Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Islam. Show all posts

Macam-Macam Sholat Sunnah Rawatib

Macam-Macam Sholat Sunnah Rawatib
Macam-Macam Sholat Sunnah Rawatib

AlQuranPedia.Org – Sholat sunnah rawatib adalah sholat sunnah yang mengiri sholat Fardhu 5 waktu. Jadi sholat fadhu itu ada sholat pengiringnya, ada yang sebelum dan ada yang sesudah. Hal itu tentu saja didasarkan pada dalil-dalil yang shahih. Lantas kenapa kita sangat dianjurkan melaksanakan sholat sunnah rawatib? Alasannya sangatlah banyak. Di antaranya adalah kita dapat mencontohi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kita akan diberi ganjaran berupa pahala dan banyak keutamaan. Terlebih lagi sholat sunnah dapat menutupi kekurangan yang ada pada sholat wajib kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.” (HR. Abu Daud no. 864. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Bahkan amalan sunnah yang kita kerjakan bisa menjadi sebab kecintaan Allah kepada kita.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)

Pada tulisan kali ini kita akan membahas sedikit mengenai macam-macam sholat sunnah rawatib yang didukung oleh nash-nash dalil yang shahih. Simak selengkapnya.

1. Sholat Sunnah Subuh
Sholat rawatib subuh hanya ada satu, yaitu 2 rakaat sebelum subuh. Ini adalah sholat sunnah yang mendapat perhatian sangat besar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai beliau tidak pernah meninggalkannya baik itu sedang safar ataupun mukim.

‘Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menjaga shalat sunnah yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh.  (HR. Muslim no. 724)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)

2. Sholat Sunnah Dzuhur
Cara pengerjaan sholat sunnah rawatib Dzuhur ada 3 cara, yakni:

1) 2 Rakaat Sebelum dan 2 Rakaat Sesudah Dzuhur
Dalilnya adalah:
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 1180)

2) 4 Rakaat Sebelum dan 2 Rakaat Sesudah Dzuhur
Dalilnya adalah:
Dari Abdullah bin Syaqiq, beliau mengatakan bahwa beliau menanyakan pada Aisyah tentang shalat sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aisyah lantas menjawab, "Beliau biasanya mengerjakan shalat 4 rakaat sebelum zhuhur di rumahku. Lalu beliau keluar untuk shalat zhuhur bersama para sahabat. Kemudian beliau masuk rumah dan mengerjakan shalat 2 rakaat." (HR. Muslim, no. 730)

 3) 4 Rakaat Sebelum dan 4 Rakaat Setelah Dzuhur
Dalilnya adalah:
Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 428; Ibnu Majah, no. 1160. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih)


3. Sholat Sunnah Ashar
Sholat rawatib Ashar ada 2, yaitu 4 rakaat sebelum dan 2 rakaat setelah Ashar.

1) 4 Rakaat Sebelum Ashar
Dalilnya adalah:
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat sebelum Ashar. (HR. Ahmad 5980, Abu Daud 1271, Tirmidzi 430, dan dihasankan Al-Albani)

2) 2 Rakaat Sesudah Ashar
Dalilnya adalah:
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata, “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum Fajar/Shubuh dan dua raka’at setelah ‘Ashar.” (HR. Bukhari nomor 566-567 dan Muslim nomor 835)

Catatan: Mengerjakan 2 rakaat setelah Ashar memiliki batasan waktu, sepanjang matahari masih tinggi dan putih (belum kuning kemerah-merahan), hal ini sebagaimana riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

4. Sholat Sunnah Maghrib
Sholat Maghrib memiliki 2 sholat sunnah rawatib, yaitu 2 rakaat sebelum dan sesudahnya.

1) 2 Rakaat Sebelum Maghrib
Dalilnya adalah:
Dari ‘Abdullah bin Mughoffal Al-Muzani radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at bagi siapa yang mau.” Karena hal ini dikhawatirkan dijadikan sebagai sunnah. (HR. Abu Daud no. 1281. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2) 2 Rakaat Sesudah Maghrib
Dalilnya berdasarkan keumuman hadits 12 rakaat sholat sunnah rawatib.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidz no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

5. Sholat Sunnah ‘Isya’
Sholat sunnah ‘Isya memiliki 2 cara jenis sholat sunnah, yaitu 2 rakaat sesudahnya dan 4 rakaat sesudahnya.

1) 2 Rakaat Setelah Isya
Dalilnya berdasarkan keumuman hadits 12 rakaat sholat sunnah rawatib.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidz no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2) 4 Rakaat Setelah ‘Isya’
Sholat sunnah ini jarang sekali diketahui dan dikerjakan kaum muslimin. Padahal keutamaannya sangatlah besar.

Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu berkata, “Siapa yang sholat (sunnah) 4 rakaat setelah (Sholat) Isya’, maka 4 raka’at tersebut seperti keutamaannya 4 raka'atnya malam Laitul Qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “4 raka’at setelah (shalat) Isya’, sebanding dengan yang semisal 4 raka'at tersebut pada malam Lailatul Qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)

Catatan: Cara mengerjakan sholat sunnah Isya’ ini ada 2. Bisa dilakukan 4 saja sekaligus sehingga sudah termasuk 2 rakaat yang jenis pertama. Atau bisa juga dilakukan 6 rakaat, 2 rakaat jenis pertama, kemudian ditambah 4 rakaat jenis kedua. Allahu a’lam.

Ada satu hal yang penting. Mungkin sebagian kita bingung bagaimana mengerjakan sholat sunnah 4 rakaat sebelum Dzuhur dan 4 rakaat sebelum Ashar karena waktu antara adzan dan iqomah di negeri kita sangatlah singkat. Maka solusinya adalah dengan mengqodho’nya setelah sholat Dzuhur/Ashar. Jadi kalau kita hanya sempat melaksanakan 2 rakaat sebelum Dzuhur/Ashar, maka kita bisa qodho’ sisanya setelah melaksanakan sholat Dzuhur/Ashar. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengqodho’ sholat sunnah Dzuhur pada waktu setelah Ashar.

Jadi itulah pembahasan singkat kita mengenai macam-macam sholat sunnah rawatib. Semoga Allah mudahkan kita mengerjakannya.


Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 4 Jumadil Akhir 1440 Hijriyah/9 Februari 2019 Masehi.

Kenapa Harus Pemahaman Para Sahabat?

Kenapa Harus Pemahaman Para Sahabat?
Kenapa Harus Pemahaman Para Sahabat?
AlQuranPedia.Org – Wajib bagi setiap muslim untuk menjadikan Al-Quran dan Hadits Shahih nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pijakan dan pedoman. Karena keduanya bersumber dari wahyu Allah Tabaraka Wa Ta’ala. Al-Quran sudah ma’ruf bahwasannya ianya adalah firman Allah, kebenarannya bersifat mutlak dan kebenarannya tidak perlu diragukan lagi. Adapun hadits merupakan perkataan, perbuatan dan taqrir dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana itu berasal dari wahyu Allah yang Allah wahyukan kepadanya. Dengan catatan hadits tersebut shahih dan diterima, tidak bisa hadits dho’if (lemah) apalagi hadits maudhu’ (palsu).

