana dia dapat kemampuan itu semua? Darimana dia dapat mengampuni dosa dan sebagainya? Yesus sudah menjawabnya.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28 : 18)

Jadi kemampuan itu bukan milik Yesus, itu milik Allah yang telah diberikan kepada Yesus. Untuk apa? Agar membuktikan risalah kerasulannya kepada orang Yahudi dan Bani Israel. Bukan sebagai tuhan ataupun sesembahan.

13. Yesus Tidak Tahu Tentang Hari Kiamat
Dr. Anis Shorrosh mengatakan bahwa Al-Quran menyebut Yesus tahu tentang kapan datangnya Kiamat. Ini adalah dusta. Tidak ada ayat Al-Quran yang menyatakan itu. Dia tidak tahu bahwa Alkitab sendiri membantah ucapannya. Hanya Allah (Bapa) sajalah yang tahu.
               
Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu , malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13 : 32)

14. Yesus dan Bapa Adalah Satu?
Banyak orang Kristen berdalilkan dengan ayat Alkitab berikut ini untuk menyatakan bahwa Yesus adalah tuhan

Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10 : 30)

Benarkah hal itu? Mari kita lihat konteks ayatnya yang bermula dari ayat 23.

Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10 : 23-30)

Pada ayat di atas disebutkan tentang orang Yahudi melecehkan Yesus dengan menuduh Yesus perihal Mesias. Orang Yahudi mengatakan Yesus tidak menyatakan dia adalah Mesias. Ini tuduhan. Yesus sudah menyatakan ini, lihatlah jawaban Yesus di atas. Lalu Yesus menjelaskan tentang dirinya dan umatnya. Perhatikan pada kalimat yang saya garis bawahi. Jelaslah bahwa maksud “satu” di sini bukan Yesus menyatu dengan Bapa dalam dzat. Sama sekali tidak. Tetapi “satu” di sini maksudnya adalah sama tujuan. Dan inilah yang benar. Kalau Yesus satu menyatu dzat dengan Bapa, maka akan bertentangan dengan ratusan ayat Alkitab yang menunjukkan Yesus bukan Bapa dan Yesus berbeda dengan Bapa


15. Al-Quran Memberikan Satu Pembelajaran Sederhana
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan di dalam Al-Quranul Karim

Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Q.S. Al-Maa’idah : 75)

Allah menyebut bahwa Yesus dan ibunya (Maria) itu manusia biasa, mereka makan, minum, buang air. Allah ingin menunjukkan bahwa Yesus itu bukan tuhan. Karena tuhan tidak membutuhkan makan dan minum. Bahkan katolik Roma mengatakan Maria itu ibu Tuhan. Alkitab juga menyebutkan bahwa Yesus itu makan dan minum, bahkan pelahap dan peminum, jadi Yesus biasa makan sebagaimana layaknya manusia.

Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum , sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Matius 11 : 19)

16. Yesus Tidak Punya Bapak, Makanya Dia Disebut Tuhan?
Yesus itu tidak punya bapak, beda sama manusia-manusia di dunia ini. Dia lahir secara mukjizat. Makanya itu dia disebut Tuhan. Benarkah? Al-Quran sudah menjawabnya.

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Q.S. Ali ‘Imran : 59)

Ayat di atas menyebutkan bahwa penciptaan Yesus/Isa itu sama dengan penciptaan Adam. Cukup Allah mengatakan “kun” (jadilah), fakayun (maka jadilah sesuatu itu). Jadi, kalau umat Kristen menjadikan Yesus tuhan karena Yesus tidak punya bapak tetapi hanya punya ibu. Seharusnya Adam lebih berhak mereka sembah dan jadikan tuhan karena Adam tidak punya ayah dan tidak punya ibu. Logika sederhana bukan?

Bahkan kalau logikanya seperti itu, maka Melkisedek lebih berhak dijadikan tuhan dan disembah. Karena Melkisedek tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya silsilah, tidak berawal dan tidak  berakhir. Ini adalah sifat-sifat ketuhanan.

Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. (Ibrani 7 : 1-3)

Lantas kenapa orang Kristen tidak menyembah Melkisedek?

17. Yesus Memohon, Meminta Pertolongan
Suatu kisah yang tidak asing di telinga kaum Kristen adalah kisah Penyaliban. Yesus menyeru, memohon kepada Allah. Perhatikan ayat-ayat Alkitab di bawah ini.

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27 : 46)

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  (Markus 15 : 34)

Dia menyeru kepada Allah, ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah tuhan, dia tidak bisa apa-apa, dia menyeru kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan Allah itulah yang memang Tuhan, yang berhak diseru, bukan Yesus.

18. Yesus Menghidupkan Orang Mati
Di Alkitab disebutkan mukjizat-mukjizat luar biasa Yesus dan salah satunya adalah menghidupkan Lazarus, sahabat Yesus. Orang Kristen mengklaim bahwasannya yang bisa menghidupkan orang mati itu adalah tuhan. Kita katakan, coba Anda buka kisahnya di Alkitab dan baca perlahan. Kisahnya cukup panjang, dimulai dari Yohanes pasal 11 dari ayat pertama sampai ayat 44. Saya tidak akan kutip semuanya, tetapi dari ayat 38.

Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah? Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." (Yohanes 11 : 38-44)

Perhatikan kalimat yang saya garis bawahi. Sebelum membangkitkan Lazarus, Yesus memohon kepada Allah, yaitu Bapanya, berdoa memohon dengan khusyu’ dan penuh harap. Lalu barulah Yesus menyeru Lazarus untuk bangkit dan bangkitlah Lazarus dari kematian. Maka kalau kita perhatikan lagi ayatnya huruf per huruf, kalimat per kalimat. Maka Yesus membangkitkan Lazarus itu atas kekuasaan Allah yang diberikan kepada Yesus, makanya Yesus mengatakan “supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku”. Maksud Yesus adalah dengan mukjizat membangkitkan Lazarus itu, orang-orang Yahudi akan percaya bahwa Yesus adalah utusan Allah, Rasul Allah, bukan Tuhan. Dan ini sesuai dengan kepercayaan kaum muslimin. Kalau Yesus tuhan, dia tidak perlu memohon kepada Allah. Dia akan langsung membangkitkan Lazarus dengan kekuatannya. Tetapi lagi-lagi Yesus menunjukkan bahwa dia hanyalah utusan, bukan tuhan yang mengutus.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. (Yohanes 13 : 16)

Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. (Yohanes 14 : 24)

Sebagai penutup dari penulis pribadi, maka penulis mengajak agar mengikuti Yesus Kristus dengan sebenar-benarnya sebagaimana yang dikatakan Alkitab bahwa dia adalah utusan, manusia biasa, yang mana Allah utus dia kepada domba-domba yang hilang dari Israel. Jangan sampai kita mengikuti Paulus dan orang-orang sejenisnya yang mengatakan Yesus itu tuhan.


Jadi itulah sedikit tulisan saya mengenai risalah debat antara Syaikh Ahmad Deedat dan Dr. Anis Shorrosh. Semoga Allah merahmati dan mengampuni Syaikh Ahmad Deedat dan memasukkannya ke dalam surga Firdaus-Nya yang tinggi karena besarnya jasanya kepada ummat. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Walhamdulillaahi robbil ‘alamin..

Diselesaikan pada 14 Ramadhan 1441 Hijriyah/7 Mei 2020 Masehi.