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S. An-Najm : 3-4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengabarkan kepada kita di khutbah-khutbah terakhir beliau, bahwasannya beliau meninggalkan dua perkara yang mana kalau kita berpegang kepada keduanya maka kita tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Al-Quran dan Hadits nya

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits shahih lighairihi. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13)


Tetapi untuk memahami Al-Quran dan Hadits kita tidak bisa sembarangan. Keduanya harus dipahami sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Adapun secara istilah disebut dengan manhaj salaf, yakni metode salaf. Salaf artinya para pendahulu kita, tiga generasi emas umat Islam (Para sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in), dan salaf yang terutama adalah para sahabat. Maka dari itu manhaj salaf adalah manhajnya para sahabat. Lalu kenapa harus begitu? Kenapa harus bermanhaj salaf? Kenapa harus bermanhaj dengan manhajnya sahabat? Kenapa harus beragama sesuai dengan pemahaman para sahabat? Simak alasan-alasannya berikut ini.

1. Al-Quran Turun di Tengah-Tengah Para Sahabat

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa para sahabat adalah mereka yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melihat nabi secara langsung dan wafat di atas keislaman. Jadi meskipun ada yang sezaman dengan nabi tetapi tidak pernah melihatnya maka dia tidak dinamakan sahabat nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan semua hal kepada para sahabatnya, baik itu Al-Quran, tafsirnya, tentang ibadah, dan segala sesuatu. Segala ilmu telah diajarkan nabi kepada para sahabat.

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban)

Jadi, para sahabatlah yang paling mengetahui tafsir Al-Quran, maknanya, hadits nabi, dan segala ilmu. Tidak ada yang lebih mengetahui tentang Al-Quran dan Sunnah daripada mereka.

2. Pemahaman Para Sahabat Mendapatkan Rekomendasi Langsung dari Allah dan Rasul-Nya

Para sahabat mendapatkan sertifikasi dan rekomendasi langsung dari nabi. Allah Ta’ala pun memberikan rekomendasi langsung untuk para sahabat.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar. (Q.S. At-Taubah : 100)

Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan dan Kami akan masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. An-Nisaa’ : 115)

Dari Al-‘Irbadh bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah dinasihati oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sebuah nasiat yang amat mendalam, yang menyebabkan air mata kami berlinang dan hati kami bergetar, lalu seorang Sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini sebagai nasihat seseorang yang akan pergi, maka apa pesanmu kepada kami?’ Beliapun bersabda: ‘Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan patuh (kepada pimpinan) ,meskipun ia seorang budak dari Habasyah (Ethiopia), karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahkau akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ (pengikutku) yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu padanya dan gigitlah dengan geraham-geraham (mu), dan jauhilah hal-hal yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Majah dan Syaikh Al-Albani.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.” (HR. Tirmidzi, no. 2565, Al-Hakim, Ibnu Wadhdhah, dan lainnya; dari Abdullah bin’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Nash-hul Ummah, hlm. 24)

Maka dari itu tidak diragukan lagi bahwa mengikuti cara beragama (manhaj) para sahabat adalah suatu kebenaran, wajib diikuti dan diamalkan.

3. Para Sahabat Adalah Generasi Terbaik Umat Ini

Banyak hadits yang menyebutkan bahwa para sahabat mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah langsung, mereka adalah sebaik-baik generasi umat Islam, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, seujung kuku dari para sahabat pun kita tidak dapat menyamainya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan lainnya)


4. Banyaknya Firqoh/Golongan yang Sesat Dikarenakan Tidak Mengikuti Pemahaman Para Sahabat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa umat Islam terpecah belah menjadi 73 firqoh/golongan, dan hanya 1 yang selamat. Semua firqoh sesat itu beragama Islam, mereka mengimani Al-Quran dan Hadits, hanya satu saja yang membuat mereka tersesat. Yakni pemahamannya. Contohnya seperti kaum Khawarij. Mereka rajin ibadah, rajin baca Al-Quran, rajin mengikuti sunnah-sunnah nabi, akan tetapi mereka mengkafirkan pemerintah dikarenakan salah memahami firman Allah “Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, maka dia kafir”. Mereka pun menghalalkan darah pemerintah dan siapa saja yang bersama pemerintah. Itulah yang kita kenal dengan para teroris. Mereka tidak memahaminya sebagaimana yang dipahami para sahabat. Maka dari itu mereka tersesat sejauh-jauhnya. Betullah firman Allah:

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. An-Nisaa’ : 115)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata kepada kaum khawarij, “Aku datang kepada kamu dari sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan dari anak paman Nabi dan menantu Beliau (yakni Ali bin Abi Thalib). Al-Quran turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan diantara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi. (HR. Abdurrazaq di dalam Al-Mushonnaf, no. 18678, dan lain-lain. Lihat Limadza, hlm. 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf, hlm. 95-100. Keduanya karya Syaikh Salim Al Hilali)

Begitu pula firqoh sesat yang lain seperti Qadariyah, Murji’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, Asy‘ariyah, Maturidiyah, dan lain sebagainya. Ada yang salah memahami takdir, ada yang salah memahami iman, ada yang salah memahami aqidah terhadap Allah, ada yang salah memahami ayat, ada yang salah memahami asma dan sifat Allah, dan lain sebagainya. Itu dikarenakan apa? Karena tidak memahaminya sesuai dengan yang dipahami para sahabat. Maka dari itu Rasulullah berpesan bahwa solusi dari perpecahan umat adalah “berpegang teguh kepada sunnahnya dan sunnah para sahabatnya”.

5. Semua Nama Firqoh Sesat Tidak Terdapat di Dalam Al-Quran dan Hadits

Semua nama firqoh sesat tidak memiliki dalil dari Al-Quran dan Hadits, seperti Qodariyah, Jabariyah, Mu’tazilah. Tidak pernah kita mendengar Rasulullah mengatakan bahwa dirinya adalah Qodariyah, Jabariyah, Murji’ah, bahkan Syi’ah. Akan tetapi Rasulullah menyebut dirinya sebagai “salaf”. Maka pengikutnya dinamakan sebagai salafi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anaknya, Fathimah, ”Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim [2450/98])

6. Para Ulama Sepakat Wajibnya Bermanhaj Salaf, Beragama Dengan Mengikuti Pemahaman Para Sahabat

1. Abul ‘Aliyah rahimahullah

Beliau berkata, "Pelajarilah Islam! Jika engkau mempelajarinya, janganlah kamu membencinya. Hendaklah engkau meniti shirathal mustaqim (jalan yang lurus), yaitu Islam. Janganlah engkau belokkan Islam ke kanan atau ke kiri. Dan hendaklah engkau mengikuti Sunnah Nabimu dan yang dilakukan oleh para sahabatnya. Dan jauhilah hawa nafsu-hawa nafsu ini (yakni bid’ah-bid’ah) yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antar manusia." (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 34, no. 5)

2. Muhammad bin Sirin rahimahullah

Beliau berkata, "Orang-orang dahulu mengatakan, sesungguhnya mereka (berada) di atas jalan (yang lurus) selama mereka meniti atsar (riwayat Salafush Shalih)." (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 36).

3. Imam Al-Auza’i rahimahullah

Beliau berkata, “Sabarkanlah dirimu (berada) di atas Sunnah. Berhentilah di tempat orang-orang itu (Ahlus Sunnah, Salafush Shalih) berhenti. Katakanlah apa yang mereka katakan. Diamlah apa yang mereka diam. Dan tempuhlah jalan Salaf (para pendahulu)mu yang shalih, karena sesungguhnya akan melonggarkanmu apa yang telah melonggarkan mereka.” (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56; Al Ajuri di dalam Asy Syari’ah, hlm. 58; Limadza, hlm. 104)

Dalam membantah bid’ah, Imam Al Auza’i rahimahullah juga menyatakan, “Seandainya bid’ah ini baik, pasti tidak dikhususkan kepada engkau tanpa (didahului) orang-orang sebelummu. Karena sesungguhnya, tidaklah ada kebaikan apapun yang disimpan untukmu karena keutamaan yang ada pada kamu tanpa (keutamaan) mereka (Salafus Shalih). Karena mereka adalah sahabat-sahabat NabiNya, yang Allah telah memilih mereka. Dia mengutus NabiNya di kalangan mereka. Dan Dia mensifati mereka dengan firmanNya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. [Al Fath: 29]” (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 56-57)

4. Imam Abu Hanifah rahimahullah

Beliau berkata, "Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki diantara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka." (Riwayat Ibnu Ma’in dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim)

5. Imam Malik bin Anas rahimahullah

Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik rahimahullah berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat. (I’lamul Muwaqqi’in (2/388), karya Ibnul Qoyyim)

6. Imam Syafi’i rahimahullah

Beliau berkata, “Selama ada Al-Kitab dan As-Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka." (Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36 dan Manhaj Imam Asy Syafi’i Fi Itsbatil Aqidah (1/129), karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil)

7. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah

Beliau berkata, "Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah n berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah. Dan seluruh bid’ah merupakan kesesatan …" (Riwayat Al Lalikai; Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 57-58).

Jadi demikianlah pembahasan kita mengenai wajibnya kita bermanhaj salaf, menjadi salafiyyin, yakni menjadi pengikutnya Rasulullah dan para sahabat, beragama dengan pemahamannya para sahabatnya. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan menjadi petunjuk bagi kita semua.


Semoga bermanfaat.

Diselesaikan pada 14 Shafar 1440 Hijriyah/24 Oktober 2018 Masehi.

Matahari dan Bulan Kelak Akan Masuk Neraka?

Matahari dan Bulan Masuk Neraka?
Matahari dan Bulan Masuk Neraka?
AlQuranPedia.Org – Matahari dan bulan adalah di antara ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang besar. Keduanya merupakan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Bahkan di dalam Al-Quran khusus dijadikan nama surat, yaitu Surat Asy-Syams (Matahari) dan Surat Al-Qamar (Bulan). Penyebutan keduanya pun sangatlah banyak di Al-Quran, terutama ketika membahas mengenai penciptaan, kejadian hari kiamat, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. (Q.S. Fushshilat : 37)


Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia coba membahas mengenai benarkah pada hari kiamat kelak matahari dan bulan dimasukkan ke dalam neraka ataukah tidak. Mari kita simak penjelasannya di bawah ini.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Matahari dan rembulan keduanya bangkit terlilit dalam neraka pada hari kiamat.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar  (1/66-67) dia menyatakan: “Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Khuzaimah: “Telah bercerita kepadaku Ma’li Ibnul Asad Al-Ammi: “Telah bercerita kepadaku Abdul 'Aziz bin Al-Mukhtar, dari 'Abdullah Ad-Danaj yang menuturkan:

“Aku menyertai Abu Salamah bin ‘Abdurrahman duduk di masjid pada masa Khalid bin ‘Abdullah bin Khalid bin Usaid. Dia menceritakan: “Lalu datang Hasan, kemudian dia duduk menghampiri Abu Hurairah, lalu keduanya bercakap-cakap. “Selanjutnya Abu Salamah mengatakan, “Telah bercerita kapadaku Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: (lalu dia menyebutkan hadits ini). Al-Hasan bertanya, “Apakah dosa keduanya?” Abu Hurairah berkata, “Aku hanya menceritakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Al-Hasan kemudian diam.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Ba’ts Wan-Nahyur. Demikian pula Al-Bazzar, Ismail dan Al-Khathabi, semua dari jalur Yunus bin Muhammad yang memberitahukan: “Telah bercerita kepadaku Abdul 'Aziz bin Al-Mukhtar.”

Saya menilai: Hadits ini shahih sanadnya sesuai dengan syarat Bukhari. Dia juga mengeluarkan dalam kitab Shahih-nya secara ringkas. Kemudian mengatakan (2/304-305): “Telah bercerita kepadaku Musaddad, dia menuturkan: “Abdulaziz bin Al-Mukhtar telah bercerita kepadaku dengan lafazh:

Matahari dan bulan keduanya dililit (api) pada hari kiamat.

Menurut Al-Bukhari kisah Abi Salamah dan Al-Hasan tidak ada, padahal sebenarnya merupakan kisah shahih. Sedangkan bagi Khathib At-Tirbizi ada kesangsian mengenai sanad dan kisah ini, sekiranya hadits itu adalah sekedar berupa periwayatan hadits oleh Al-Hasan dari Abu Hurairah atau merupakan tanya jawab antara mereka berdua. Dalam hal ini saya telah memperingatkannya dalam catatan saya tentang kitab Khathib At-Tibrizi Miskayatul Mashabih (nomor: 5692).


Hadits ini juga mempunyai syahid (hadits pendukung). Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (2103) menuturkan: “Telah bercerita kepadaku Ad-Durust, dari Yazid bin Aban Ar-Ruqasyi, dari Anas, ia menyadarkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan lafazh:

Sesungguhnya matahari dan rembulan keduanya bangkit terluka di neraka.”

Hadits ini dari arah Ar-Ruqasyi, lemah sanadnya, sebab dia dinilai dha’if, seperti juga Durust, tetapi Durust ada yang mengikutinya. Dan dari jalan inilah Ath-Thahawi mengluarkan hadits tersebut. Juga Abu Ya’la (3/17/10), Ibnu Addi (2/129), Abusy-syaikh dalam Al-Adhamah sepetti juga di dalam Allali Al-Mashnu’ah (1/82) dan Ibnu Mardawaih sebagaimana disebutkan dalam Al-Jami Ash-Shaghir dimana menambahkan:

“Jika mau Dia akan mengeluarkan keduanya dan jika mau Dia akan membiarkan keduanya.”

Adapun hadits yang mengikuti (matabi’)  sebagaimana telah disyaratkan di atas, Abu Asy-Syaikh mengatakan: “Telah berkata kepadaku Abu Ma’syur Ad-Darimi yang memberitahukan: “Telah bercerita kepadaku Hudbah, dia mengatakan: “Telah bercerita kepadaku Hammad bin Salamah, dari Yazid Ar-Raqasyi.”

As-Suyuthi berkomentar: “Ini adalah matabi’ (hadits yang mengikuti) yang nyata”, yaitu seperti yang sudah dikatakan. Dan para perawinya adalah tsiqah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Araq dalam Tanzihusy-Syari’ah  (1/190 cet. 1), yang dimaksud adalah selain Ar-Raqasyi, sebab dia memang lemah (dha’if) seperti telah saya ketahui. Akan tetapi tidak terlalu lemah, sehingga bisa juga dijadikan sebagai hadits pendukung. Oleh karena itu, Ibnul Al-Jauzy menilai buruk memasukkan haditsnya di dalam Al-Mashmu’at, karena ia bertentangan. Al-Jauzy memasukkan hadits tersebut dalam Al-Wahiyat, hadits-hadits yang lemah tetapi tidak maudhu’. Namun semua itu pada dasarnya merupakan kelalaiannya terhadap hadits Abu Hurairah, padahal sebenarnya hadits ini adalah shahih. Wallahu a’lam.

Makna Hadits

Yang dimaksudkan hadits ini bukan seperti yang disinggung oleh Al-Hasan Al-Bashri bahwa matahari dan rembulan itu ada di neraka dimana keduanya disiksa di sana. Ingat! Sesungguhnya Allah tidak menyiksa makhluk yang telah mentaati-Nya. Termasuk matahari dan rembulan, seperti yang telah disyariatkan dalam firman Allah Ta'ala:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya.” (QS. Al-Hajj : 18)

Dalam ayat itu Allah Ta'ala memberitahukan bahwa yang berhak menerima adzab dari-Nya adalah selain makhluk yang bersujud kepada-Nya di dunia, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ath-Thahawi. Oleh karena itu, mengenai matahari dan rembulan dilemparkan ke dalam neraka ada dua kemungkinan:

Pertama: Bisa jadi keduanya merupakan bahan bakar neraka. Dalam hal ini Al-Isma’ili menyinggung:

“Tidak semestinya matahari dan bulan di dalam neraka menjalani siksa. Karena sesungguhnya di dalam neraka juga ada malaikat, batu dan lain-lainnya yang berfungsi untuk menyiksa penghuni neraka dan sebagai alat-alat penyiksaan. Dan atas kehendak Allah, meskipun ada di neraka, mereka tidak merasa tersiksa.”

Kedua: Keduanya di neraka adalah untuk menghajar orang-orang yang membantahnya. Al-Khathabi berkata:

“Keberadaannya di neraka bukanlah karena disiksa. Akan tetapi hendak menghajar orang-orang yang dahulu menyembahnya ketika di dunia, agar mereka mengetahui bahwa penyebahan mereka pada keduanya adalah batil, tidak benar.”

Saya menilai: Penafsiran di atas lebih dekat kepada lafazh hadits apalagi didukung oleh hadits Anas menurut Abi Ya’la, seperti yang terdapat dalam Al-Fath (6/214) yakni: “Orang-orang yang dahulu meyembahnya.” Namun saya tidak melihat ini dalam Musnadnya. Wallahu a’lam.



Semoga bermanfaat.


Diselesaikan pada 12 Shafar 1440 Hijriyah/21 Oktober 2018 Masehi.

Inilah Pekerjaan Para Nabi Allah

Inilah Pekerjaan Para Nabi Allah
Inilah Pekerjaan Para Nabi Allah
AlQuranPedia.Org – Bekerja wajib bagi para pria. Tidak boleh bagi para ayah/suami bermalas-malasan dalam mencari nafkah.

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. (Q.S. Al-Baqarah : 233)

Pada ayat lain Allah berfirman,

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Q.S. Ath-Thalaaq : 7)


Nasehat dari Al-Ustadz Nuruddin Bukhori hafidzhahullah, “silahkan cari harta sebanyak-banyaknya, karena dengan harta itu juga kita dapat beribadah dengan maksimal seperti bersedekah, zakat, berinfak, haji dan lain sebagainya. Silahkan cari harta sebanyak-banyaknya, tetapi jangan sampai melalaikan kita dari ibadah.”

Jadi wajib bagi pria untuk bekerja, bekerja itu bebas yang penting halal. Tidak boleh bermalas-malasan apalagi meminta-meminta. Na’udzubillah

“Jikalau seorang di antara kalian mengambil seutas tali kemudian pergi ke gunung kemudian dia pulang dengan membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya kemudian menjualnya, yang dengan itu Allah menjaga wajahnya (kehormatan/harga dirinya), niscaya itu lebih baik baginya dari pada dia meminta-minta kepada sesama manusia, apakah mereka memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari)

Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia akan membahas mengenai pekerjaan para Nabi Allah. Para Nabi saja yang sudah dijamin surganya, dijamin kehidupannya dunia dan akhirat, tetapi mereka tetap bekerja mencari nafkah. Bagaimana dengan kita? Nabi bukan, rasul bukan, surga belum dijamin.

Ada beberapa riwayat dan hadits yang menyebutkan tentang pekerjaan para nabi Allah.

“Tidaklah seseorang itu memakan makanan yang lebih baik dari pada memakan makanan dari usahanya tangannya. Sesungguhnya nabi Allah Dawud ‘alaihissalam memakan dari hasil usaha tangannya.” (HR. Bukhari)


“Bahwasanya Nabi Dawud 'alaihissalam adalah seorang pandai besi (pembuat baju besi), Nabi Adam 'alaihissalam adalah seorang petani, Nabi Nuh 'alaihissalam adalah seorang tukang kayu, Nabi Idris 'alaihissalam adalah seorang penjahit (penenun) dan Nabi Musa 'alaihissalam adalah seorang penggembala.” (HR. Hakim, hadits shahih lihat Ghayatul Maram (163/1), halaman 288)

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Nabi Adam ‘alaihissalam menjadi petani, nabi Nuh ‘alaihissalam menjadi tukang kayu, nabi Idris ‘alaihissalam menjadi penjahit, nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan nabi Luth ‘alaihis salam menjadi petani, nabi Shalih ‘alaihissalam menjadi pedagang, nabi Dawud ‘alaihissalam menjadi pandai besi, nabi Musa ‘alaihissalam, nabi Syua’ib ‘alaihissalam dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penggembala.” Para sahabat Rasulullah pun juga berdagang di daratan maupun lautan, menggarap tanah dan lain sebagainya. (Minhajul Qashidin, karya Ibnu Qudamah hal.101)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zakariyya 'alaihissalam dulu adalah seorang tukang kayu”. (HR. Muslim no. 2379)

Bahkan semua nabi itu adalah penggembala kambing.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya,”Dan engkau sendiri?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, aku juga dulu menggembalakan (kambing-kambing) milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari no. 2143)

Jadi pekerjaan para nabi adalah sebagai berikut:

1. Nabi Adam petani
2. Nabi Idris penjahit
3. Nabi Nuh tukang kayu
4. Nabi Shalih pedagang
5. Nabi Ibrahim petani
6. Nabi Luth petani
7. Nabi Syu'aib penggembala kambing
8. Nabi Musa penggembala kambing
9. Nabi Dawud pandai besi
10. Zakariyya tukang kayu
11. Nabi Muhammad penggembala kambing

Itulah pembahasan singkat kita mengenai pekerjaan para nabi Allah. Semoga tulisan ini menambah pengetahuan dan wawasan kita.


Semoga bermanfaat.


Diselesaikan pada 28 Muharram 1440 Hijriyah/8 Oktober 2018 Masehi.

Biografi Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Biografi Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Biografi Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
AlQuranPedia.Org - Beliau adalah Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal atau biasa kita kenal Ustadz Abduh Tuasikal. Beliau memiliki website yang sangat populer yang sepertinya tidak asing lagi di telinga kita, yakni Rumaysho.Com. Website yang kaya akan ilmu, penuh hujjah dan memiliki banyak manfaat. Website tersebut diambil dari nama anak pertama beliau yaitu Rumaysho Tuasikal. Beliau merupakan salah satu da'i salafi yang aktif dalam mengajar dan menulis. Beliau adalah pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang Gunung Kidul, Yogyakarta. Beliau juga sempat beberapa kali mengadakan Tabligh Akbar bersama asatidzah lainnya seperti bersama Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA hafidzhahumallah.

Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia akan membahas mengenai biografi dari Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzhahullah. Biografi beliau kami kutip langsung dari website beliau Rumaysho.Com dengan beberapa perubahan dan tambahan.


Profil Singkat

Nama beliau adalah Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. Beliau lahir di Ambon, 24 Januari 1984 dari pasangan Usman Tuasikal, S.E. dan Zainab Talaohu, S.H. Beliau berdarah Ambon, namun pendidikan SD sampai SMA diselesaikannya di kota Jayapura, Papua (dulu Irian Jaya).

Saat ini, beliau tinggal bersama istri tercinta (Rini Rahmawati) dan tiga anak, yaitu Rumaysho Tuasikal (putri), Ruwaifi’ Tuasikal (putra), dan Ruqoyyah Tuasikal (putri) di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunung Kidul, D. I. Yogyakarta.

Pendidikan

Beliau tidak memiliki latar belakang pendidikan agama; pendidikan SD sampai SMA beliau tempuh di jenjang pendidikan umum. Saat kuliah di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (2002-2007), barulah beliau merasakan indahnya ajaran Islam dan nikmatnya menuntut ilmu agama, berawal dari belajar bahasa Arab, khususnya ilmu nahwu. Saat kuliah di Kampus Biru tersebut, beliau sekaligus belajar di pesantren mahasiswa yang bernama Ma’had Al-‘Imi (di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari) tahun 2004-2006, dengan pengajar dari Ponpes Jamillurrahman dan Islamic Center Bin Baz. Waktu belajar kala itu adalah sore hari selepas pulang kuliah. Selain belajar di pesantren mahasiswa tersebut, beliau juga belajar secara khusus dengan Ustadz Abu Isa. Yang lebih lama, beliau belajar secara khusus pada Ustadz Aris Munandar, M.P.I. selama kurang-lebih enam tahun dengan mempelajari ilmu ushul dan kitab karangan Ibnu Taimiyyah serta Ibnul Qayyim.

Pada tahun 2010, beliau bertolak menuju Kerajaan Saudi Arabia – tepatnya di kota Riyadh – untuk melanjutkan studi S-2 Teknik Kimia di Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University). Konsentrasi yang beliau ambil adalah Polymer Engineering. Pendidikan S-2 tersebut selesai pada Januari 2013 dan beliau kembali ke tanah air pada awal Maret 2013. Saat kuliah itulah, beliau belajar dari banyak ulama, terutama empat ulama yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu beliau, yaitu Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan (anggota Al-Lajnah Ad-Da’imah dan ulama senior di Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri (anggota Haiah Kibaril ‘Ulama pada masa silam dan pengajar di Jami’ah Malik Su’ud), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi (ulama yang terkenal memiliki banyak sanad dan banyak guru), dan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak (anggota Haiah Tadris Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud terdahulu).

Ulama lainnya yang pernah beliau gali ilmunya adalah Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdullah Al-Jabiri, Syaikh Dr. ‘Abdus Salam bin Muhammad Asy-Syuwai’ir, Syaikh Dr. Hamd bin ‘Abdul Muhsin At-Tuwaijiri, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia), Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid (penasihat kerajaan dan anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (anggota Haiah Kibaril Ulama’), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi (profesor di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud), Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As-Sulmi, Syaikh Khalid As-Sabt, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan, Syaikh ‘Abdul Karim Khudair, Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Ajlan (pengisi di Masjidil Haram Mekkah), dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi (seorang ulama muda).

Beliau pernah memperoleh sanad dua puluh kitab – mayoritas adalah kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab – yang bersambung langsung sampai penulis kitab melalui guru beliau, Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi. Sanad tersebut diperoleh dari Daurah Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama delapan hari di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H.

Menulis artikel di berbagai situs internet dan menyusun buku Islam adalah aktivitas keseharian beliau semenjak lulus dari bangku kuliah S-1 di UGM, tepatnya setelah memiliki istri. Dengan kapabilitas ilmiah, beliau dipercaya untuk menjadi Pemimpin Redaksi Muslim.Or.Id. Beliau menunangkan kegemaran menulisnya dalam situs pribadi, Rumaysho.Com. Karya-karya tulis beliau yang bertema keislaman dapat dilihat di dua situs tersebut, serta di situs PengusahaMuslim.Com, RemajaIslam.Com, dan KonsultasiSyariah.Com.

Di tengah padatnya aktivitas menulis, beliau meluangkan waktu untuk mengisi beberapa pengajian-Islam rutin di kota Yogyakarta dan Wonosari (Gunung Kidul). Dalam beberapa kesempatan, beliau juga mengisi pengajian-Islam di luar kota. Rekaman kajian tersebut dapat diperoleh dalam bentuk audio di Kajian.Net dan dalam bentuk visual di Yufid.TV.

Tugas yang begitu penting yang beliau emban saat ini adalah menjadi Pemimpin Pesantren Darush Shalihin di Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Pesantren tersebut adalah pesantren masyarakat, yang mengasuh TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan kajian keagamaan. Selain itu, beliau juga menjadi pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI). Di sisi lain, beliau juga mengelola bisnis di toko online Ruwaifi.Com dan BukuMuslim.Co serta sedang merintis situs pelajaran kimia, Kimiaku.Com.


Sanad Kitab

Ustadz Abduh Tuasikal memiliki ijazah sanad kitab yang sampai langsung kepada beliau melalui Syaikh Shalih bin ‘Abdullah Al-‘Ushaimi

1. Ta’zhimul ‘Ilmi (Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi)
2. Tsalatsatul Ushul (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
3. Manzhumah Al Qowa’id Al Fiqhiyyah (Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di)
4. Al Qowa’idul Arba’ (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
5. Al Arba’in An Nawawiyah (Imam Yahya bin Syarf An Nawawi)
6. Al ‘Aqidah Al Wasithiyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
7. Kitab At Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
8. Kasyfu Syubuhat (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
9. Fadhlul Islam (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
10. Muqoddimah fii Ushulit Tafsir (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
11. Al Muqoddimah Al Fiqhiyyah Ash Shugro (Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi)
12. Al Muqoddimah Al Ajurromiyah (Muhammad bin Muhammad bin Ajurrom Ash Shinhaji)
13. Nukhbatul Fikar (Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al ‘Asqolani)
14. Al Waroqot fii Ushulil Fiqh (‘Abdul Malik bin ‘Abdullah bin Yusuf Al Juwainiy)
15. Tafsir Al Fatihah wa Qhishorul Mufasshol (Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi)
16. Az Ziyadah Ar Rojabiyah ‘ala Al Arba’in An Nawawiyah (Ibnu Rajab Al Hambali)
17. Khulashoh Muqoddimah Ushul At Tafsir (Syaikh Sholih bin ‘Abdullah bin Hamad Al ‘Ushoimi)
18. Nazhom Al Ajurumiyah (Muhammad bin Abb bin Humaid Al Muzzammiriy)
19. Ar Rutbah Nazhom An Nukhbah (Muhammad bin Muhammad bin Hasan Asy Syumunniy)
20. Minahul Fa’al fii Nazhom Waroqot Abil Ma’al (Muhammad bin Al Mukhtar bin Ahmad Al Kuntiy)
Sanad di atas diperoleh Ustadz Abduh dari Dauroh Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi selama 8 hari di Masjid Nabawi Madinah Nabawiyah, 5-12 Rabi’ul Awwal 1434 H.

Karya-Karya Ustadz Abduh Tuasikal

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzhahullah memiliki banyak karya dan tulisan. Di antaranya adalah sebagai berikut dan -insya Allah- terus bertambah:

1. Bagaimana Cara Beragama yang Benar? (Terjemahan Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyyah), terbitan Pustaka Muslim, tahun 2008.
2. Panduan Ramadhan, terbitan Pustaka Muslim, hingga cetakan ketujuh, tahun 2015.
3. Dzikir Pagi Petang (Disertai Dzikir sesudah Shalat dan Dzikir sebelum Tidur), terbitan Pustaka Muslim (ukuran besar dan kecil), hingga cetakan ketiga tahun 2014.
4. Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris, terbitan Pustaka Muslim, hingga cetakan kedua di tahun 2013.
5. Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2013.
6. Kenapa Masih Enggan Shalat, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
7. Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (Serial 1 – Panduan Fikih Muamalah), terbitan Pustakan Muslim, tahun 2014.
8. 10 Pelebur Dosa, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
9. Panduan Zakat, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
10. Panduan Qurban dan Aqiqah, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
11. Mengenal Bid’ah Lebih Dekat, terbitan Pustaka Muslim, hingga cetakan kedua tahun 2014.
12. Natal, Hari Raya Siapa?, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
13. Kesetiaan pada Non-Muslim, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2014.
14. Imunisasi, Lumpuhkan Generasi (bersama tim), terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.
15. Pesugihan Biar Kaya Mendadak, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.
16. Dzikir Pagi Petang (Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Dzikir Terkait dengan Tidur, Disertai Petunjuk dalam Dzikir dan Faedah dari Dzikir yang Dibaca), terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.
17. Sifat Shalat Nabi, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.
18. Dzikir Pagi Petang Edisi Transliterasi (Dilengkapi Dzikir Sesudah Shalat dan Dzikir Terkait dengan Tidur, Disertai Petunjuk dalam Dzikir dan Faedah dari Dzikir yang Dibaca), terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.
19. Panduan Ibadah Saat Safar, terbitan Pustaka Muslim, tahun 2015.

Kontak dan Media Sosial Ustadz Abduh Tuasikal

1. Konsultasi SMS: 0823 139 50500
2. Telepon dan WhatsApp (WA): 0812 2601 4555
3. Email: rumaysho@gmail.com
4. Situs pribadi: Rumaysho.Com (Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat)
5. Facebook (FB): Muhammad Abduh Tuasikal
6. Facebook Fans Page: Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat
7. Twitter: @RumayshoCom
8. Instagram: @RumayshoCom, @RumayshoTV, @MuslimMyWay, @RuwaifiCom
9. Instagram pribadi Ustadz Abduh : @mabduhtuasikal

Sumber dikutip dari website Rumaysho dan lainnya

Itulah biografi singkat dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzhahullah. Semoga Allah Ta'ala menjaga beliau, membalas kebaikan-kebaikan beliau, dan memberi beliau keistiqomahan. Semoga Allah juga menjaga dan merahmati para ulama dan da'i-da’i kita semuanya.


Semoga bermanfaat.


Diselesaikan pada 29 Muharram 1440 Hijriyah/9 Oktober 2018 Masehi.

Matahari Pernah Berhenti di Zaman Nabi Ini

Matahari Pernah Berhenti di Zaman Nabi Ini
Matahari Pernah Berhenti di Zaman Nabi Ini
AlQuranPedia.Org – Bukan hanya bumi saja yang bergerak, ternyata matahari juga bergerak. Tetapi pergerakannya wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu bagaimana bergeraknya. Hal ini disebutkan di dalam ayat Al-Quran dan hadits yang shahih. Kalau di dalam Al-Quran disebutkan pada ayat berikut.

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 33)


Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S. Yaasiin : 40)

Adapun di dalam hadits yakni sebagai berikut.

Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu 'anhu bahwa pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah 'Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi itu adalah dalil yang menunjukkan bahwa matahari juga bergerak. Bahkan para ilmuwan astronom juga telah memberikan penjelasan bahwa matahari juga bergerak, bukan hanya bumi dan bulan saja. Adapun pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang mengenai matahari yang pernah berhenti bergerak. Mungkin orang terheran-heran mendengarnya, lantas apakah hal tersebut benar? Tentu saja benar. Karena hal ini disampaikan oleh Shodiqul Mashduq, orang yang dijamin kebenaran dan kejujurannya, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana beliau menerima informasi ini dari Allah Al-Haq, Allah Yang Maha Benar dan tidak mungkin salah.


Jadi matahari itu pernah berhenti di zaman Nabiyullah Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam. Bagaimana kisahnya? Disebutkan di dalam Kitab Shahihain, yakni Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ketika Nabi Yusya’ 'alaihissalam hendak melakukan jihad melawan kaum kafir yang menguasai Baitul Maqdis, maka ia memberikan nasihat kepada semua pasukannya. Kemudian beliau pun melakukan perjalanan dalam memerangi kaum kafir. Ketika beliau melihat perang belum usai, sedang matahari hampir tenggelam, maka ia pun memohon kepada Allah agar matahari ditahan. Akhirnya, Allah 'Azza Wa Jalla menahan matahari sampai Nabi Yusya’ menyelesaikan perang dan mengalahkan kaum kafir.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Nabi Yusya’ di hari beliau melakukan perjalanan menuju Baitul Maqdis”. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/325). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 202)

Jadi matahari hanya pernah berhenti di zaman itu saja, matahari tidak akan pernah berhenti sebelum dan setelah zaman nabi Yusya’. Adapun menjelang Kiamat nanti, matahari yang biasanya terbit dari timur maka kelak akan akan terbit dari barat. Saat itulah tidak ada lagi berguna taubat seorang hamba. Tiada lagi berguna permohonan ampun dan permintaan maaf. Pintu taubat sudah ditutup.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan tetap diterima hingga matahari terbit dari barat. Jika ia telah terbit (dari barat), maka dikuncilah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya dan dicukupkan bagi manusia amal yang telah dilakukannya." (HR. Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan sanadnya shahih. Imam Ibnu Katsir mengatakan sanadnya jayyid lagi kuat)

Pada hadits lainnya,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kejelekan pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kejelekan pada malam hari hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)

Itulah pembahasan singkat kita mengenai matahari yang pernah terhenti pada zaman nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam. Semoga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan agama kita.


Semoga bermanfaat.


Diselesaikan pada 20 Muharram 1440 Hijriyah/30 September 2018 Masehi.

Bolehkah Membantu Orang Kafir?

Bolehkah Membantu Orang Kafir?
Bolehkah Membantu Orang Kafir?
AlQuranPedia.Org – Orang kafir adalah orang yang diancam Allah ‘Azza Wa Jalla dengan neraka-Nya. Mereka kufur terhadap Allah, mengadakan tandingan bagi Allah dan tidak menyembah-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Q.S. Al-Bayyinah : 6)

Pada ayat lain Allah berfirman.

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. Al-Mulk : 6)


Kaum muslimin juga diperintahkan agar berlepas diri dari orang-orang kafir.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S. Al-Mumtahanah : 1)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang membicarakan bahwa orang kafir tempatnya di neraka dan  kita harus berlepas diri dari orang kafir. Lalu bagaimana hukumnya membantu mereka?

Para ‘ulama telah memberikan penjelasan. Hukum membantu orang kafir terbagi 2:

PERTAMA, Kalau itu berhubungan dengan aqidah, keagamaan, dan ibadah, maka kita diharamkan membantu mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-Maa’idah : 2)

Contohnya adalah orang Nasrani merayakan Natal dan meminta kita untuk membantu mereka. Nah hal tersebut diharamkan karena membantu mereka termasuk bentuk tolong menolong dalam hal dosa dan pelanggaran. Seperti yang kita ketahui bahwa selamanya Allah tidak akan ridho terhadap perayaan-perayaan orang kafir. Sehingga ketika kita membantu mereka itu sama saja membantu agar Allah murka. Ini jelas kekufuran dan diharamkan.


KEDUA, Adapun kalau itu merupakan urusan muamalah, bersifat keduniaan, maka ini diperbolehkan. Contohnya adalah membantu mereka ketika mereka kesulitan, memberi hadiah kepada mereka, berbuat adil kepada mereka, ini tidak masalah.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al-Mumtahanah : 8)

Bahkan kalau kita punya tetangga Yahudi, Nasrani, ataupun orang kafir lainnya, maka kita perlakukan mereka dengan baik. Misalnya kalau kita memasak sesuatu maka berbagilah kepada mereka.

Diceritakan oleh Imam Mujahid, “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata,

ياَ غُلاَمُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِي

”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.”

Lalu ada salah seorang yang berkata,

آليَهُوْدِي أَصْلَحَكَ اللهُ؟!

“(kenapa engkau memberikannya) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisimu.”

‘Abdullah bin ’Amru lalu berkata,

إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشَيْنَا أَوْ رُؤِيْنَا أَنَّهُ سَيُوّرِّثُهُ

‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.” (Al-Irwa’ Al-Ghalil no. 891)

Bahkan dengan sikap ramah kita kepada mereka, berbuat baik kepada mereka, selama itu bukan urusan agama dan ibadah, maka itu bisa menimbulkan ketertarikan mereka agar masuk ke dalam agama Islam. Inilah keindahan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Jadi itulah hukum seputar membantu orang kafir. Semoga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan agama kita.


Semoga bermanfaat.


Diselesaikan pada 20 Muharram 1440 Hijriyah/30 September 2018 Masehi.

4 Dalil Nabi Muhammad Telah Meninggal

4 Dalil Nabi Muhammad Telah Meninggal
4 Dalil Nabi Muhammad Telah Meninggal
AlQuranPedia.Org – Di sebagian kaum muslimin tersebar kepercayaan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan belum meninggal. Jadi ketika ada acara atau ritual tertentu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir dan ikut serta pada acara tersebut. Contohnya adalah perayaan Maulid Nabi. Sebagian orang bahkan sebagian “da’i” mengatakan bahwa nabi hadir pada acara Maulid dan ikut serta merayakannya. Benarkah hal ini?

Kami katakan, hal ini adalah batil dan kedustaan yang nyata. Mereka telah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah dosa besar, berdusta atas nama Rasulullah.

Dari Al-Mughirah radhiyallahu 'anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)


Kemudian, maulid nabi adalah perayaan yang tidak pernah dikerjakan Nabi, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, imam madzab yang 4 dan juga ulama-ulama setelahnya. Ini adalah perbuatan yang mengada-ada dalam beragama. Mengadakannya adalah dosa dan diancam Rasulullah dengan neraka.

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Kalaupun Rasulullah hidup, mana mungkin Rasulullah menghadiri acara tersebut yang tidak sesuai dengan ajaran dan sunnahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian, ada banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat. Tetapi pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia hanya akan memberikan 4 dalil saja dari ayat Al-Quran. Apa saja dalilnya?

1
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Q.S. Ali ‘Imran : 185)

Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati, termasuklah dia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 34)

Ayat di atas sangat tegas menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun wafat, karena tidak ada manusia yang abadi. Nabi ‘Isa ‘alaihissalam saja kelak akan mati juga. Yang abadi hanya Allah Jalla Dzikruhu saja.


3
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali ‘Imran : 144)

Ayat di atas sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat. Beliau sama seperti para rasul lainnya, manusia biasa yang akan mengalami yang namanya kematian. Ayat di atas juga dibaca Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di hadapan para sahabat di hari wafatnya baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkhutbah di hadapan para sahabat menjelaskan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Ketika beliau membacakan ayat di atas maka lemaslah para sahabat termasuk ‘Umar bin Khattab yang kala itu tidak mempercayai nabi meninggal. Disebutkan dalam riwayat bahwa para sahabat seakan baru mendengar ayat tersebut.

4
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu. (Q.S. Az-Zumar : 30-31)

Ayat di atas juga dibaca oleh Abu Bakar saat berkhutbah pada hari meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat yang tadinya tidak percaya Rasul telah meninggal akhirnya percaya setelah mendengar khutbah dari Abu Bakar. Di antara isi khutbah Abu Bakar adalah sebagai berikut.

"Ketahuilah! Barangsiapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sesungguhnya Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah ‘Azza Wa Jalla , maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Kemudian beliau membaca surat Az-Zumar ayat 30-31 dan Ali 'Imran ayat 144. Maka setelah itu para sahabat menangis terisak-isak. (HR. Bukhari no. 3667 dan 3668)

Jadi jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Dalil-dalil telah jelas menunjukkannya. Jadi beliau tidak mungkin hidup di dunia ini lagi, terlebih lagi hadir di acara-acara yang tidak pernah dicontohkan beliau dan generasi salaf. Sepanjang sejarah saja Rasulullah tidak pernah menjenguk sahabatnya, padahal beliau mencintai mereka dan mereka pun sangat mencintai Rasul. Anaknya sendiri saja yakni Fathimah tidak dijenguk oleh Rasulullah. Lantas bagaimana dengan kita yang kadar keimanan dan amalnya masih sangat jatuh dari para sahabat?

Demi Allah kita semua mencintai Rasulullah, mengagungkan beliau, menghormati beliau. Tetapi caranya juga harus benar, tidak boleh asal-asalan. Ada tata cara yang benar bagaimana mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semua cara itu telah dijelaskan Al-Quran dan Hadits-Hadits dengan sangat jelas. Mencintai beliau bukan dengan cara membuat perayaan-perayaan yang tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ulama-ulama setelahnya. Tetapi mencintai beliau adalah dengan mentaati beliau, mengimani hadits-haditsnya, mengamalkan sunnahnya, melestarikan ajarannya, membaca sirahnya dan bersholawat kepadanya. Itulah cara yang benar. Jasad Rasulullah memang sudah wafat, tetapi beliau akan tetap terkenang di hati kita semua. Dan harapan kita semua adalah dapat berjumpa dengan beliau kelak di surga, sosok yang selama ini kita bersholawat kepadanya dan sosok yang amat teramat kita cintai.


Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat.


Diselesaikan pada 19 Muharram 1440 Hijriyah/29 September 2018 Masehi.

Tanda Kuatnya Tauhid Seseorang

Tanda Kuatnya Tauhid Seseorang
Tanda Kuatnya Tauhid Seseorang
AlQuranPedia.Org – Tauhid adalah hal pertama yang wajib dimiliki setiap mukmin. Tauhid berarti mengesakan Allah semata dan meniadakan seluruh sesembahan selain-Nya. Tauhid adalah jalan menuju ke surga, kunci keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka dari itulah tauhid merupakan hal pertama yang didakwahkan para rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. An-Nahl : 36)


Tauhid adalah syarat utama masuk surga, tanpa tauhid kita tidak akan bisa masuk surga. Maka dari itu selain orang Islam tidak akan bisa masuk surga baik itu Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Buddha dan lain sebagainya. Karena sampai selama-lamanya Allah Ta’ala tidak akan pernah ridho terhadap penyekutuan bagi-Nya. Allah tidak akan pernah meridhoi sesembahan dan sekutu bagi-Nya, meskipun itu kepada malaikat yang mulia, para rasul ataupun para wali. Semakin kuat tauhid seseorang maka semakin taqwa dan semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah. Dengan tauhid yang kuat dan kokoh, seseorang akan khusyu’ dalam beribadah, ridho dengan takdir, zuhud dalam kehidupan, dan hidupnya akan tenang.

Lantas bagaimana caranya agar tauhid kita kuat? Tentu saja dengan mengimani dan mengamalkan ketiga tauhid, yakni tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma Wa Shifat. Salah satunya tidak ada maka tauhidnya tidak akan sempurna. Orang musyrikin Jahiliyah dulu pun bertauhid dengan tauhid rububiyah. Mereka mengimani bahwa Allah Pencipta, Pemelihara, Maha Kuasa. Tetapi mereka mengingkari tauhid Uluhiyyah, yakni tauhid yang meyakini Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq dan mengingkari sesembahan/sekutu selain-Nya. Hal ini disebutkan dalam banyak ayat.

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Az-Zumar : 38)


Lantas apa yang menjadi tanda bahwa tauhid seseorang itu kuat? Tandanya adalah semakin takutnya dia jatuh dalam kesyirikan. Kita bisa lihat bagaimana mereka yang tauhidnya sangat kuat amat takut terjatuh dalam kesyirikan, contohnya adalah para nabi. Dalam hal ini kita akan mengambil contoh nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ibrahim : 35-36)

Lihatlah bagaimana nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat takut terjerumus ke dalam kesyirikan. Beliau berdoa agar dijauhkan dari kesyirikan padahal beliau sudah dijamin surga dan bebas dari neraka. Lantas bagaimana dengan kita yang surganya belum jelas dan belum ada stempel bebas neraka?

Pada ayat lainnya disebutkan bahwa nabi Ibrahim sedang menasehati ayahnya (Azar) agar tidak menyembah berhala dan kembali kepada jalan yang benar. Setelah memberi nasehat dan peringatan, Ibrahim memutuskan untuk menjauhi ayahnya karena takut terjatuh ke dalam perbuatan syirik sebagaimana yang dilakukan ayahnya.

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. (Q.S. Maryam : 48-49)

Itulah contoh bagaimana kuatnya tauhid seseorang. Dia takut terjerumus dalam kesyirikan yang menyebabkan menjauhnya rahmat Allah dari dirinya. Padahal tanpa rahmat dan hidayah dari Allah, kita tidak akan bisa apa-apa, kita sangat lemah dan tidak berdaya sedikitpun. Terlebih lagi perbuatan syirik tidak akan diampuni oleh Allah dan terancam masuk ke dalam neraka-Nya yang mengerikan. Mari kita perkuat aqidah kita, perkuat tauhid kita, disertai dengan memperkuat iman dan manhaj kita.


Semoga tulisan ini bermanfaat.


Diselesaikan pada 19 Muharram 1440 Hijriyah/28 September 2018 Masehi.